
"Sejak awal kamu sudah mengenaliku, kan?" Tania menatapnya dengan marah. "Kamu sengaja mendesak dan mempersulit anak-anak ku kan?"
"Mendesak?" Daniel tertawa dengan dingin, "Sikapku pada mereka sudah cukup baik. Mereka bahkan tidak tahu siapa ayah mereka?" Daniel mengangkat dagu Tania, "Viktor sering berhubungan dengan mereka, kenapa mereka tidak saling mengenal?"
"Apa hubungannya denganmu?" Tania berkata dengan pelan dan mengerutkan alisnya.
"Apa benar anak-anak itu anak Viktor?" Daniel bertanya dengan serius.
"Tentu saja... " Tania menghindari tatapan matanya dan tidak berani melihatnya.
"Asal kamu tahu... " Daniel mengangkat sudut bibirnya dengan senyuman dingin mengancamnya, "Aku bisa kapan saja membuat Viktor dan ketiga anak itu melakukan tes DNA!"
"Kamu.... " Tania panik dan memarahinya, "Apa kamu sudah gila? Siapa ayah dari anak itu, dan apa hubungannya denganmu? Kenapa kamu terus menanyakannya?"
"Tentu saja ada hubungannya... " Bibir tipis Daniel menyapu pipinya yang indah dan berbisik di telinganya, "Bagaimana jika mereka ternyata adalah anak-anakku?"
Tania terkejut, tetapi dia segera membantahnya, "Bagaimana mungkin? Jangan berpikir sembarangan."
"Benarkah?" Daniel mencubit pipinya dan mendorongnya kedalam pelukannya, "Kalau begitu lakukan tes DNA."
"Gila!! Jangan sentuh anakku." Tania marah.
"Sepertinya kamu sudah lupa sumpah yang kamu buat kemarin malam." Daniel mencibirnya, "Tidak peduli seberapa banyak aku mengajarimu, tetap saja kamu tidak tahu cara bertobat, jadi setiap hari aku harus membuatmu untuk mengingatnya..."
Setelaha mengatakan itu, Daniel melepas pakaian petugas kebersihan Tania. Tubuh mungilnya terungkap, seperti tubuh seorang gadis muda lembut dan menarik perhatian orang....
Tania panik, "Daniel, apa yang kamu lakukan? Jangan main-main, orang lain bisa datang kesini kapan saja." Tania gemetar ketakutan dan berbisik, "Aku mohon...."
"Kamu yang memprovokasi ku terlebih dahulu." Daniel melepaskan celana jeans Tania, dan ingin melakukan itu dari belakang.
"Daniel, jangan.... " Tania hampir menangis.
__ADS_1
.......
"Aku akan masuk sendiri saja, Kakek Sanjaya. Tidak apa-apa..."
Saat ini tiba-tiba Carlos datang dari depan. Dan Sanjaya menunggunya di depan pintu.
Tania segera menutup mulutnya, tidak berani mengeluarkan suara.
Mendengar itu, Daniel pun menghentikan tindakannya, mengerutkan kening, dan menunggu Carlos pergi.
Carlos tidak pergi ke toilet pria, tapi dia berteriak di depan pintu toilet wanita: "Mami, Mami.... "
Tania menutup mulutnya dengan erat, memalingkan wajahnya dan dengan tatapan sedih memohon pada Daniel untuk melepaskannya.
Meskipun wajah Daniel dingin dan tatapan matanya dingin, tapi akhirnya ia melepaskannya.
Tania segera merapikan pakaiannya.
"Tuan muda Carlos, kenapa tidak masuk?" tanya Sanjaya.
Mendengar suara dari luar, Tania akhirnya menghela napas lega.
"Sial!" Daniel mengerutkan alisnya.
Tania segera berbicara rendah dengan hati-hati, "Daniel, jika kamu ingin melakukan sesuatu, cari aku saja, jangan menyakiti anak-anak!"
"Oke." Daniel merentangkan tangannya, "Kamu telah mengotori pakaianku. Sekarang bersihkan!"
Tania tercengang, baju kemeja putih dan celananya basah oleh jus....
"Ini tidak bisa dibersihkan." Tania memandangnya dengan takut, "Begini saja, kamu ganti baju dan berikan baju ini padaku, aku akan membawa dan mencucinya, anggap saja kompensasi."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu gantikan bajuku." Daniel mengangkat alisnya dengan dingin.
"Aku...." Tania kehilangan kata-katanya, dan bertanya dengan ragu-ragu, "Aku akan membelikan setelan baju yang ada di toko sebelah, boleh kan?"
"Kalau begitu, pergi sama-sama." Daniel mengambil mantel dari lantai, dan melingkarkan nya di pinggangnya. "Cepat!" Daniel menambahkan kata-katanya dan pergi dengan cepat.
Tania mengambil baju petugas kebersihan dan melipatnya, menaruhnya dalam ruang peralatan, mencuci tangannya, memakai masker dan topi, kemudian pergi...
Sesampainya di toko pakaian, semua orang menatapnya dengan kagum. Daniel tidak ingin terungkap di media, sekilas memandangi mereka, orang-orang itupun buru-buru berhenti memandangnya.
Tania memilih-milih setelan yang akan dipakai oleh Daniel dan berkata, "Untuk sementara, pakai ini saja dulu, harganya lebih murah dan sedang lagi diskon." Tania memilih pakaian yang termurah diantara yang paling murah, dia terlihat sangat berbinar jika mengenai produk yang sedang diskon.
"Kamu menyuruhku memakai baju seperti ini?" Wajah Daniel berubah menjadi pucat, "Barang diskon semacam ini, pembantu di keluargaku pun tidak akan memakainya."
"Kenapa? Lagipula kamu hanya memakainya sekali, dan itupun kamu sudah mau pulang, untuk apa membeli yang begitu mahal?" Tania berseru kemudian berkata dengan wajah tersenyum, "Selain itu, tubuhmu bagus, baju apa pun akan terlihat bagus untukmu."
"Benarkah?" Daniel menyukai perkataan ini, ia melihat dirinya di cermin, "Tubuhku bagus?"
"Tentu saja, kamu adalah pria dengan tubuh terbagus yang aku kenal." Tania menyanjungnya dengan tegas, "Bahkan pakaian biasa semacam ini, tidak bisa menyembunyikan potongan tubuhmu yang bagus!"
"...." Daniel memelototinya dari cermin, "Penjilat!!"
"Bukankah aku sudah memberimu 4 milyar? Kenapa kamu begitu pelit?"Daniel mengerutkan kening dan menatapnya, "Menyukai barang diskon besar-besaran, sungguh luar biasa!"
"Hari-hari ke depan masih panjang, aku harus bisa menghemat sedikit. Lagipula memberikanmu pakaian diskon seharga 198ribu sudah bagus."
"...."
Daniel terdiam, kemudian dia segera menarik Tania ke mesin informasi, mencari merek, dan menarik Tania ke lantai tiga.
"Tidak, aku tidak mampu membeli pakaian disini." Tania memeluk tembok pilar dan menolak untuk masuk.
__ADS_1
"Aku yang bayar." Daniel langsung masuk.
"Kamu yang bayar? Baiklah kalau begitu." Tania buru-buru mengikutinya.