
Rolls Royce Limosin pelan-pelan melaju keluar.....
Tania duduk bersandar sembari melihat kalung rubi dengan cermat. Selain warna berlian yang berbeda, kalung ini sama persis dengan kalung yang dijualnya dulu.
"Belum puas melihatnya?" Daniel menggoyangkan gelas anggur sembari menatapnya dalam.
Dalam remang cahaya, kulit halus mutiara Tania memancarkan cahaya kilau menggoda. Wajahnya yang mulus, serta ekspresi serius membuatnya candu. Bibir merahnya yang sedikit terbuka bagai kelopak bunga, membuat orang ingin mencicipi nya....
Daniel mengangkat kakinya, kemudian menggesek-gesekkan ke rok Tania dengan niat menggoda. Setelah kepala Tania menoleh kearahnya, ia memerintah Tania dengan lembut, "Mendekatlah!"
"Uh... "
Tania melihat Daniel yang ingin menggodanya, segera mengalihkan pikirannya dari acara pelelangan. Tania memejamkan matanya, mengatur emosi lalu mengumpulkan keberanian berbicara, "Itu, Presdir Daniel.... "
Begitu ingin bicara, Tania agak gelisah mengingat cara Daniel menangani masalah, hati kecilnya langsung panik.
Pria seperti ia yang berstatus tinggi, seharusnya tidak pernah ditolak wanita, kan?
Jika menolaknya, apakah ia akan malu dan marah, kemudian hidup Tania akan berakhir?
Tania bergidik memikirkan hal ini.
"Hm?" Daniel menggesek-gesekkan kakinya lagi.
__ADS_1
"Ini... " Tania menyodorkan kalung rubi kepadanya, "Ini ku kembalikan kepadamu!"
Daniel mulai menyipitkan mata, kehangatan dan godaan tadi perlahan mulai hilang, lalu diganti dengan ucapan yang dingin, "Apa maksudmu?"
"Presdir Daniel, aku hanya seorang satpam kecil di perusahaanmu." Tania hati-hati berbicara, "Aku tidak bisa menerima hadiah semahal ini!"
"Saat tadi berada dalam pelukanku, kenapa tidak bicara seperti ini?"
Alis Daniel berkerut, wajahnya tampak suram.
"Jika aku tidak menerima kalung ini tadi, bukankah aku akan mempermalukanmu?" Jawab Tania sambil sedikit tersenyum, "Presdir Daniel, statusmu sangat tinggi, aku tidak pantas untukmu!"
Akhirnya diutarakan keluar. Kalimat terakhir ini, orang bodoh pun paham maksudnya.
Sudah begitu jelas, ia masih bertanya apa maksudnya?
Apakah harus berbicara terus terang?
Tania memutar matanya, namun wajahnya menunjukan senyuman manis, "Aku tidak tahu, kenapa Anda begitu baik padaku. Membawaku pulang ke rumahmu untuk diobati, memberikan barang semahal ini dan membantuku meluapkan amarah....
Aku sangat terharu dengan semua ini. Kedepannya aku pasti membalas semua kebaikanmu. Hanya saja, aku tidak bisa menerima Anda, karena,, karena...."
Daniel tidak berbicara, hanya memandangnya lurus, menunggunya untuk selesai bicara.
__ADS_1
"Karena aku tidak pantas untuk Anda." Tania lanjut bicara, "Aku tidak punya status, tidak punya posisi, tidak punya latar belakang hebat, serta masa laluku yang memalukan... "
"Semua itu tidak penting." Daniel memotong pembicaraannya, "Ada alasan lain lagi?"
"Hah?" Tania melongo. Alasan ini tidak berhasil? Jadi harus bagaimana? Apa aku sungguh harus mengatakan jika aku sudah punya tiga anak?
Tidak bisa, jika ku katakan, ini akan jadi masalah besar, kan?
Jika ia marah besar, lalu melukai anakku bagaimana?
Ia ini sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit senang, moodnya tidak pasti. Ia bisa melakukan apa pun.
Tetapi, jika tidak kukatakan, aku harus mengatakan apa lagi?
"Hm?" Daniel mulai tidak sabar.
"Dan juga... Aku, aku pernah tidur dengan Gigolo." Tania terus terang. Setelah mengatakan itu, dia mensyukuri kepintarannya, "Ini... kamu bisa menerimanya?"
Alis Daniel turun, ada api berkobar didalam matanya, "Berapa orang?"
"Hanya satu." Tania mengangkat satu jari dan bicara dengan takut, "Hanya satu kali, dan menjadi berita utama. Kurasa banyak orang yang tahu hal ini... "
"Itu hanya masa lalu, yang penting sekarang jangan mencari Gigolo lagi." Daniel sudah menggunakan kesabaran terakhirnya, "Tidak ada masalah lagi, kan?"
__ADS_1