Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 245


__ADS_3

Mengetahui Lily yang datang, Tania beranjak dari sofa. Namun, dia merasakan nyeri yang sangat hebat pada pinggangnya.


"Jangan bergerak, biar aku periksa." Lily bergegas kehadapannya untuk memeriksa, "Tampaknya ini tidak sampai melukai tulangmu, tetapi sebaiknya kita tetap rontgen dulu untuk memastikan.


"Dokter Lily, apa kamu menemui Viktor? Apa dia baik-baik saja?"


Tania takut pukulan Daniel tadi akan berdampak parah pada Viktor yang tubuhnya lemah sejak kecil.


"Aku baru saja dari sana. Viktor hanya mengalami cedera ringan." Lily berbisik, "Jangan memancing amarahnya, ini tidak baik untuk Anda dan teman-teman Anda."


"Aku bukan ingin memancing amarahnya. Dia sendiri yang tidak masuk akal," jawab Tania tak berdaya.


Lily hanya menghela napasnya, lantas menghubungi rekannya untuk mengantar Tania kerumah sakit.


Hujan diluar sangat deras dan mengguyur, udara pun berubah sangat dingin.


Saat ia beranjak naik ambulans, Tania tanpa sengaja menatap ke arah Daniel yang sedang bergegas keluar bersama bawahannya, seolah-olah akan menyambut seorang tamu yang sangat penting.


Ada sebuah mobil yang datang, seluruh tamu pun berbaris dengan rapi, membentuk dua barisan.


Daniel sendiri yang membukakan pintu mobil, dengan penuh hormat ia membungkuk dan membantu penumpang mobil turun keluar.


"Siapa orang itu?"


Tania begitu terkejut melihat bahwa didunia ini masih ada orang yang dapat membuat Daniel berperilaku penuh hormat seperti itu.


"Itu adalah Tuan Besar Keluarga Daniel!" bisik Lily, "Kakek dari Tuan Daniel!"


Menemukan orang yang dapat mengontrol Daniel, memunculkan kembali harapan dalam hati Tania.


Apa dengan meminta pertolongan kepada kakek Daniel, dapat membebaskannya?

__ADS_1


"Temperamen Tuan Besar jauh melebihi Tuan Daniel." Lily menjelaskan dengan penuh arti, seolah-olah dapat membaca isi hati Tania, "Nona Tania, aku sarankan Anda jangan mendekati Tuan Besar."


"......"


Tania terdiam. Ia menyadari bahwa Daniel yang kejam dan berperilaku tidak senonoh, tidak mungkin kakeknya adalah seseorang yang baik hati.


"Hati-hati." Lily mengintruksikan petugas medis yang sedang mengangkat Tania naik ke ambulans.


Ambulans pun beranjak pergi, menenggelamkan suara musik dari dalam ruang perjamuan yang perlahan-lahan memudar.


Kedatangan Tuan Besar yang tak lain adalah kakek Daniel semakin menegangkan suasana dalam ruang perjamuan.


Seluruh tamu yang hadir berdiri dengan rapi dalam dua baris, tak henti-hentinya menyambut pria tua itu. Ia mengangguk pelan, pandangannya menelusuri seluruh tamu yang hadir. Lalu berjalan ke belakang ruang perjamuan.


........


Hasil rontgen rumah sakit tidak ada cedera pada tulang Tania, tapi pada otot pinggangnya tidak dapat diabaikan.


Dengan kesakitan pada tubuhnya, Tania menggertakkan giginya dan ia berharap agar dapat sesegera mungkin lepas dari cengkeraman orang itu...


Malam pun kian larut, perlahan-lahan Tania tertidur.


Ketika ia masih tertidur, ada sebuah tangan terulur perlahan-lahan menyentuh pinggangnya.


Dalam keadaan setengah sadar, Tania merasa ada seseorang di belakangnya.


Aroma familiar memancar dari tubuh itu, membuatnya menurunkan kewaspadaan nya.


Tania melanjutkan tidurnya, membiarkan tangan itu menelusuri tubuhnya, lalu menarik selimutnya dan berbaring disebelahnya...


Dengan hati-hati Daniel berbaring disebelah Tania, salah satu tangannya perlahan terulur kebawah leher Tania dan merangkulnya, tangannya yang lain dengan lembut membelai tubuhnya.

__ADS_1


Lily telah melaporkan keadaan Tania kepadanya, bahwa ia mengalami cedera pada otot pinggangnya, sehingga harus menjalani fisioterapi.


Jantungnya terasa berhenti ketika ia dengan kalap menendang Tania. Hatinya terasa sakit, namun juga dipenuhi amarah.


Wanita ini rela mengorbankan hidupnya demi melindungi pria lain.


Mengingat kejadian itu, amarah yang membara kembali muncul dalam hatinya...


Tangannya yang berada diatas paha Tania dengan keras mencubitnya, ingin sekali menghukumnya.


"Ah!" Tania menjerit kesakitan dan terbangun dari tidurnya. Ia membalikkan tubuhnya, dan Daniel mengambil kesempatan itu untuk mencium bibirnya...


Tania berusaha mendorongnya, namun tangan Daniel berhenti tepat dipinggangnya. Wajahnya pun meringis kesakitan.


Daniel segera melepaskan pelukannya, "Kamu kenapa?"


"Sakit!" Tania berhenti bergerak, keningnya penuh keringat.


Daniel tidak berani menyentuhnya lagi, ia dengan hati-hati membaringkan Tania ke posisi awal, lalu tidur membelakangi nya.


Tania meringkuk memeluk tubuhnya yang gemetar. Keringatnya terus bercucuran, dengan cepat membasahi piyama nya.


Daniel mengernyitkan keningnya, ia berbalik menatap Tania. Ada rasa iba dalam hatinya ketika melihat Tania seperti itu. Kemudian, ia bergegas mengambil ponselnya menghubungi Lily, "Datanglah kemari!"


"Tidak perlu." Tania menghentikannya, "Dokter Lily sudah menjelaskan bahwa malam ini pasti akan terasa sakit. Besok akan jauh lebih baik."


Daniel lantas berdiri dari tempat tidurnya, dan mengambil obat pereda nyeri yang ada di meja samping tempat tidur, karena sebelumnya Lily memberi tahu tentang obat itu kepada Daniel.


Tania menggelengkan kepalanya, "Aku cukup istirahat saja, nanti rasa sakitnya juga akan hilang dengan sendirinya. Tolong matikan saja lampunya."


Daniel meletakkan kembali obatnya. Melihat tubuh Tania yang dipenuhi kesakitan, ada rasa penderitaan terpancar pada tatapannya.

__ADS_1


Daniel merasakan kepedihan dalam hatinya ketika melihat Tania memejamkan mata, tapi mengeluarkan air mata. Merasa tidak mampu, lalu ia mengenakan pakaiannya kembali, mematikan lampu tidur dan beranjak keluar ruangan.


__ADS_2