
Tania menatap mobil dengan linglung, teringat ketika hari pertama saat dia kembali dari desa, taksi yang ia dan anaknya naiki menabrak Rolls Royce Panthom di dekat stasiun kereta...
Pada saat itu, dia melihat seorang pria di dalam mobil, punggung bawah dengan tato kepala serigala berlumuran darah.
Dia sekilas mengenali bahwa dia adalah pria empat tahun lalu.
Tapi mobil itu pergi sebelum Tania bisa memastikannya.
Pikirannya hanya tertuju pada pria itu, sehingga lupa mengingat nomor plat nya, tapi....
Dia ingat dengan jelas bahwa Rolls Royce Panthom hanya ada 35 diseluruh dunia dan dengar-dengar hanya ada 3 di negara ini.
Jadi... mungkinkah Daniel adalah orangnya?
"Nona Tania, kenapa?" Lily memanggil dengan lembut.
"Tidak, tidak apa-apa." Tania kembali sadar dan sengaja mengubah topik pembicaraan, "Aku sedikit tersanjung melihat mobil sebagus ini."
"Jangan sungkan, Tuan Daniel juga pernah berkata, jika Anda bisa menggunakannya kapan pun." Lily tersenyum, "Mari masuk ke mobil."
"Ya!"
Setelah masuk ke dalam mobil, Tania masih mencoba mengingat kejadian hari itu, tapi dia tidak dapat mengingat berapa nomor plat nya.
Dia sengaja menyelidiki Lily, "Oh ya dokter Lily, apakah Presdir Daniel pernah terluka beberapa waktu yang lalu?"
Jika Daniel terluka, maka Lily pasti tahu, karena dia adalah dokter pribadinya.
__ADS_1
"Tidak." Lily menjawab, "Daniel menanggung nasib seluruh keluarga, karena dia adalah pewaris tunggal. Keselamatannya adalah prioritas utama dan dia dijaga oleh 18 pengawal kelas atas, jadi dia tidak akan mudah terluka."
"Oh." Tania mengangguk, tapi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar dia tidak terluka? Bukankah dia adalah orang itu?
Dipikir-pikir, terakhir kali melihatnya dikantor, dia sedang berenang dikolam renang lantai atas.
Jika dia benar-benar adalah orang itu, maka seharusnya luka di punggungnya belum sembuh dan harus berhati-hati agar tidak terkena air, bagaimana dia bisa berenang?
Mungkinkah dia salah lihat?
"Kenapa Anda tiba-tiba menanyakan hal ini?" Lily bertanya balik.
"Beberapa waktu yang lalu aku melihat dia marah besar, aku pikir apa karena dia sedang terluka, hehe.... " Tania mencari alasan.
"Hehe.... Tuan Daniel memiliki temperamen yang baik." Lily tersenyum tipis dengan tatapan mata yang kacau.
Tania tidak lanjut bertanya dan diam-diam dia melihat ke luar jendela, memikirkan bagaimana nanti menghadapi keluarga Alisia.
Ketika mobil melaju ke vila, Tania dari kejauhan melihat siluet seseorang yang familiar....
Benar saja, hampir semua orang yang dulu berada disisi ayahnya sekarang ada disini.
Frank dan Kety berpakaian mewah menyambut mereka di pintu dengan senyuman hangat.
Semua orang disana memegang hadiah dan menyapa mereka dengan hormat.
Adegan yang ada di depannya sangat familiar, bukankah ini adalah rumah keluarga Tania beberapa tahun yang lalu?
__ADS_1
Pada saat itu, James sangat antusias dan pekarangan rumahnya pun seramai sekarang, ada sekelompok orang yang datang sambil membawa hadiah...
Semuanya mirip dengan yang sebelumnya.
Hanya saja, waktu itu keluarga Frank juga berada ditengah kerumunan pemberi hadiah, tapi sekarang mereka telah menjadi pemilik vila ini.
'Tin, tin'.
Suara klakson mobil terdengar dari belakang, Tania melihat ke kaca spion, terlihat mobil Bentley putih berbaris di belakang Rolls Royce. Itu adalah mobil keluarga Stanley.
"Jangan klakson sembarangan." Stanley memarahi supirnya.
"Maap, Presdir Stanley." Supir menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu marah?" Alisia tampak tidak senang, "Ini rumahku sendiri, tidak ada yang boleh menghalangi jalanku."
"Kenapa mobil Panthom di depan, terlihat seperti mobil Daniel?" Stanley membuka jendela dan mengamati dengan cermat, "Apakah orang tuamu mengundang Daniel?"
"Daniel yang mana?" Alisia menjulurkan kepalanya, "Maksudmu, Daniel dari Grup Sky Well?"
"Dani, cepat lihat." Perintah Stanley.
"Baik." Dani keluar dari mobil dan segera memberi isyarat padanya.
"Benar, ini mobil Daniel." Stanley segera memerintahkan, "Cepat berhenti."
"Baik." Supir menghentikan mobilnya.
__ADS_1
Stanley buru-buru cepat keluar dari mobil untuk menyambutnya.
Alisia turun dari sisi mobil yang lainnya, dan berlari mengejar dengan sepatu hak tingginya.