
Setelah Tuan Besar meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Carles dan Carla melanjutkan makanannya dengan serius. Kedua mulut mereka penuh dengan makanan, sedangkan Carlos tidak ada niat makan.
Carlos mengkhawatirkan Mami dan Neneknya, takut terjadi sesuatu dengan mereka.
Semakin dipikirkan, Carlos merasa semakin tidak tenang. Ia memutuskan setelah Kakek kembali, ia akan meminta tolong untuk mencari Maminya....
Dirumah sakit, Tuan Besar bertemu dengan Daniel di kantor direktur rumah sakit, "Untuk apa kamu kemari?" Tanyanya dingin.
"Memang bisa tidak datang?" Daniel tampak berpikir keras, "Sopirmu menyetir mobilku dan menabrak orang. Orang tua mereka telah lapor polisi."
"Apa? Orang tua anak itu lapor polisi?" Tuan Besar langsung terkejut, "Mana mereka? Kebetulan sekali aku ingin bertemu mereka."
"Serahkan saja masalah ini padaku, agar mereka tidak mengambil keuntungan." Daniel mencari alasan yang tepat.
"Apa yang perlu diatasi?"Tuan Besar menolak, "Tiga anak itu sudah sangat dekat denganku. Aku akan bertanggung jawab masalah mereka. Aku sudah bilang, aku akan melindungi mereka."
"Entah bagaimanapun kamu melindungi mereka, tetap tidak akan sebaik orang tua mereka," ucap Daniel tegas, "Pada akhirnya harus memulangkan mereka."
"Benar juga." Tuan Besar menyetujui ucapannya setelah berpikir, "Begini saja, kamu bawa orang tua mereka kemari. Aku ingin minta maaf pada mereka dan berdiskusi masalah kompensasi. Lalu, aku akan memulangkan anak-anak itu sendiri pada mereka."
"Mobil yang menabrak itu atas namaku, departemen polantas menghubungiku." Daniel sengaja memainkan trik membingungkan, "Jika masalah ini dipublikasikan oleh orang yang berniat jahat, akibatnya akan sangat buruk sekali dan tak terhindarkan. Kamu juga tidak ingin aku terjebak dalam pusaran opini publik, kan?"
Tuan Besar merasa ucapannya masuk akal, "Jadi bagaimana kamu cara mengatasinya?" tanyanya.
"Tentu saja memulangkan anak-anak itu kepada orang tuanya dan memberikan kompensasi. Masalah besar menjadi masalah kecil dan diatasi dengan baik." Daniel berbicara dengan serius, "Aku sudah tanya pihak rumah sakit, anak-anak tidak luka parah, hanya luka kecil saja. Seharusnya orang tuanya tidak akan menyelidikinya lebih dalam."
"Iya." Tuan Besar menganggukkan kepala dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Tiga anak itu sangat menggemaskan. Aku sangat menyukai mereka, kamu tidak boleh mengabaikan mereka. Entah apa pun permintaan orang tua mereka, kamu harus memenuhinya. Apa kamu paham?"
"Aku tahu, tenang saja." Daniel menganggukkan kepala dan bicara kepada Ryan, "Antar Tuan Besar pulang!"
"Baik." Ryan melangkah maju.
"Tunggu sebentar, aku harus berpamitan dengan anak-anak dulu."
Tuan Besar berjalan dengan tongkat menuju kamar pasien dan memberi instruksi kepada Sanjaya yang berada di sampingnya...
__ADS_1
"Pergi dan bawakan hadiah yang kubeli dan jam tangan telepon itu. Simpan nomorku didalamnya, kedepannya anak-anak boleh menghubungiku kapan pun."
"Baik," ucap Sanjaya.
"Ada apa dengan Tuan Besar?" Daniel mengerutkan kening, "Memberikan hadiah dan meninggalkan nomor telepon? Ia ingin mengangkat mereka sebagai cucunya?"
"Barusan aku dengar dari Paman Sanjaya, Tuan Besar sangat menyukai tiga anak itu. Beberapa hari ini, ia sendiri yang menjaga mereka dirumah sakit." Ryan berbicara dengan hati-hati, "Tuan Daniel, aku rasa Tuan Besar benar-benar serius dengan hal ini, tiga anak itu tidak bisa diganggu!"
"Padahal bukan darah daging keluarga Wallance." Daniel kesal mengingat hal ini, "Aku atau tiga anak haram itu yang lebih memiliki hubungan kental dengannya!"
Tentu saja Anda, tapi...."
"Diam." Daniel menyela ucapan Ryan dan memerintah, "Lakukan sesuai perintah ku."
"Baik."
.....
Tuan Besar kembali ke kamar pasien, dibelakangnya ada beberapa pengawal yang membawa setumpuk hadiah.
"Kakek, aku tetap belum bisa menghubungi Mami, mungkin akan butuh bantuanmu." Carlos berjalan ke hadapan Tuan Besar dan menundukkan kepala, "Mohon bantuan Anda!"
"Jangan cemas. Anak-anak, papa dan mama kalian sudah menghubungi cucuku melalui pihak polisi." Tuan Besar memeluk Carlos dan Carla sembari berbicara dengan penuh kasih sayang, "Kalian jangan cemas, dia akan mengantarkan kalian pulang."
"Hah? Sudah mau pulang? Asyik, asyik!!" Carla bertepuk tangan dan melompat-lompat dengan senang.
"Kakek, apa aku juga boleh pulang?" tanya Carles, "Aku tidak ingin tinggal dirumah sakit. Aku ingin bersama Mami dan Nenek."
"Kakek sudah tanya dokter, kamu bisa memulihkan diri dirumah. Dan tenang saja, kedepannya Kakek akan sering mengunjungi kalian."
"Asyik!!" Carles sangat bahagia.
"Kakek, aku mengundangmu kerumah kami. Nenek kami pintar masak. Bakpao buatannya sebesar ini dan juga bubur tulang sapi, benar-benar nikmat...." ucap Carla sambil memperagakan dengan tangan kecilnya.
Tuan Besar tertawa, "Kalau begitu, aku harus kesana untuk mencicipinya."
__ADS_1
"Iya, iya, harus datang, ya. Janji ya?" Carla mengulurkan tangan kecil gemuknya, jari kelingkingnya terkait dengan jari Tuan Besar. "Siapa yanga membatalkan janji, berarti dia orang jahat!"
"Hahaha, Kakek tidak akan menjadi orang jahat."
Keduanya pun akhirnya saling mengaitkan jari dan keduanya juga saling menyegel menggunakan jempol, lalu tertawa bersama.
Carlos berdiri disamping tak bersuara. Ia merasa ada yang aneh, papa mama? Mereka sama sekali tidak punya papa....
Apa Kakek ditipu?
"Tuan Besar, mobil sudah siap." Sanjaya mendekat melapor.
Tuan Besar hanya menganggukkan kepala, "Nanti cucuku akan mengantar kalian pulang. Setelah kalian bertemu Papi Mami kalian, segera telepon Kakek."
Setelah berbicara, ia memasangkan sendiri jam tangan telepon ke lengan tiga anak-anak.
"Ini adalah jam tangan telepon yang Kakek belikan. Didalamnya ada nomor telepon Kakek. Kalian boleh menelpon Kakek kapanpun, mengerti?"
"Baik." Carles dan Carla menjawab dengan serentak, "Terima kasih, Kakek!"
Tuan Besar yang melihat Carlos seperti punya beban pikiran, akhirnya bertanya, "Carlos, apa kamu tidak rela berpisah dengan Kakek?"
"Kakek, apa jam tangan telepon ini ada sistem GPS?" Carlos mengangkat tangan kanannya yang memakai jam tangan sembari bertanya, "Jika kami dalam bahaya, apa sistem dapat mengirimmu pesan?"
"Ada fungsi ini?" Tuan Besar bertanya kepada Sanjaya.
"Jam tangan punya fungsi GPS sendiri, tetapi tidak cukup komprehensif." Sanjaya menggeleng kepala, "Atau minta Tuan Muda memasang fungsi itu? Sky well memproduksi produk teknologi. Seharusnya tidak sulit memasang sebuah aplikasi GPS berkualitas tinggi didalam jam tangan telepon."
"Sky Well?" Begitu Carlos mendengar nama ini, wajahnya langsung berubah dan bertanya, "Kakek, perusahaan cucumu bernama...."
"Grup Sky Well!"
Sebuah suara dingin muncul memotong ucapan Carlos.
Diikuti sesosok tubuh tinggi dan ramping dengan aura dominan dan arogan seperti dewa...
__ADS_1