Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 182


__ADS_3

Stanley sangat bimbang, seolah-olah kedua tangan menarik jantungnya berulang kali, hampir hancur dirobek...


Ia ingin melindungi Tania, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan perusahaannya dalam bahaya.


Walaupun ia tahu Daniel sengaja membuat jebakan ini, tetapi ia juga tidak mampu melawannya...


"Stanley... "Akhirnya Tania berbicara memecahkan suasana yang canggung, "Kamu jangan bimbang, ikuti kata hatimu."


"Tania, aku tidak ingin membuatmu kecewa seperti empat tahun lalu." Ujar Stanley menyesak, "Tetapi aku juga tidak bisa mengacuhkan perusahaan ku, itu adalah jerih payah tiga generasi keluargaku... "


"Aku mengerti." Tania memaksa tersenyum kaku, "Sekarang sudah tidak seperti dulu, perusahaanmu adalah tanggung jawabmu!"


"Bagaimana denganmu nanti?" Stanley benar-benar sedih.


"Dia tidak akan melakukan apa pun padaku." Tania sengaja menjawab dengan santai, "Kamu tidak perlu mencemaskan ku."


"Tidak akan berbuat apa-apa terhadapmu?" Stanley melihat jubah mandi ditubuhnya, pandangannya menjadi ruwet, "Kamu dulu begitu membanggakan dan agung, tetapi sekarang... "


Stanley tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Kedua tangannya mengepal erat. Ada pertentangan dan ketidakberdayaan terhadap takdir dalam dirinya.


Tania tahu ia telah salah paham, tetapi Tania tidak ingin menjelaskannya. Ia hanya tersenyum pahit, "Benar juga, sejak kapan aku berubah menjadi seperti ini?"


Satu kalimat itu membuat suasana semakin canggung.


Jika keluarga Stanley tidak mengubah pilihannya dengan membatalkan pernikahan, saat tahu Grup Smith bangkrut. Maka Tania tidak akan terjebak dalam jebakan Alisia dan membuat kesalahan itu. Kurasa ia juga tidak akan berakhir seperti itu...


Jadi, Stanley juga bertanggung jawab besar atas perubahan dirinya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku... " Stanley menundukkan kepala merasa bersalah.


"Bagaimana? Sudah dipikirkan dengan baik?" Suara Daniel terdengar.


Suara itu mendominasi dan aura kesombongan menentukan takdir.


"Presdir Daniel, aku rasa seharusnya kita perlu berdiskusi empat mata." Stanley masih tidak menyerah. Ia ingin mempertahankan kedua pilihan itu.


"Aku tidak punya waktu berdiskusi denganmu." Daniel duduk di sofa. Ia duduk bersila dengan angkuh, "Aku beri kamu waktu 10 detik. Bawa dia pergi atau bawa barang itu pergi... "


Ia menggunakan kakinya menunjuk kalung ruby di atas meja teh, "Pilih sendiri!"


"Aku... " Stanley masih berani bicara. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia segera berdiri menyingkir untuk menjawab telepon, "Halo, apa?!"


"Ayah, kamu jangan cemas. Aku sedang memikirkan caranya. Aku tahu, aku tahu. Nanti aku telepon kamu balik, ayah!"


Setelah menutup telepon, Stanley bergegas memohon pada Daniel, "Presdir Daniel, kamu tidak perlu sekejam ini, kan? Kamu menghentikan proyek itu, ini akan merugikan kita, kan."


"Aku... " Stanley terdiam beberapa saat.


Daniel adalah dewa penentu takdir. Jika ia ingin orang itu mati, maka orang itu pasti mati. Sama sekali tidak ada ruang untuk berdiskusi.


"3 detik terakhir." Daniel mengangkat jarinya, ia mulai hitung mundur, "Tiga... "


"Presdir Daniel... "


"Dua!"

__ADS_1


"Presdir Daniel, anggap aku memohon padamu... "


"Jika kamu bertele-tele lagi, kesempatan memilih pun tidak akan ada lagi."


Daniel mengernyitkan kening, wajahnya penuh dengan ketidaksabaran.


"Aku... "


Stanley melihat kalung ruby itu, lalu melihat Tania. Matanya penuh kebimbangan.


Dan disaat itu, lagi-lagi ponselnya berdering...


Ia berkeringat karena panik, kedua matanya memerah.


Tania sudah tidak sanggup melihatnya lagi, ia bersiap mengambil kalung ruby untuk diberikan kepada Stanley.


Di waktu yang sama, Stanley telah mengulurkan tangan bersiap mengambil kalung ruby...


Liontin kalung ruby itu menyentuh punggung tangan Tania, ia mendongak melihat Stanley secara spontan.


Kedua mata mereka saling bertemu, pandangan mereka ruwet.


Meskipun Tania memahami pilihan Stanley dan mendukung pilihannya, tetapi ketika Stanley membuat pilihan, Tania tetap saja merasa cemas...


Rasanya sebuah pisau tajam menusuk hatinya, benar-benar sakit!


"Tania... " Stanley panik.

__ADS_1


Ia sadar Tania ingin membantunya memilih perusahaan, tetapi ia lebih cepat satu detik dari Tania.


Jadi, makna telah berubah sepenuhnya....


__ADS_2