Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 251


__ADS_3

Tania bersandar didalam kursi mobil. Setelah meninggalkan vila Daniel, dia berpikir tampaknya akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari Daniel!


"Tuan Daniel sangat ingin melepaskan diri dari masalah pernikahan, dia sengaja melawan Kakeknya." Lily berkata dengan tersenyum seolah tahu apa yang dipikirkan Tania, "Disaat seperti ini, seharusnya Anda berpihak padanya."


"Aku berharap dia cepat menikah dengan Lea dan cepat melepaskanku."


Saat mengucapkan kata-kata ini, hati Tania sedikit bertentangan.


Memang benar dia ingin melepaskan diri dari Daniel, tetapi sebenarnya dia tidak ingin Daniel menikahi Lea....


"Nona Tania, Tuan Daniel memperlakukanmu dengan tulus. Saya tidak pernah melihat dia memperlakukan wanita dengan sepenuh hati." Lily berkata dan tidak bisa menahan diri.


"Namun... " Saat Lily ingin melanjutkan perkataannya, tiba-tiba ponsel Tania berbunyi, Bibi Juli yang menelponnya.


Didalam telepon Bibi Juli mengabarinya, jika sekarang dia sedang berada di klinik untuk memeriksakan tentang kesehatannya yang akhir-akhir ini kurang membaik.


Tania sangat panik dan merasa bersalah kepada Bibi Juli, dia ingin sekali menemaninya di klinik itu tetapi Bibi Juli bersikeras jika dia baik-baik saja.


Dan Bibi Juli mengingatkan kepada Tania tentang ketiga anaknya, "Nona, Anak-anak pulang sekolah pukul 3:30, tidak ada orang dirumah, nona harus pulang lebih awal."


"Jangan khawatir."


Setelah menutup telepon, Tania baru ingin mengatakan sesuatu kepada Lily, namun dia menyelanya: "Luka dipinggangmu harus segera cepat pulih, baru ada energi untuk menjaga orang tua ataupun anak-anak. Lebih kita harus segera pergi untuk menjalani pengobatan pinggang." Lily menasehati nya dengan tulus.


"Baiklah!" Tania menurut saja.


Setelah berada diruang perawatan, Tania segera berbaring diranjang pengobatan tradisional yang sudah disiapkan. Hatinya masih sedikit tidak tenang dan bertanya kepada Lily, "Dokter Lily, Bibi Juli seharusnya baik-baik saja, kan?"


"Anda jangan khawatir, biarkan dia menjalani pengobatan dengan tenang disini. Saya akan mengatur perawat untuk menjaganya." Lily segera menghiburnya.


Setelah mendapat kabar bahwa Bibi Juli memeriksakan kesehatan di klinik Welas Asih, Tania segera memberi tahu Lily jika dia ingin menjalani di klinik yang sama dengan Bibi Juli. Agar sesekali dia bisa mengawasinya juga.

__ADS_1


"Terima kasih, dokter Lily." Tania berkata dengan tidak tenang. "Tunggu hasil pemeriksaan Bibi Juli keluar, mohon kabari aku sesegera mungkin."


"Tenanglah, nanti saya akan mengabari Anda."


Tania sangat memikirkan keadaan bibi Juli bukan apa, karena Tania sangat berutang budi kepadanya. Tania merasa bersalah dan juga tersentuh akan kasih sayang bibi Juli terhadap ketiga anak-anaknya, dia tidak memikirkan tentang kesehatannya demi menjaga dirinya dan anak-anaknya.


Setelah menghibur Tania, Lily pergi mengurus sesuatu.


Tania melihat jam sudah pukul 3:15, dia bergegas meninggalkan rumah sakit dan naik taksi didepan untuk pergi ke jalan bahagia.


Tania sedih setelah mengetahui dari Lily, jika bibi Juli dinyatakan menderita stroke infark stadium sedang. Mendengar berita ini, hatinya bagaikan disambar petir disiang bolong.


Bus sekolah TK hanya bisa menurunkan anak-anak di persimpangan jalan dan menunggu orang tua murid datang menjemput mereka.


Biasanya setiap sore Bibi Juli akan menunggu anak-anak di persimpangan jalan. Namun, hari ini mereka turun dari bus sekolah, tidak melihat Nenek.


"Carlos, Carles, Carla, apakah hari ini orang tua kalian tidak ada disini?" Ibu Guru Brenda dari kelas Matahari bertanya, "Apa Bu Guru perlu menelepon orang tua kalian?"


"Tidak perlu." Carlos berkata seperti orang dewasa, "Beberapa waktu ini, Nenek kadang-kadang akan terlambat beberapa menit, kami akan menunggu sebentar disini saja."


"Aku mengerti, Bu Guru Brenda tenang saja." Carlos menepuk-nepuk dadanya dan berkata dengan yakin, "Aku akan menjaga mereka dengan baik."


"Baguslah kalau begitu." Brenda tidak banyak berpikir dan bus sekolah pun pergi.


Beberapa waktu ini, Bibi Juli akan datang terlambat. Bus sekolah selalu menunggu sampai dia datang untuk menjemput ketiga anak itu.


Namun, jika begini, orang tua murid yang lain menjadi terlambat menjemput anak-anak mereka, mereka akan mengeluh, Brenda pun juga tidak berani mengabaikannya.


Dia berpikir, bahwa Bibi Juli akan segera datang menjemput anak-anak dan disini juga dekat dengan rumah, Brenda pun tidak begitu khawatir dan takut.


"Nenek berjalan sangat lambat, mungkin masih berjalan dijalan." Carles menendang baru kecil ditepi jalan, "Carlos, ayo kita bermain satu permainan."

__ADS_1


"Aku tidak mau bermain." Carlos melihat kearah pulang kerumah dan berkata, "Nenek tidak enak badan beberapa hari ini, dia terengah-engah ketika berjalan, setiap kali datang menjemput kita, pakaiannya basah karena berkeringat. Lebih baik kita sama-sama berjalan ke arah rumah, dengan demikian, Nenek bisa mengurangi tenaganya."


"Kak Carlos benar." Carla mengangkat tangannya yang kecil dan gemuk, lalu berkata, "Kita sudah besar, tidak boleh main terus, kita harus membantu Nenek dan Mami."


"Baiklah, aku salah." Carles menundukkan kepala, untuk menebusnya, dia berkata lagi, "Aku ingat jalan pulang, aku akan membawa kalian pulang."


"Aku juga ingat, ayo kita jalan."


Ketiga anak itu berjalan pulang dengan bergandengan tangan dan menyanyikan lagu anak-anak.


Orang-orang yang lewat, semuanya melihat mereka, memuji ketiga anak itu cantik, tampan juga lucu, tidak tahu anak dari keluarga mana.


Carles menendang baru kecil di sepanjang jalan.


Carlos sedang mengamati kendaraan ditepi jalan, melihat apakah Maminya sudah pulang kerja.


Sedangkan Carla tertarik oleh seekor kucing ragdoll ditepi jalan, dia menunjuk kucing dengan tangannya, "Cepatlah lihat, kucing ragdoll itu sangat cantik, apa dia berpisah dengan pemiliknya dan tidak menemukan jalan pulang?!"


"Ya." Carlos menganggukkan kepala dan menganalisis secara rasional, "Kucing yang begitu cantik dan juga bersih, seharusnya bukan kucing liar."


"Kita serahkan saja pada paman polisi." Carlan memberi saran.


"Aku setuju." Carles segera mengangkat tangan setuju.


Namun....


Kucing itu tiba-tiba masuk hutan, dengan segera Carles mengejar kucing itu.


"Kakak, tunggu aku." Carla buru-buru mengikutinya, berlari dengan lambat.


"Carles, Carla, cepat berhenti!" Carlos tidak bisa menghentikan mereka, hanya bisa berlari mengikutinya.

__ADS_1


Mereka berdua sama sekali tidak mendengarkan Carlos, dengan cepat Carles berlari mengejar kucing itu melalui hutan dan telah berlari ke jalan lain...


Pada saat ini, sebuah mobil Rolls Royce sedang melaju....


__ADS_2