Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 233


__ADS_3

"Itu sudah menjadi kewajiban... " Manajer senior Grup Top Sky berkata, "Dua raksasa Grup Sky Well dan Grup Top Sky bergabung, pasti akan berjaya!"


"Sangat langka. Dulu ketika kami mengadakan rapat disini, suasananya selalu begitu serius. Hari ini, Presdir Lea hadir disini dan suasananya jauh lebih hangat."


"Apakah Daniel begitu menakutkan?" Lea tertawa dan bercanda.


Daniel tersenyum padanya dan berkata dengan santai, "Tentu saja, aku tidak seramah dirimu."


"Tentu saja." Lea mengangkat alisnya dan tersenyum.


Interaksi antara mereka berdua begitu akrab, mesra, dan juga bersinergi. Orang-orang disekitar menatap mereka, termasuk Tania!


Melihat ini, Tania merasa sangat tidak nyaman. Bersama dengan sekretaris lainnya dengan hati-hati dan hormat meletakkan dokumen dihadapan manajer senior, lalu hendak pergi.


Pada saat ini, Direktur Toni mengenalinya, "Tania, kamu sudah kembali bekerja, ya?"


"Iya, Direktur Toni." Tania tersenyum dan mengangguk.


"Baru saja kembali." Direktur Toni berkata dengan gembira, "Semangat!"


"Iya." Tania meletakkan dokumen itu tanpa sadar menatap Daniel dan menyadari bahwa dia sedang menatap Lea, mereka berdua saling memandang.


Tania menjabat tangannya dan menyenggol dokumen dan gelas teh Direktur Toni.


'Prang'


Terdengar suara gelas teh panas yang pecah dari atas tumpah kebawah mengenai tubuh Direktur Toni dan kaki Tania...


Kaki Tania terasa sakit terbakar!


"Astaga!" Direktur Toni segera melompat dan tersentak karena terkena teh yang panas.

__ADS_1


"Maaf, maaf."


Tania tidak peduli rasa sakitnya dan buru-buru meminta maaf kepada Direktur Toni sambil merapikan dengan panik.


"Direktur Toni, apakah Anda baik-baik saja?" Wina segera datang untuk menanganinya dan berbisik kepada Tania, "Apa yang kamu lakukan? Cepat keluar!"


"Tidak apa-apa, jangan salahkan dia." Direktur Toni segera menengahi masalah Tania.


"Maaf." Tania menundukkan kepala dan melangkah mundur.


Pada saat ini, Daniel menatapnya tapi dengan cepat mengalihkan pandangannya. "Kembalilah ke kantor dan bereskan!" ucap Daniel memerintah.


"Baik." Direktur Toni pergi dengan asistennya.


Saat Tania pergi ke kamar mandi, merendam bagian luka yang terkena air panas dengan air dingin. Sekarang mungkin tidak apa-apa, kulitnya berubah menjadi merah dan dia tidak terlalu peduli.


Wina menghampiri dengan cepat, "Tania, cepat oleskan dulu." Wina memberi salep luka bakar kepadanya.


Wina adalah pemimpin yang baik, meskipun dia mengkritik habis-habisan tentang kesalahannya, tapi pada akhirnya dia akan membantu untuk menyelesaikannya.


"Aku baru saja menemui Direktur Toni. Dia tidak terluka, tapi pakaiannya basah. Hari ini kamu kenapa, begitu gelisah. Jika pemegang saham lain yang terkena, kamu akan mendapat masalah besar."


"Iya... " Tania menundukkan kepalanya lagi dengan malu.


"Jika kamu hari ini tidak merasa enak badan, jangan kembali ke meja resepsionis, kerjakan bagian lainnya saja." Wina mengintruksikan, "Nanti tolong rapikan pantri, lalu jam sebelas ke ruang rapat, bereskan dokumen."


"Oh, ok!"


Setelah Wina keluar, Tania mencuci wajahnya di wastafel, lalu mengingatkan dirinya untuk tenang dan tidak bersikap kasar.


Ketika memikirkan Daniel, hatinya sangat marah.

__ADS_1


Jelas-jelas dia adalah orang yang menginjak dua perahu dan menggoda wanita lain dihadapannya. Awalnya hubungan percintaan ini tidak normal, hanya hubungan kontrak saja, dan selalu sembunyi-sembunyi....


Tania berpikir, kenapa dia masih mengharapkan Daniel setia padanya, dan menginginkan pasangan normal lainnya?


Sebenarnya jika dipikir lagi, sejak awal dia tidak pernah berpikir berpacaran dengannya. Tapi karena keagresifan Daniel, Tania tidak mampu melawan, dia terpaksa mematuhinya...


Bukankah dia menantikan hari ketika Daniel bosan dan memberinya kebebasan?


Kenapa sekarang dia begitu bingung, ketika melihat Daniel sedikit lebih intim dengan wanita lain?


Tidak boleh seperti ini, tidak boleh, tidak boleh!!!


Tania mengambil napas dalam-dalam, membuat senyuman dengan jari-jarinya, dan berkata pada dirinya sendiri jika dia harus teguh pada pendirian.....


Selama tidak mempedulikannya, dia tidak akan terpengaruh!


Tania keluar, bekerja serius, dan setelah merapikan pantri, waktu menunjukan pukul sebelas, dan rapat pun selesai.


Tania serta Bella membereskan dokumen rapat dan hendak menghancurkannya. Ketika sedang membereskan, sosok tinggi dan ramping yang familiar masuk, muncul dihadapan Tania.


"Presdir!" Semua orang menundukkan kepala memberi salam. Tania menatapnya, lalu menundukkan kepala dan lanjut bekerja.


Daniel memberi isyarat, semua orang mundur, dan Tania juga hendak mundur, tapi dia ditarik dan di dorong langsung ke kursi eksekutif hitam.


Kursi presdir didorong ke belakang dengan cepat, Daniel mengaitkannya dengan kakinya, dan kursi itu meluncur ke hadapannya lagi.


Dia meletakkan tangannya di sandaran tangan kursi dan bersandar di dekat Tania, seperti binatang buas yang menjebak di bawah naungannya.


Tania terdiam dan mengangkat matanya dengan tatapan marah.


"Ah!" Daniel menatapnya seperti ini, bahkan tertawa sambil mencubit dagunya dan bertanya, "Cemburu? Hah?"

__ADS_1


__ADS_2