Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 29


__ADS_3

Dia masih memakai kacamata berbingkai perak dan selalu ada senyum lembut dibibirnya, yang membuat orang dapat merasakan angin dimusim semi!


Hanya saja, badannya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Tidak tahu apakah dia baik-baik saja beberapa tahun ini.


Kenangan indah dan perasaan bahagia di masa lalu muncul dipikrannya.....


Tania tidak bisa menahan perasaannya, matanya memerah yang sebentar lagi air yang ada didalam mata itu akan jatuh. Dulu pria itu adalah pria yang paling di cintainya......


Semua kasih sayang pada masa mudanya, telah diberikan kepada dia. Pria itu pernah berkata bahwa dia tidak akan menikahi wanita lain selain Tania, menjaganya sekuat tenaga, dan memberinya kehangatan di dunia ini.


Tapi sayang, sekarang semuanya berbeda.


Stanley tampak merasakan sesuatu kemudian menoleh kebelakang. Tania segera bersembunyi di balik pilar, jantungnya berdetak kencang.


Apakah dia melihatku?


Apakah melihatku?


Ada langkah kaki mendekat perlahan dari belakang.....


Tania sangat gugup, ia tidak ingin Stanley melihat penampilannya yang menyedihkan seperti sekarang.


Langkah kaki semakin dekat, detak jantung Tania pun semakin cepat. Ketika langkah kaki tepat berasa di belakangnya, dia sangat cemas dan kemudian buru-buru lari, tapi......


"Hei, kenapa kamu lari?" Teriak David dari belakang.

__ADS_1


Sejenak Tania langsung menghentikan langkah kakinya kemudian melihat kebelakang, ahh... ternyata oh ternyata itu adalah David.


Stanley sudah memasuki lift, nomor lift menunjukan lantai 66, yang merupakan ruang rapat Presdir.


Tania menghela napas lega, tapi juga sedih. Stanley tidak mengenalinya, sepertinya dia benar-benar telah dilupakan....


"Ketika pertama kali melihat seseorang berjabatan tinggi sepertinya. Awalnya aku lebih gugup darimu, tapi lambat laun aku terbiasa."


David mengira bahwa Tania sangat gugup karena dia belum pernah melihat dunia luar....


"Terimakasih ya." Tania sangat bersyukur, ternyata rekannya di departemen keamanan cukup baik.


"Ayo, kita patroli disana." David mengajak Tania berpatroli dan juga menjelaskan kepadanya beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika bekerja.


Keduanya sedang mengobrol ketika sebuah mobil Rolls Royce Wraith melaju kebawah.


Tania berpikir dirinya bisa berakhir seperti ini, semuanya karena ulah si iblis itu, hatinya terbakar amarah dan ingin mencabik-cabik si iblis itu!


Namun karena berpapasan, dia ingin sekali bertanya sebenarnya apa yang menyinggung perasaannya.


Jika tidak, maka kelak akan lebih sulit. Berpikir sampai sini, kemudian Tania mengikutinya.


"Pagi, Pak Presdir." David membuka pintu mobil dan menyapa dengan hormat.


Hei, hei, ini sudah jam setengah 11.

__ADS_1


Tania mengutuk dalam hatinya.


Daniel melangkah keluar dari mobil dengan kaki jenjangnya, jas hitamnya memancarkan aura misterius, di tambah dengan wajah tampannya serta menawan tetapi dingin....


Kenapa melihatku dengan penuh kebencian?!


"Sepertinya kamu tidak cocok menjadi satpam...... " Daniel melihat mata Tania dengan penuh amarah dan berkata sinis.


"Mungkin menjadi petugas kebersihan, lebih cocok untukmu?"


"Uhh..." Tania tertegun sejenak, kemudian dia segera memberi hormat ---


"Pagi, Presdir Daniel! Pasti sangat repot datang ke kantor, Presdir Daniel sudah sarapan belum? Mau dibelikan..... "


"Boleh." Daniel tersenyum dan mengedipkan mata kepada Ryan.


Ryan segera melangkah maju dan berkata kepada Tania, "Pangsit goreng platinum, bubur iga sapi mercure, acar my star, kopi seduh manual...... , sudah itu saja."


"Uhh.... " tania terbelalak dan tertegun sejenak.


"Terimakasih." Daniel melirik nya dengan senyuman tipis kemudian pergi.


Beberapa pengawal mengikutinya.


"Antar ke ruang rapat lantai 66 dalam waktu setengah jam."

__ADS_1


Setelah Ryan menyuruh Tania, kemudian dia dengan cepat menyusul Daniel.


Tania tercengang, padahal dia menyapanya dengan santai. Tapi si iblis ini benar-benar menyuruhnya dengan kasar untuk membeli sarapan.....


__ADS_2