Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 215


__ADS_3

Terdengar suara Carla yang imut bercampur tangisan menyentuh hati Tania. Tania ingin menjawabnya, tetapi ia tidak berani bicara.


"Mami, kamu baik-baik saja, 'kan? Apa ada orang jahat yang menindas mu? Carles akan membantu Mami menghajarnya."


Suara Carles membawa semangat pria kecil, seolah tinjuan kecilnya terkirim kemari dari seberang telepon dan menunjukkannya dihadapan Daniel.


Tania menundukkan kepala, menggigit bibir bawahnya. Ia tidak berani bicara. Ia dapat merasakan Daniel sedang menatapnya. Tatapan seperti ingin membunuh.


"Mami, kenapa tidak bicara? Apa Mami diculik? Kalau Mami diculik, tolong bersuara hm dua kali."


Carlos selalu berpikiran terlogis diantara anak-anak seumurannya. Jantung Tania seperti tersangkut di tenggorokan, hampir melompat keluar...


Daniel memicingkan mata dengan tajam dan menatap Tania dingin. Tatapan itu bagaikan ribuan anak panah tajam, hampir menembus jantungnya...


"Mami, Mami, Mami... " anak-anak masih memanggilnya di dalam telepon.


Setelah itu, terdengar suara bibi Juli, "Nona, kamu baik-baik saja? Nona, bicaralah. Jangan menakuti kami!"


Tania tidak berani bicara sepatah kata pun, ia gemetaran.


Di saat ini, Viktor yang berada di seberang telepon merasakan sesuatu. Ia lekas menutup panggilan telepon itu.

__ADS_1


Tania menundukkan kepala, tidak berani melihat Daniel. Namun, ia dapat merasakan aura dingin terpancarkan keluar dari tubuhnya.


Hampir ingin membekukan nya menjadi es...


Daniel menggunakan ponsel menepuk-nepuk pipi Tania, "Masih tidak bicara? Atau aku harus membawa pria itu dan tiga anak itu ke hadapanmu, kamu baru bersedia bicara? Hm?" tanya Daniel dingin.


"Jangan, jangan... " Tania menarik tangannya dan memohon dengan cemas, "Anak itu tidak bersalah. Kamu jangan sembarangan, aku mohon padamu!"


Ia tahu, begitu membuat Daniel marah, Daniel akan melakukan segalanya!


"Kalau begitu katakan padaku dengan jujur, anak itu milikmu?" tanya Daniel.


"Tiga anak yang mencuri Chip itu?"


Daniel meremas dagunya agar Tania menatap matanya.


"Bukan, bukan begitu. Mereka tidak mencuri Chip." Tania bergegas menjelaskan, "Seorang pria berbaju hitam memasukan Chip itu kedalam saku Carles. Kemudian Roxy menelannya.


Saat itu aku tidak tahu situasinya, begitu aku tahu, aku segera memberi obat pencahar untuk Roxy agar mengeluarkannya. Setelah Chip itu keluar, aku segera mencari cara mengembalikannya padamu... "


Suaranya semakin kecil dan semakin ketakutan.

__ADS_1


Tatapan Daniel seperti ingin menerkamnya, diliputi pancaran aura dingin. Ekspresi wajahnya juga sangat suram, seperti cuaca langit sebelum badai hujan turun...


"Kami sungguh tidak mencuri chip itu. Kami tidak tahu chip itu barang apa... " Tania masih menjelaskan dengan lemas, "Coba kamu pikirkan, jika kami sungguh mencuri chip itu. Kenapa kami tidak menjualnya kepada pihak musuhmu? Malahan memikirkan cara mengembalikannya padamu..."


"Siapa ayah anak-anak itu?"


Daniel sangat mementingkan pertanyaan ini. Suaranya tampak tenang, namun sebenarnya ia tegang.


Jantung Tania berdebar kencang. Ia gelisah, ia ingin sekali bilang pada Daniel bahwa anak itu miliknya. Tetapi ia tahu, sekarang ini ia tidak boleh memberitahukan kebenarannya.


Ia ingin mengarang cerita kebohongan, tetapi ia tidak mahir berbohong...


Atau yang benar adalah entah apa pun yang dikatakannya, sudah tidak mampu menipu Daniel lagi.


"Bicara!!" Daniel berteriak.


Bulu kuduk Tania meremang, ia menatapnya sambil gemetar, "Milik, milik, milik... "


Dia mengatakan 'Milik' untuk waktu yang lama...


"Milikku?" walaupun Daniel mencoba yang terbaik mengendalikan diri dan menyembunyikannya, tetapi ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Empat tahun lalu itu, kamu hamil dan tidak mengalami keguguran. Kamu malah melahirkan tiga orang anak....begitu, 'kan?"

__ADS_1


__ADS_2