Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 259


__ADS_3

"Jangan..." Tania ingin menghentikan, tapi ia diseret oleh Daniel kekamar.


"Daniel, dasar kau bedebah." Viktor berteriak marah, "Kamu bertindak sewenang-wenang? Aku sudah melapor polisi. Jika Kamu tidak melepaskan Tania, pihak polisi...."


"Suruh mereka menghadapku!" Daniel menyela ucapannya dan berseru dingin, "Kenapa bengong saja? Cepat seret sampah ini!"


"Baik." Dua orang pengawal segera menyeret Viktor pergi.


Viktor berteriak dan menarik perhatian semua keluarga dan pasien disekitar. Tetapi melihat adegan ini, mereka bergegas mundur, tidak ingin banyak ikut campur.


Didalam kamar pasien, Daniel menatap Tania seolah sedang menatap orang asing, "Jika tidak ingin mati, berbaringlah disana dengan patuh!"


Daniel melempar Tania keatas ranjang dengan marah.


Tania berbicara dengan lemas, "Daniel, Viktor salah paham padamu, tapi aku selalu percaya padamu.... "


"Begitukah? Percaya padaku? Tapi masih mencurigaiku menculik anak-anakmu?"


"Bukan begitu, aku..."


"Aku tidak boleh difitnah dengan sia-sia," Daniel duduk diatas sofa dengan anggun, "Karena kalian aku adalah iblis keji tak berperasaan, orang jahat, brengsek dan bedebah. Maka aku akan bersikap keji, agar kalian melihatnya."


"Jangan... aku mohon padamu..." Tania menggelengkan kepala dan menangis.


"Simpan sedikit tenagamu untuk memohon belas kasihan demi anakmu."


Daniel menatapnya dingin lalu bangkit berdiri dan pergi.


"Daniel, Da... " Tania ingin menghentikannya tapi pintu telah tertutup dan terkunci dari luar.


Ia tidak berani berpikir entah apa akibatnya nanti, jika bawahan Daniel berhasil menangkap anak-anak!


'Tok tok'


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Lily masuk dengan mendorong kereta medis kedalam.


"Dokter Lily..." Tania mendekati Lily antusias, "Aku minta tolong padamu, tolong bicara pada Daniel, agar ia tidak menyentuh anakku."

__ADS_1


"Apa kamu tidak merasa ini adalah hal baik?"


"Apa? Bagaimana bisa ini adalah hal yang baik?"


"Tuan Daniel memang orang yang bermulut keras, tapi berhati lembut." Lily menghela napas tak berdaya, "Jelas-jelas ia mengutus orang untuk mencari anakmu, ia malah bilang pergi menangkap anak...."


"Benarkah?" Tania setengah percaya setengah ragu-ragu, "Apakah ia sebaik itu?"


"Tuan Daniel sangat menyayangimu, bahkan ia kerumahmu untuk mencarimu. Saat melihatmu pingsan, ia membawamu kerumah sakit dan ia juga menjagamu semalaman disini." Lily berkata dengan sungguh-sungguh, "Bahkan aku yang orang luar saja tersentuh melihatnya, kenapa kamu malah bersikap acuh tak acuh padanya?Memang temperamennya agak buruk dan sedikit paranoid, tetapi hatinya sangat sederhana. Jika kamu memahaminya dan memperlakukannya dengan baik, semua masalah tidak akan serunyam ini."


Tania memikirkan perkataan Lily, tampaknya agak masuk akal, "Selama ia bisa membantuku mencari anakku dan tidak menyakiti keluargaku, maka aku akan sangat berterima kasih padanya."


"Ryan telah bertindak, ia pasti akan menemukan anak-anak."


"Terima kasih..."


Setelah diobati oleh Lily, Tania bergegas menelpon Bibi Juli yang sedang diobati dikamar pasien lantai atas. Tampaknya perkataan Lily benar, Daniel hanyalah bermulut keras, namun berhati lembut. Ia sama sekali tidak menyakiti Bibi Juli. Tapi, jika ia tidak bisa lepas dari genggaman Daniel, maka ia juga akan sebisa mungkin untuk melarikan diri saat kesempatan ada! Daniel sudah berpikir bahwa ketiga anaknya bukan miliknya, Tania takut Daniel akan menyakitinya. Maka dia sendiri yang harus segera menemukan ketiga anaknya!


Begitu Lily pergi, saat itu pengawal lepas kendali, dia terlihat sedang menelpon seseorang, pintu tidak terkunci.


Begitu Tania melihat keluar pintu, pengawal itu berjalan kesamping dan membelakanginya. Dia segera melarikan diri dengan membawa Roxy.


Pengawal Daniel yang melihatnya pun segera berteriak, "Nona Tania..."


Tania berlari dan memasuki lift, turun kebawah.


Para pengawal hampir saja berhasil mengejarnya, tetapi mereka tercengang saat di depan ada sebuah mobil Lamborghini dengan kap terbuka.


Disaat ini, ketika Viktor sedang berada di kursi pengemudi melihat Tania yang berlari dari arah depan, ia berteriak, "Tania, cepat kemari!"


"Viktor?" Langkah kaki Tania berhenti, sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Viktor lagi....


"Cepat naik mobil." Viktor panik, dan buru-buru menarik Tania pergi.


Saat pengawal berhasil mengejar, mobil Lamborghini itu melesat pergi. Pengawal segera menelpon Ryan, satu diantaranya melihat Viktor dikursi pengemudi.


Entah kenapa, Tania merasa sudah lepas dari pengejaran, tetapi hatinya sama sekali tidak merasa bahagia, ada suatu perasaan, rasanya dirinya telah melakukan suatu kesalahan.

__ADS_1


"Jangan takut. Kamu sudah aman." Viktor membelai begitu Tania panik.


.......


Lantai 68, ruang kantor Presdir.


Ketika Daniel sedang melihat dokumen, terdengar Ryan mengetuk pintu dan melapor, "Tuan Daniel, itu..."


Ia berhenti, lalu dengan hati-hati ia berbicara, "Nona Tania melarikan diri!"


Tangan Daniel yang sedang mengoperasikan laptopnya itu terhenti, "Apa kamu bilang?"


"Nona Tania, ia... " Ryan menarik napas dalam-dalam dan ber hati-hati, "Ia melarikan diri."


Daniel mengernyitkan kening, wajahnya menunjukan rasa tidak percaya.


Ryan menambahkan, "Saat perhatian Hartono dan yang lainnya teralihkan, Nona Tania melarikan diri. Saat kami mengejarnya, ia sudah naik kedalam mobil Viktor...."


Kening Daniel mengkerut, cahaya dingin berkedip dimatanya. Pulpen yang ada dalam genggamannya itu akhirnya patah!


Ryan ketakutan hingga memucat, "Aku sudah menyelidikinya, Viktor membawa Nona Tania ke vila di pinggiran barat, aku akan membawa orang kesana...."


"Tidak perlu." Daniel menyela ucapannya dan berkata dengan dingin, "Dia sendiri yang akan kembali!"


'Tok tok tok'


Thomas mengetuk pintu dan masuk kedalam, "Tuan Daniel, aku telah menyelidiki mereka. Ketika mereka pulang sekolah, biasanya Bibi Juli akan menjemput mereka, tapi kemarin Bibi Juli sakit rawat inap, jadi tidak pergi. Nona Tania terlambat 20 menit saat menjemput mereka, jadi anak-anak...."


Daniel memeriksa dokumen itu. Tatapannya ruwet saat melihat foto ketiga anak itu. Anak yang begitu menggemaskan, perawakan yang tampan dan cantik serta senyuman yang cerah.


Mata yang jernih dan indah di foto itu seolah dapat berbicara. Ada suatu aura yang spesial yang terpancarkan!


Seperti malaikat yang turun dari surga, murni dan indah!!


Saat berpikir ini, jelas ini adalah anak orang lain! Tetapi, saat Daniel melihat foto ini, entah kenapa hatinya menjadi lunak.


Setelah serasa sudah puas melihat foto ini, kemudian ia memberi perintah, "Pergi ke departemen polisi lalu lintas. Bawakan kepadaku seluruh rekaman cctv disekitar jalan Bahagia no.1. Setelah itu, aku akan urus sendiri!"

__ADS_1


"Baik!"


__ADS_2