Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 139


__ADS_3

"Aku mengerti, aku akan segera mengurusnya."


Tania buru-buru berlari tanpa alas kaki, tak lama kemudian ia berjalan kembali untuk mengambil sepatunya, dan tersenyum pada Daniel, "Hehe."


Ia sungguh gembira bisa mendapatkan uang!


Daniel melihat punggung Tania, tersenyum menyeringai dan mengejek, "Wanita ini, sungguh serakah! Kenapa dia sangat suka uang?!"


Tania melapor pada Wina, memakai sepatu, dan buru-buru pulang ke rumah.


Baru masuk pintu, Tania langsung berteriak, "Bibi Juli, obat yang waktu itu diberikan pada Roxy, apakah masih ada?"


"Obat apa?" Bibi Juli balik bertanya.


"Tidak mau minum obat, tidak mau minum obat." Roxy berteriak kencang di dalam sangkar.


"Diam." Tania meneriaki nya dan berkata lagi pada bibi Juli, "Yang waktu itu. Obat warna hijau yang diberikan pada Roxy, lalu chipnya langsung keluar.... "


"Masih ada setengah botol kecil lagi, kenapa? Apa Nona lagi sembelit?"


"Bukan, di kantor ada orang tua yang memerlukannya. Bibi Juli bantu menyiapkan sepanci bubur iga sapi, lalu buatkan juga sedikit bakpao sayur, kemudian belikan sebuah keranjang buah, aku mau ke rumah sakit menjenguk orang sakit."


"Baik."


Tania ke kamar menemani Carla yang masih sedikit sakit.


Pukul 1:30 siang semuanya sudah disiapkan bibi Juli, obatnya juga sudah ada.

__ADS_1


Tania segera mengambil barangnya dan buru-buru ke rumah sakit.


Saat di mobil, dia melihat jika di botol obat itu tertulis 'Minum dan Lancar', namanya juga sudah jelas, sekali minum, langsung lancar!


Begitu sampai tujuan, Tania mendapati bahwa ini adalah rumah sakit tempat dimana Carla berobat, RS Hati Kudus!


Rumah sakit itu adalah yang terbaik di Kota Bunaken, semua pengobatannya adalah pelayanan satu pintu, pasien dan keluarga tidak perlu kesana kemari untuk mengurus administrasi. Setiap pasien memiliki perawat dan dokter khusus.


Pelayanannya sangat bagus, tentu saja biayanya sungguh sangat mahal. Lily menunggu Tania di depan pintu, kemudian mengantarnya menemui Direktur Toni.


Orang tua yang malang itu berbaring di ranjang pasien mewah seorang diri, kedua matanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong.


Hanya dalam waktu 2 hari, Direktur Toni sudah kurus kering tinggal tulang yang dibungkus kulit, dia menolak obat apa pun.


Saat perawat mendekati dan memberi obat, dia langsung marah, "Pergi, saya tidak mau minum obat lagi, saya lebih baik mati dari pada minum obat pencahar... "


"Direktur Toni sudah minum obat pencahar lima kali, makanya bisa kurus seperti ini. Tidak heran, jika ia menolak minum obat apa pun sekarang."


Tania mengerutkan kening dan menghela napas, "selain itu, walaupun dia meminum obat pencahar lagi, tidak ada yang bisa menjamin chip itu bisa keluar dalam waktu singkat."


"Aku punya satu obat, begitu diminum, pasti langsung keluar." Tania mengeluarkan botol 'Minum dan Lancar', lalu menggoyang-goyang kan nya dan tersenyum misterius, "Terbukti manjur!"


"Uh... " Lily mengedipkan mata, "Berdasarkan pengalamanku, seharusnya obat ini bukan obat biasa.... Tapi, Tuan Daniel minta kamu untuk datang, kamu coba saja."


"Hmm." Tania menjinjing makanan dan buah yang sudah disiapkan nya sejak awal masuk kamar pasien.


"Pergi__ __" Direktur Toni ingin marah. Saat melihat Tania, dia bengong, "Kamu?"

__ADS_1


"Apakah Anda masih ingat saya?" Tania sedikit sungkan, "Waktu itu, hal itu... "


"Waktu itu, terima kasih. Jika bukan karena kamu, nyawa saya sudah melayang." Sikap Direktur Toni menjadi ramah.


"Jangan sungkan, ini adalah makan siang yang saya bawakan untuk Anda. Cobalah dulu, apakah Anda suka. Dulu, Papa saya sangat menyukai makanan ini."


Melihat makanan-makanan ini, Direktur Toni mengeluarkan air mata, "Saya sudah dia hari tidak makan, binatang itu tidak memberikan saya makanan, hanya menyuruh saya meminum obat pencahar."


"Cepat dicoba." Tania menuangkan semangkuk bubur iga, "Ini buatan bibi Juli, sejak kecil saya menyukainya."


"Terima kasih." Direktur Toni mencicipi sesuap, air matanya hampir menetes, "Enak, sungguh sangat enak."


"Makanlah pelan-pelan, masih ada." Tania menjaga Direktur Toni, mengakrabkan diri dan membantu memijat kakinya.


Di sepanjang siang itu, keduanya pun menjadi sahabat baik, bisa membicarakan apa pun.


Direktur Toni menyapa dengan akrab, "Tania, jangan berdiri. Cepat duduk!"


"Tidak perlu." Tania tidak mau berbasa-basi lagi.


"Direktur Toni, sebenarnya saya membawa sebuah tugas. Saya tahu Anda sangat tidak suka minum obat. Namun, saya jamin, setelah Anda minum obat ini, chipnya pasti akan keluar, ini terakhir kalinya."


Direktur Toni mengerutkan dahinya, "Presdir Daniel yang menyuruhmu datang?"


"Ya." Tania mengangguk jujur, "Namun, obat ini saya bawa sendiri dari rumah, terbukti manjur. Sungguh!"


"Baiklah, saya akan minum."

__ADS_1


__ADS_2