Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 130


__ADS_3

Tania mencuci wajahnya di toilet, perlahan ia menenangkan diri, dengan detail mengingat-ingat kejadian malam itu, dalam hatinya ada beribu hal yang tidak ia mengerti....


Dari pesan singkat ia mencari nomor 'GIGOLO PELUNAS HUTANG', Tania ragu apakah dia harus menghubunginya?


Memikirkan hal yang dia lakukan hari itu, beberapa waktu ini juga pria itu tidak menghubunginya. Jika ia menghubunginya sekarang, bukankah itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri?


Terlebih lagi, ia sudah susah payah memutuskan hubungan dengan gigolo itu.


Berulang kali ragu, akhirnya Tania keluar ke menu utama, sekarang hal yang paling merepotkan adalah Daniel. Kini Daniel sudah memiliki perasaan terhadap Tania, jika terus-menerus seperti ini, pasti akan muncul masalah lagi.


Mungkin jalan satu-satunya adalah meninggalkan Grup Sky Well....


Penghasilan menyanyi di Downtown kini sudah dapat menghidupi keluarganya, tunggu sampai pekerjaan disana sudah stabil, ia akan mengajukan pengunduran diri dari Sky Well.


Ketika Tania sudah membuat keputusan, dia merasa jauh lebih tenang.


Ia memasukan ponselnya dan kembali ke tempat bekerja, lanjut bekerja dengan hati yang tenang.


Tiba-tiba Bella datang, bertanya dengan cemas, "Tania, Presdir Daniel tidak memecatmu, kan?"


"Kenapa harus memecatku?" Tania balik bertanya.


"Apa tidak apa-apa barusan kamu menentang dia seperti itu?" Bella melihat sekeliling, dengan suara kecil berkata, "Aku lihat raut wajahnya seperti mau memangsa orang, aku sungguh takut."


"Um ya, dia sangat marah." Tania pura-pura sedih, "Dia membentak ku, lalu mengusir ku."

__ADS_1


"Hanya di bentak?" Bella takjub.


"Harusnya bagaimana?" Tania tersenyum pahit.


"Baiklah, kamu sangat beruntung..."


Bella tidak berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan kembali ke meja kerjanya.


Tania berpikir dalam benaknya, ia harus menjaga jarak dengan si iblis itu. Jika tidak, gosip akan tersebar di perusahaan.


Saat pulang kerja, beberapa rekan mengajaknya untuk makan bersama, Tania menolak.


Ia ingin pulang ke rumah menemani anak-anaknya, dan jam 8 malam masih harus pergi bekerja paruh waktu di bar.


Tania bergegas pergi ke taman kanak-kanak, mirip dengan pemandangan kala itu.


**


Alisia dan Kety dengan garang duduk di atas sofa, kepala sekolah baru ibu Desy dan ibu guru Brenda berdiri di depannya dengan cemas, seperti pelayan yang melakukan kesalahan.


Bibi Juli berdiri disamping melindungi Carla.


Carlos, Carles dan Kristian tidak berada disana.


"Waktu kami terbatas. Jika orang tuanya tidak datang juga, langsung lapor polisi saja." Kety memerintahkan pengacara di belakangnya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya Kety.... " Pengacara mengeluarkan ponsel, bermaksud menelpon polisi.


Carla menangis, ia mengayunkan tangan kecilnya yang gemuk, menggelengkan kepala ketakutan, "Aku tidak mau masuk penjara, aku tidak mau masuk penjara.... "


"Carla, jangan takut, Mami akan segera datang." Bibi Juli menenangkan Carla.


"Adik kecil, kamu tidak perlu takut." Alisia berkata dengan senyum sinis, "Kamu baru berumur tiga setengah tahun, meskipun berbuat kesalahan, kamu tidak bisa masuk penjara. Yang akan masuk penjara adalah walimu, yaitu Mamimu!"


"Tidak, aku tidak mau Mami masuk penjara... "


Carla menangis lebih keras, seluruh wajahnya memerah, membuat orang-orang yang melihatnya sangat sedih.


"Carla!" Tania menghampiri Carla, memeluknya dengan penuh kelembutan.


"Mami!" Carla memeluk lehernya Tania, ia menangis sesegukan, "Mami, maaf... "


"Carla jangan takut, Mami disini, tidak akan terjadi apa-apa." Tania menepuk-nepuk punggung Carla, ia dengan tenang berkata, "Beritahu Mami, apa yang terjadi?"


"Mami, aku menghilangkan gelang itu... " Carla menangis sesegukan, suaranya tidak terdengar jelas.


"Kalau begitu, biarkan aku yang memberitahumu." Kety tersenyum memandang Tania,


"Gelang berlian turun temurun pemberian orang tuaku untuk cucunya, bernilai lebih 60 Milyar, dan putrimu menghilangkan gelang itu. Menurutmu, apakah kamu harus ganti rugi?"


"Ma, untuk apa berbicara begitu sopan?" Alisia berkata dengan penuh emosi, "Jelas-jelas adalah pencuri."

__ADS_1


__ADS_2