
Tania termenung, mungkin begini juga itu lebih baik. Begitu Daniel mengetahui, banyak karyawan perusahaan yang mengetahui ia punya pacar. Hal ini pasti membuat Daniel dongkol dan menjaga jarak dengannya.
Memikirkan ini, Tania tersenyum sambil menganggukkan kepala, "Ok, aku traktir kalian makan."
"Jangan makan, deh, kita ke bar minum saja." Yuni menambahkan, "Kami para wanita harus diet. Malam hari tidak makan, kita harus minum bir untuk merayakannya!"
"Benar, benar. Kali ini Manajer Alex tidak ada, kami tidak akan sembarangan memesan lagi." Sahut seorang rekan kerja pria.
"Benar, waktu itu Manajer Alex memesan banyak alkohol import, tagihannya jadi sangat mahal. Kami tidak akan seperti itu lagi."
Mendengar ucapan itu, tatapan Yuni menjadi dingin, tetapi dengan cepat kembali normal. "Aku ada voucher, bisa dapat potongan banyak." Jawab Yuni tersenyum.
"Boleh juga, kalau begitu kita ke bar saja." Tania menyetujui.
Sekelompok orang keluar dari lift, para rekan kerja masih mengerumuni Tania dan tidak berhenti bicara. Semuanya adalah ucapan selamat.
Tania tertawa canggung, selain 'terima kasih' ia tidak tahu harus berkata apa. Ia menoleh melihat Yuni. Hanya Yuni yang tidak menyanjung atau membuat-buat.
Saat itu, Tania merasa Yuni adalah yang terbaik diantara mereka.
"Eh, itu Presdir Daniel, kan?" Seorang rekan kerja bergegas menyadarkan, "Cepat, cepat, jangan bicara lagi. Berdiri disini."
Para rekan kerja segera terdiam, semuanya berdiri dipinggir dengan rapi.
Saat Daniel lewat dihadapan mereka, semua orang menundukan kepala dan menyapa, "Presdir Daniel!"
__ADS_1
Daniel melirik Tania sekilas, lalu pergi.
Tania melihat punggungnya, ia merasa ini benar-benar mirip pria itu, sangat mirip.
Tetapi.....
'Kring.... kring'
Ponselnya tiba-tiba berdering, telepon dari 'GIGOLO PELUNAS HUTANG' Tania bergegas menerima telepon. "Hallo."
"Sudah keluar belum?"
Mendengar suaranya, Tania mendongakkan kepala melihat kedepan. Daniel sama sekali tidak terlihat sedang ber telepon. Sebaliknya ia berjalan kedepan tanpa melihat kesamping. Kemudian, membisikkan sesuatu kepada Ryan disampingnya.
Bukan Daniel, berarti ia yang terlalu banyak berpikir?
Di depan pintu terparkir mobil Rolls Royce Phantom milik Daniel. Para pengawal membuka pintu, mengawal Daniel naik mobil.
Tania sedang bengong, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari arah sampingnya.
Matanya mengikuti arah suara itu. Ia melihat mobil Aston Martin yang sering dikendarai 'Gigolo PELUNAS hutang' sedang terparkir disamping hamparan bunga yang tak jauh dari sana.
Ia bersiap jalan kesana, Rolls Royce Phantom melaju pergi, sedangkan Aston Martin melaju kemari dengan cepat seperti hembusan angin. Mobil itu berhenti dengan anggun dihadapannya.
Jendela mobil diturunkan. 'GIGOLO PELUNAS HUTANG' yang memakai topeng hitam mengeluarkan kepala. "Hai!" Sapanya dengan tersenyum.
__ADS_1
Tania tercengang. Rasanya ada yang aneh, tetapi tidak tahu apa. Dandanan ini, postur fisik dan mata.... Semuanya sama!
Tidak, matanya!
Mata 'GIGOLO PELUNAS HUTANG' walaupun tidak sedingin Daniel. Tetapi matanya selalu serius. Matanya tidak akan bercahaya seperti ini, apalagi ia tersenyum sembari memiringkan kepalanya.
"Kenapa bengong?"
Tania sedang merenung, tiba-tiba terdengar suara hangat disisi telinganya.
'GIGOLO PELUNAS HUTANG' turun dari mobil dengan seikat bunga mawar Champagne. Satu tangannya menariknya dalam pelukan. Bibir tipis seksinya mendekat, "Sayangku, aku rindu sekali denganmu!"
"Apa yang kamu lakukan?" Tania buru-buru menghindar, mengomelinya sambil menggertakkan giginya. "Kau cari mati, ya!"
"Bukankah kamu bilang harus berpura-pura jadi pacar? Ini akting, agar terlihat sedikit lebih nyata, kan?" GIGOLO PELUNAS HUTANG, menyeringai.
"Tetapi..... " Tania baru saja ingin bicara, tapi para rekan kerja lainnya sudah mengerumuni mereka.
"Wah, pacar Tania benar-benar kaya, tinggi dan tampan!"
"Bawa mobil sebagus ini, wajahnya tampan. Benar-benar membuat orang iri!"
"Eh, kenapa kamu mengenakan topeng?"
"Pacarku menyukainya. Semuanya adalah rekan kerja pacarku, kan? Mohon bantuan kalian, ya!"
__ADS_1
'GIGOLO PELUNAS HUTANG' menyapa para rekan kerja dengan ramah. Mereka tak berhenti memujinya.