
"Yang mati itu kamu!" Kata Daniel dingin dan arogan, seperti dewa yang mengatur hidup. dan mati.
"Apa yang Anda katakan... "
Meskipun Daniel tidak melakukan apa pun, namun Alex sudah panik, tangan yang menggenggam pisau belati itu gemetar.
Saat Daniel menyipitkan matanya, aura pembunuhnya keluar. Sebelum Alex sempat bereaksi, sebuah tangan merebut pisau yang sedang di genggamnya dengan secepat kilat. Ia masih ingin membalas, namun tangannya langsung ditahan.
"Krakkk!!" Suara tulang patah terdengar, diiringi oleh suara jeritan melengking bergema.
"Berani-beraninya mengancam Presdir Daniel, lancang sekali!" Ryan sangat marah, menyeret Alex dengan kasar seperti menyeret anj*** hutan yang sedang sekarat...
Pandangan Tania menggelap, ia perlahan jatuh ke lantai. Sepasang tangan kuat menahannya, melalui pandangannya yang kabur, ia melihat wajah tampan dan marah Daniel....
"Panggil dokter!"
"Baik."
***
Tidak sadar sudah berapa lama Tania tertidur, ia bangun dengan linglung, ia terbaring di sebuah ranjang yang keras, di sebuah ruangan dengan nuansa yang sejuk, membawa rasa khusyuk dan bermartabat.
Lampu gantung di langit-langit diukir dengan tanda S emas, yang merupakan simbol dari Daniel.
__ADS_1
Jangan-jangan ia sedang berada dikamar Daniel?
Tania duduk bertopang pada tubuhnya yang lemah, menyadari pakaiannya telah diganti, sekarang ia hanya mengenakan sehelai gaun tidur berwarna putih, tanpa baju dalam apa pun.
Bagai petir yang sedang menyambar di pikirannya.
Gawat, bagaimana dengan chip itu?
Apakah Daniel sudah mengetahuinya???
"Anda sudah sadar?"
Sebuah suara lembut terdengar, menyela pikiran Tania.
"Kamu.... " Tania menatapnya bingung.
"Aku adalah dokter pribadi keluarga Daniel, namaku Lily." Dokter perempuan itu tersenyum menatap Tania, "Tuan Daniel menyuruhku untuk merawat Anda, aku akan bertanggung jawab atas pemulihan Anda."
"Uh....." Tania tertegun, sudah lama sekali ia tidak merasakan sikap hormat seperti ini. Sekilas, ia membayangkan dirinya kembali ke masa lalu, masa dimana ia adalah seorang wanita bangsawan yang kaya dan terhormat.
Saat itu, keluarga Tania juga memiliki dokter pribadi, ada orang yang akan merawatnya saat dia sakit.
Namun, saat Tania melirik keatas troli obat, terlihat seragam satpam yang terlihat rapi, imajinasi yang melayang ke mana-mana, seketika kembali ke kenyataan.
__ADS_1
"Aku hanya seorang satpam!"
Tania hendak beranjak dari tempat tidur, seketika ia merasakan sakit yang menyengat di lehernya, ia tersentak kesakitan, saat itu ia baru menyadari lehernya di perban rapat dan dipasang penyangga leher.
Bahu kirinya juga di perban rapat, sama sekali tidak dapat di gerakkan.
"Jangan bergerak." Lily membantunya berbaring lagi, "Meskipun luka dilehermu tidak mengenai urat nadi, namun lukanya sangat dalam, tetap harus berhati-hati."
"Bajuku.... " Tania berusaha meraih seragam satpam itu.
"Aku menyuruh orang untuk mencucinya." Lily meletakkan seragam dan sebuah folder dokumen transparan di sebelah bantal Tania, "Ponsel dan barang-barang di dalam kantong Anda semua ada disini, mohondi cek, apakah ada barang yang hilang?"
Saat melihat kotak hitam kecil, Tania langsung terburu-buru mengambilnya, memegangnya dengan erat dan bertanya dengan gugup. "Kalian.... apakah kalian membuka kotak ini?"
"Tentu saja tidak." Lily tersenyum, "Anda adalah tamu terhormat, bagaimana mungkin kami melanggar privasi Anda."
"Kalau begitu, iblis Daniel... Presdir Daniel, apakah.... "
Tania merasa tidak tenang, jika Daniel melihat chip ini, ia pasti mengira Tania dan segerombolan penjahat itu adalah satu tim, maka tamatlah riwayatnya.
"Setelah Tuan Daniel membawa Anda kesini, ia langsung pergi." Nada bicara Lily terdengar sangat kagum ketika ia menyebut nama Daniel, "Beliau bilang, malam ini ia akan datang."
"Oh....." Tania bernafas lega, pada saat bersamaan, dari luar terdengar suara langkah kaki, para pelayan menyapa dengan hormat, "Tuan Daniel, Anda telah kembali!"
__ADS_1