
Bibi Juli dengan tergesa-gesa berlari menahan pintu dengan meja dan kursi. Carlos segera ke dapur, mengambil 2 pisau dapur dan menyerahkannya pada bibi Juli.
Bibi Juli memegang 1 pisau di setiap tangannya, menjaga pintu seperti dewa penjaga pintu.
Carles berlari keatas balkon untuk mencari sapu, pel, tongkat jemuran, semua benda yang dapat menjadi senjata pelindung diri dan memberikannya pada keluarganya.
Sekeluarga bersenjata lengkap, menyambut pertempuran.
Namun, sekian lama, di luar tidak ada pergerakan...
Carla menahan mulut kecilnya, ketakutan hingga tubuhnya menggigil, mata besarnya yang seperti anggur ungu berkaca-kaca.
"Jangan takut, jangan takut. Mami akan menjaga kalian!" Tania memeluk Carla dan berdiskusi dengan bibi Juli, "Bibi Juli, bagaimana kalau kita melapor polisi?"
"Saya setuju!" Bibi Juli buru-buru pergi mengambil telepon genggam.
"Saat ini, prioritas utamanya adalah membuat Roxy mengeluarkan chip nya dahulu."
Carlos menyipitkan matanya, menganalisis seperti detektif kecil, "Jika tidak, setelah polisi datang, Roxy akan dibawa pergi, mereka bisa saja membelah perut Roxy untuk mencari chip.... "
Setelah mendengar perkataan ini, mulut kecil Carla mengecil, berteriak, "Waaaaaa." Dan menangis, "Jangan, jangan biarkan mereka membawa Roxy, jangan membelah perut Roxy."
"Carla jangan takut, kakak akan melindungimu dan Roxy." Carles buru-buru mengulurkan tangan kecilnya dan menghapus air mata Carla.
"Perkataan Carlos benar, kita harus membuat Roxy mengeluarkan chip nya dahulu." Tania berkata dengan cemberut, "Namun, sudah sekian hari, Roxy tidak mengeluarkannya, beberapa waktu ini kita harus bagaimana?"
__ADS_1
"Bagaimana jika mencoba ini?" Bibi Juli berlari ke kamar memgambil sebuah botol kecil berwarna hijau.
"Apa ini?" Semua melihat ke arahnya.
"Saya sering sembelit, Dokter memberikan saya resep ini." Bibi Juli sedikit sungkan, "Efeknya sungguh bagus, sekali makan langsung terlihat hasilnya."
"Kalau begitu, ayo cepat."
"Kita beri sedikit saja, jika tidak, Roxy tidak akan bisa tahan."
"Sepersepuluh.... "
Setelah setengah jam, seisi keluarga bersama-sama mengamati Roxy buang kotoran.
Carla mengerutkan alis, wajah merah mudanya penuh ke khawatiran, "Apakah usus Roxy tidak tahan? Dia kelihatannya sangat tidak nyaman."
"Saat saya diare sebelumnya juga sangat tidak nyaman." Carles memegang perutnya sendiri, melihat Roxy dengan penuh simpati. "Roxy, bertahanlah, setelah dikeluarkan maka sudah selesai. Jika tidak, para orang jahat itu akan membelah perutmu... "
"Jangan bicara lagi." Carla melengking memotong pembicaraan Carles. Carla tidak bernyali, begitu mendengar perkataan ini, maka dia merasa takut.
"Baik, baik, baik, tidak bicara lagi."
Baru saja Cerles mengecilkan suaranya, Carlos langsung berteriak, "Sudah keluar, cepat lihat!"
Mereka sekeluarga segera mengarahkan fokus kepada Roxy, berfokus memandangi pantat Roxy, menantikan hasilnya.
__ADS_1
"Tuhan berkati Roxy, agar cepat mengeluarkan chip nya... "
Berkat doa Carla, akhirnya Roxy tidak mengecewakan semua orang, dia banyak mengeluarkan banyak kotoran burung yang cair.
Kali ini tidak perlu dipilih dengan tingkat kecil, dengan mudahnya terlihat chip emas yang berkilau.
Sekeluarga bersorak gembira, saling tos, gembiranya sama seperti saat mendapatkan lotre.
Bibi Juli segera mengambil chip nya, membersihkannya dan memberikannya pada Carlos.
Carlos menaruh chip nya kembali di dalam kotak kecil hitam, dengan cermat menyerahkan kepada Tania, "Mami, sekarang sudah boleh melapor polisi."
Tania menerima kotak kecilnya, saat sedang siap menelpon 110, dari luar terdengar ketukan pintu.
'Tok, tok, tok'
Mereka sekeluarga ketakutan.
Bibi Juli segera mengambil pisau dapur, dan berdiam di depan pintu.
Carlos dan Carles masing-masing membawa senjata berdiam di belakang pintu.
Carla bersembunyi di belakang Tania, menarik baju depannya, ketakutan hingga gemetaran.
"Jangan takut, jangan takut.... " Tania menenangkan Carla, kemudian menarik nafas, mengumpulkan keberanian dan bertanya, "Siapa? Siapa ya?"
__ADS_1