
Sopir melihat anak lelaki dan kucing kecil ditengah jalan, dia kaget dan buru-buru mengerem.
Namun, sayangnya sudah terlambat. Meskipun mobil mendadak memperlambat kecepatannya, tetapi Carles tetap tertabrak.
Tubuh kecil Carles tertabrak dan terpental beberapa meter ke tanah, tidak bergerak.
"Ah__" Carla berteriak ketakutan dan menutupi wajahnya.
"Carles, Carla... " Carlos bergegas kesana.
Didalam mobil, sopir terkejut dan tercengang, orang yang duduk disebelah sopir mencoba tenang, "Kita sudah mengerem mendadak, seharusnya tidak merenggut nyawa, cepat panggil ambulans."
"Ya, ya." Sopir buru-buru menelpon untuk memanggil ambulans.
"apa yang terjadi?" Suara tua dan rendah datang dari kursi belakang.
"Tuan Besar, sopir menabrak seorang anak kecil dan sedang menelpon untuk memanggil ambulans." Sanjaya yang duduk di sebelah sopir melaporkan.
"Carles!!!" Carlos bergegas kesana dengan panik, dia melihat Carles tergeletak di genangan darah dan berteriak dengan histeris, "Tolong, tolong__ __"
"Huhuhu, Kakak, huhuhu...."
Carla terkejut sampai sekujur tubuhnya gemetar, dia berdiri dipinggir jalan dan menangis.
Tuan Besar yang duduk dibelakang membuka jendela dan menjulurkan kepalanya, dia melihat seorang anak kecil tergeletak ditengah jalan dengan banyak darah dibagian kepalanya.
Orang tua itu melihat anak lelaki kecil lainnya sedang memeluk anak yang terluka dan berteriak minta tolong, dan seorang gadis kecil sedang menangis...
Adegan ini membuat Tuan Besar cemas...
Dia turun dari mobil dan berjalan kesana dengan tongkat, dia memeriksa napas Carles, lalu memerintahkan: "Jangan menunggu ambulans lagi, cepat gendong anak-anak kedalam mobil, segera antar kerumah sakit."
"Baik."
Waktu menunjukan pukul 3:40, Tania masih didalam taksi, karena khawatir, dia buru-buru menelpon Ibu Guru Brenda dikelas Matahari: "Bu Brenda, Bibi Juli sakit dan hari ini tidak pergi menjemput anak-anak, saya dalam perjalanan menuju kesana, minta tolong Anda.... "
"Ah, Ibu Tania, anak-anak turun dari bus sejak tadi." Brenda berkata dengan tergesa-gesa, "Saat pukul 3:30, anak-anak turun di titik antar jemput. Saya pikir Bibi Juli akan terlambat beberapa menit dan mengira anak-anak akan menunggu disana sebentar saja, tidak tahu Anda.... aduh, Anda seharusnya memberitahuku lebih awal."
__ADS_1
"Anak-anak sudah turun dari bus? Kalau begitu, dimana mereka sekarang?" Tania sangat cemas.
"Seharusnya masih di titik antar jemput," Brenda sudah panik, "Saya berpesan kepada mereka berulang kali sebelum saya pergi, meminta mereka menunggu dan jangan kemana-mana, apa Anda bisa kesana memeriksanya? Jika ada sesuatu baru menelpon saya lagi?"
"Baik, baik, setelah saya tiba baru dibicarakan lagi."
Tania mendesak sopir berulang kali, pukul 3:50 dia turun dari taksi, tapi dia tercengang, dimana anak-anaknya?
Tania bertanya-tanya, kemana mereka? Dia mencari sampai ke hutan kecil yang ada disana, tetapi dia tidak menemukannya. Dia tidak peduli rasa sakit di pinggangnya, dia terus mencari dijalan pulang menuju rumah sambil meneriakkan nama anak-anaknya, "Carlos, Carles, Carla...."
Tidak ada orang yang meresponnya.
Dia sangat cemas, namun dia masih menaruh secercah harapan, mungkin mereka sudah pulang kerumah? Ketiga anaknya sangat pintar, terlebih lagi ada Carlos, seharusnya tidak akan ada masalah.
Tania bergegas kerumah, hanya ada Roxy yang menyambutnya, "Mami, Mami."
"Roxy, apa kamu melihat Carlos, Carles, dan Carla?" Tania bertanya dengan panik.
"Tidak, tidak." Roxy hanya menggelengkan kepala.
Hati Tania terasa dingin, ketiga anaknya tetap tidak ada dirumah.
Ketiga anaknya sangat pintar. Mungkin, mungkin saja mereka suka bermain, pergi bermain didaerah sekitar?
Setelah istirahat sebentar, Tania membawa Roxy untuk mencari kedaerah sekitar, bertanya-tanya pada orang-orang disana, apa melihat anak-anaknya atau tidak?
Pukul 6:40.........
Langit sudah gelap, anak-anak masih belum ditemukan.
Tania tidak bisa menahan diri lagi, menutup mulutnya, menangis keras....
Tiba-tiba Tania menyadari, mungkinkah ada orang yang menculik anak-anak?
Mungkinkah Lea? Tuan Besar? Atau keluarga Alisia?
Hati Tania sangat kacau.
__ADS_1
Dia segera menghubungi polisi.
.......
Dirumah sakit.
Carla ketakutan, ditambah lagi menangis terlalu lama, mengakibatkan amandelnya meradang, terus muntah dan batuk, bahkan mulai demam.
Tuan Besar segera meminta dokter anak untuk segera mengobatinya.
Carlos berdiri didepan pintu gawat darurat, menunggu dengan panik, hatinya sangat takut dan juga gemetar.
Saat melihat Carla juga sakit, dia semakin panik, membujuk Carla sambil memegang tangannya, "Carla jangan takut, Kak Carlos disini, Kak Carlos akan melindungimu. Berobatlah, jangan cemas!"
Carla dibawa pergi untuk menjalani pengobatan, Carlos masih berdiri disana, dia menatap Carla cukup lama, Sehingga sampai terdengar suara dibelakang, dia segera kembali ke unit gawat darurat untuk menunggu. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, mengerutkan kening, dan kedua mata jernihnya menatap lampu unit gawat darurat.
Tuan Besar memperhatikan Carlos dengan raut wajah welas asih, usianya masih begitu kecil, saat bertemu dengan masalah sebesar ini, tapi dia terlihat tetap tenang. Meski dia sendiri takut, malah masih berusaha melindungi dan membujuk kedua adiknya.
Tanpa sadar, Tuan Besar teringat pada Daniel saat masih kecil, dulu pernah terjadi masalah dirumah, dia dulu yang berusia 6 tahun juga tenang, tegar, dan tidak kacau seperti orang lain...
Saat melihat anak kecil ini, hati Tuan Besar sedikit tergerak, membujuk dengan pelan: "Jangan cemas, adikmu akan baik-baik saja."
Carlos menoleh, memelototinya dengan marah.
"Kamu yang seperti ini, sangat mirip dengan cucuku saat masih kecil." Tuan Besar mengamati Carlos dengan cermat, "Meski tampang hanya sedikit mrip, tetapi sorot mata dan ekspresi, serta perilaku kalian malah sama persis."
Carlos memalingkan wajah dengan dingin, tidak ingin memperdulikannya.
"Ekspresi yang keras ini juga sama persis." Tuan Besar mencoba bertanya, "Kamu dan kedua adikmu adalah kembar tiga?"
"Sudah seperti ini, Anda masih bisa membahas hal ini?"
Carlos tidak tahan lagi, berkata dengan kesal...
"Meski tidak ada lampu lalu lintas dijalan itu, tetapi ada penyebrangan jalan, juga merupakan jalan internal. Berdasarkan peraturan lalu lintas, seharusnya laju mobil diperlambat."
"Sopir Anda tidak memperlambat laju mobil, melanggar peraturan lalu lintas, juga menabrak adikku, itu pelanggaran hukum."
__ADS_1
"Aku menghormati Anda karena Anda seorang Kakek, juga segera mengantar kami kerumah sakit setelah terjadi kecelakaan. Oleh karena itu, aku terus menahan diri untuk tidak menyalahkan dan memarahi kalian, tapi Anda malah tidak merasa bersalah, bahkan mengobrol denganku, sungguh keterlaluan!"
"Tidak sopan!" Pengawal yang berdiri disamping berteriak.