Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 255


__ADS_3

Dibelakang Sanjaya menghampiri, Tuan Besar menoleh dan bertanya, "Bagaimana dengan anak itu?" Tuan Besar kembali dingin dihadapan bawahannya.


"Sudah keluar dari unit gawat darurat. Dokter bilang tidak membahayakan nyawa." Sanjaya melapor, "Hanya saja, pergelangan kaki kanannya patah, tubuhnya terluka, juga sedikit gegar otak..."


"Katakan pada mereka, panggil dokter terbaik, sumber daya terbaik, harua mengobati anak itu dengan baik, sama sekali tidak boleh ada efek samping." Tuan Besar memerintah.


"Baik, baik." Sanjaya mengangguk.


"Hem." Tuan Besar mengangguk, kemudian menunjuk ke bangsal dibelakangnya, "Masih ada gadis kecil itu, juga harus dirawat dengan baik, bukan hanya dari segi pengobatan, kehidupannya juga harus dijaga dengan baik, aturkan beberapa tenaga medis profesional, segalanya harus diatur dengan baik."


"Mengerti, aku segera mengaturnya." Sanjaya segera memerintahkan orang, lalu memapah Tuan Besar dan berkata, "Tuan Besar, sudah sangat malam, bagaimana kalau aku mengantar Anda pulang untuk istirahat?"


"Masalah ketiga anak itu belum diselesaikan, aku tidak bisa istirahat."


Tuan Besar berjalan ke lantai atas dengan tongkat, menghela napas lagi__ __


"Aku sudah 96 tahun, masih bisa dibuat tersentuh oleh seorang anak kecil. Baru 3 tahun, anak sekecil itu, sudah bisa menyisakan hamburger untuk adik-adiknya. Dia sendiri kelaparan, bahkan rela minum air putih saja."


"Perawat berjanji untuk membelikan bubur untuk adiknya, dia pun memberikan buku pada perawat untuk dijadikan jaminan, bahkan membungkuk padanya. Didikan anak ini sangat baik. Tidak tahu orang tua seperti apa yang bisa mendidik anak yang begitu berbakat seperti ini."


"Saat melihat anak itu, aku teringat pada Daniel. Bocah tengik itu jiga sangat menggemaskan saat kecil, sekarang sudah besar..."


Saat teringat pada Daniel yang sengaja membuatnya marah tadi pagi, raut wajahnya menjadi suram, "Semakin besar, semakin menyebalkan...."


"Tapi, sebesar apa pun dia, dia tetaplah cucuku." Tiba-tiba Tuan Besar menjadi serius, "Dia tidak mempunyai orang tua sejak kecil, akulah yang membesarkannya, aku tidak bisa membiarkan mengikuti jejak ayahnya."

__ADS_1


Sanjaya hanya menunduk tidak berani banyak bicara.


Orang-orang keluarga Daniel tahu, putra dan menantu Tuan Besar meninggal pada usia dini. Dan itu menjadi kesedihan didalam hati Tuan Besar dan menjadi duri dihati Daniel...


Jadi, itu menjadi tabu dalam keluarga Daniel!


Karena peristiwa masa lalu itulah, Tuan Besar mengatur hubungan asmara Daniel dengan sangat ketat.


Sampai sekarang Daniel belum pernah berpacaran. Karena itulah dia lebih lamban dalam masalah asmara dan juga lebih paranoid.


Mendengar beberapa waktu lalu, ada seorang wanita yang muncul disisi Daniel, bahkan hampir mematahkan kaki sepupunya Billy demi wanita itu, sampai membuat bibinya balas dendam...


Karena itu, Tuan Besar sampai datang ke Kota Bunaken, mengatasi masalah ini sendiri.


Meskipun membuat Daniel kesal dan benci, Tuan Besar tetap harus mengendalikannya dengan ketat, tidak boleh membiarkan tragedi terulang kembali.


Setibanya di bangsal, para dokter memasangkan label baru dipergelangan tangan Carles, dia sudah keluar dari unit gawat darurat. Dokter menusukkan jarum infus, kemudian menghubungkan konsentrator oksigen, alat eletrodiogram, dan alat lainnya...


Melihat itu, Carlos sangat cemas, lalu dia maju dan bertanya, "Paman Dokter, bagaimana kondisi adikku sekarang? Mengapa masih belum bangun?"


"Adik, dimana ayah dan ibumu?" Dokter bertanya dengan hangat.


"Ponsel Mamiku tidak bisa dihubungi." Suara Carlos sedikit tercekat, tapi kembali tegar dengan sangat cepat, membusungkan dada dan berkata, "Aku Kakaknya, kalau ada masalah, Anda bisa mengatakannya padaku."


Dokter tersebut tercengang seketika, lalu berjongkok dan berkata dengan lembut, "Kamu masih kecil. Untuk masalah seperti ini, seharusnya dikatakan pada ayah dan ibu. Eh, tampangmu sangat mirip dengan adik yang terluka ini. Apakah kalian kembar?"

__ADS_1


"Kami kembar tiga." Carlos menjawab dengan sopan. Kemudian bertanya lagi dengan serius, "Tolong katakan tentang kondisi adikku yang sebenarnya!"


Dokter berkata dengan serius, "Alasan utama kenapa dia belum bangun sampai sekarang adalah dia masih koma akibat cedera dikepalanya yang begitu banyak mengeluarkan darah, tetapi jangan khawatir dia akan segera siuman.


Selain itu, kami adalah rumah sakit yang profesional dan kami akan bertanggung jawab pada setiap pasien kami. Aku telah melakukan pemeriksaan secara keseluruhan padanya dan memastikan bahwa dia tidak memiliki masalah lain dan tidak akan meninggalkan efek samping lainnya, kamu tenang saja."


"Baguslah kalau begitu." Carlos bernapas lega, "Paman Dokter, tolong berikan aku salinan laporan pemeriksaan adikku, dan semua dokumen perawatannya. Aku harus memberikannya kepada pengacara, itu akan digunakan nanti pada saat meminta pertanggung jawaban dari pelaku secara hukum."


"Hah?" Dokter tercengang, apakah ini yang dikatakan anak berusia tiga tahun? IQ dan pemikiran logis anak ini lebih tinggi dari rata-rata orang dewasa!!


"Lakukan seperti yang dia katakan!"


Terdengar sebuah suara orang tua.


Dokter itu menoleh kebelakang dengan hormat, "Tuan Besar."


"Tidak perlu sungkan."


.....


Dikamar pasien, kepala rumah sakit Antoni, memeriksa situasi dan mengatur ulang semuanya sendiri.


Carlos menunggu disamping sampai semuanya selesai diatur. Semua jenis dokumen laporan pemeriksaan dan laporan perawatan sudah ditangannya, dan dia mulai merasa sedikit tenang.


Tuan Besar menatapnya dengan penuh kasih sayang, setelah melihat Carlos merasa lega, dia segera melangkah maju dan berkata dengan lembut, "Sekarang sudah lega, kan?"

__ADS_1


"Terima kasih." Carlos tidak lagi memusuhi Tuan Besar, "Mami bilang, ketika seseorang tahu kesalahannya, lalu mau berubah dan memperbaikinya, itu merupakan hal yang baik. Meskipun Anda telah melakukan kesalahan, tapi Anda sudah menebusnya, jadi aku memutuskan untuk memaafkan Anda!"


"Hahaha, terima kasih."


__ADS_2