
Tak lama kemudian, Daniel keluar dari kamar mandi hanya mengenakan sebuah handuk yang terlilit dipinggangnya.
Merasa lelah telah menghadapi kakeknya, Daniel duduk diatas sofa dan membuka botol mineral, lalu meminumnya habis.
"Mumpung mereka sedang istirahat, antarkan aku pulang." Tania berkata pelan, "Kalau tidak sekarang, mereka akan melihat ku besok saat keluar... "
"Lalu kenapa?" Daniel menatapnya dingin.
"Suasana pasti akan menjadi canggung, kakekmu pasti akan mempermalukan ku..."
"Itu tidak mungkin..." jawab Daniel sambil mengeringkan rambutnya.
"Tapi..." ucapan Tania terpotong oleh suara ketukan pintu dari luar.
"Daniel, apa kamu sudah tidur?" terdengar suara Lea.
Tania terperanjat, ia mendengarkan dengan seksama. Suara Lea terdengar dari ruangan sebelah, berarti Lea tadi mengetuk pintu kamar Daniel yang bersebelahan dengan kamar Tania. Tetapi....
Daniel saat ini sedang berada dikamar Tania!
Tania bergegas mengayunkan tangannya menunjuk keluar pintu kamarnya, mengisyaratkan agar Daniel segera memikirkan cara untuk menjawab Lea yang berada didepan pintu kamar sebelah.
Daniel tidak peduli. Ia melempar handuk keatas sofa, lalu membaringkan tubuhnya keatas ranjang, memeluk Tania.
Mata Tania terbelalak dengan takjub, dan diluar Lea masih sedang mengetuk pintu, "Daniel, aku mau bicara denganmu..."
Orang yang dia panggil itu sudah memeluk Tania dari belakang, tangannya sudah terbiasa masuk kedalam pakaiannya dan sedang meremas dadanya dengan lembut dan mata terpejam.
Tania menutupi mulutnya tidak berani bernapas, sedangkan Lea masih mengetuk pintu.
Daniel sama sekali tidak ingin menghiraukan nya, bibirnya yang hangat mencium bahu Tania dan lehernya dari belakang....
__ADS_1
Seluruh tubuh Tania menjadi tegang, dan jantungnya berdebar-debar.
Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya tidak ada gerakan diluar. Lampu di koridor juga sudah dimatikan kembali.
Tubuh Tania kembali tenang, dan berbisik kepada Daniel yang sedang mencium lehernya dengan kembut: "Jangan..... uh..."
Belum selesai bicara, ia sudah dihentikan oleh Daniel dengan ciuman hangat.
Kali ini, dia sepertinya sudah ada pengalaman, tidak lagi seperti sebelumnya menahan tubuhnya, melainkan membiarkannya berbaring miring di gaya awalnya dan dengan hati-hati menghindari pinggangnya yang terluka.
Tania masih ingin mendorongnya, tetapi Daniel menggigit daun telinganya dan berbisik: "Jangan sembarang bergerak, aku tak akan bertanggung jawab jika membuatmu sakit..."
Tania memang tidak berani sembarang bergerak, bukan hanya karena takut sakit, tetapi lebih takut gerakannya terlalu besar akan diketahui oleh orang-orang diluar.
Dia hanya memejamkan matanya dan membiarkannya menciumnya.
Nafsunya sangat kuat, setiap kali memeluknya, dia tidak bisa mengendalikan dirinya...
Tidak bertemu selama seminggu, hari ini bertemu dengannya dilapangan golf, dia mulai bersiap-siap untuk menyerang...
Meskipun ia sudah melakukannya di Hotel Langgeng, tetapi itu jauh dari cukup.
Dia mengenakan gaun yang seksi seperti dimalam ini, dan muncul di perjamuan itu yang telah menarik banyak sorotan mata.
Dia sangat cemburu!!
Dia ingin meninggalkan tanda miliknya ditubuhnya, agar dia tahu dan sadar bahwa dia adalah miliknya selamanya!
Diluar, ranting-ranting pohon yang bergoyang di jendela, seperti dua orang yang berhubungan intim diatas ranjang.
Itu merupakan malam yang panas bagi mereka berdua.
__ADS_1
Tania tidak dapat menolak antusiasme Daniel, hanya bisa membiarkannya mengendalikannya.
Dia sangat lembut dan hati-hati malam ini, tidak peduli seberapa bergairahnya dia, sebisa mungkin tidak mengenai pinggangnya yang terluka.
Jadi, pada akhirnya dia bermain dan bergerak sendiri, rasanya tidak puas. Dia berbisik ditelinganya saat memeluknya untuk tidur, "Besok, jalani pengobatan dengan patuh. Cepat sembuh, agar kamu bisa bergoyang lagi." ujar Daniel sambil tersenyum jahil.
Tania memutar bola matanya jengah, kemudian Daniel pun tertidur....
Tania mendengar dengkuran ringan ditelinganya, suasana hatinya sangat rumit...
Orang tua itu sudah mengawasinya secara langsung, Lea juga sudah datang mencarinya, terus mengapa dia masih tidak bersedia melepaskannya?
Tania menghela napas dalam-dalam dan menoleh untuk melihat Daniel di belakangnya.
Mungkin karena terlalu lelah, dia tidur dengan sangat nyenyak, dahi diantara alisnya sedikit berkerut, wajahnya yang tampan didalam kegelapan tetap membuat orang terpesona.
Entah sejak kapan, dia sudah terbiasa dengan kedekatannya, seperti sekarang memeluknya, dia tidak menolaknya sama sekali.
Melihat dia mesra dengan Lea, dia bahkan akan cemburu dan marah, juga akan curiga, apakah telah terjadi sesuatu antara dia dan Lea.....
Dia tidak tahu, apa seperti ini termasuk jatuh cinta padanya?
Apakah Daniel juga mencintai dirinya?
Dengan lembut, tangan Tania terulur untuk menyentuh wajahnya yang tampan lalu membelai pipinya. Jika dia bisa memilih, dia ingin selamanya seperti ini. Selalu bersama dan bahagia selamanya.
Tetapi, harapan itu hanyalah sebuah angan-angan yang belum pasti. Apakah semua harapan itu bisa terwujud atau tidak?
Dia hanya tahu bahwa kehangatan yang singkat ini, cepat atau lambat akan berakhir.
Jadi sekarang, dia terus menerus mengingatkan dirinya dalam hati, jika hati tidak tergerak, maka rasa sakit hati pasti tidak akan ada!
__ADS_1
Jangan, tidak boleh serius....