
Ketika Daniel akan keluar dari ruangan itu, hendak membuka pintu, Ryan yang sedang siap-siap untuk mengetuk pintu kamar, terkejut sejenak melihatnya. Lantas Ryan segera melaporkan, "Tuan Daniel, mobil Tuan Besar sudah memasuki jalan hijau."
"Untuk apa dia datang larut malam begini?" Daniel mengernyitkan kening.
"Beliau datang bersama Nona Lea." Ryan menambahkan.
Daniel terkejut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menutup pintu kamar Tania.
Tania yang mendengar semua ini dari dalam kamarnya, merasa gelisah. Apakah Tuan Besar datang bersama Lea selarut ini, untuk menangkapnya?
"Bawa jaketku!" terdengar perintah Daniel dari luar.
"Baik, Tuan!"
Daniel membawa beberapa orang untuk menyambut kedatangan kakeknya.
Tania tidak dapat melanjutkan tidurnya, dengan hati-hati ia beranjak berdiri dari ranjangnya.
Terdengar suara mobil yang berhenti dilantai bawah. Lampu vila yang tadinya redup, kembali menyala seterang cahaya siang hari.
Tania menyipitkan matanya berjalan kearah jendela. Ia menarik sedikit tirainya dan mengintip keluar.
Daniel membawa Ryan dan para pengawalnya untuk menyambut Tuan Besar didepan pintu utama.
Para pengawal dan pelayannya berdiri dengan rapi dalam dua barisan, dengan penuh hormat menyapa, "Selamat datang, Tuan Besar!"
Daniel membukakan pintu mobil untuk kakeknya, menuntunnya turun dari mobil.
Ryan membukakan pintu mobil disisi sebelah untuk Lea, membantunya turun dari mobil.
Lea berjalan mengitari mobil, bergegas untuk menuntun Tuan Besar.
"Kakek, berkat kakek, aku bisa datang ke vila Daniel." Lea menatap Daniel dengan marah, "Ia tidak pernah membawaku kesini sebelumnya."
Daniel terdiam.
__ADS_1
Tuan Besar melayangkan pandangannya kearah Daniel, lalu berkata kepada Lea, "Lokasi vilamu yang berada di tepi pantai itu terlalu terpencil. Mulai hari ini, tinggallah bersama Daniel disini."
"Benarkah?" Lea terkejut sekaligus gembira, "Bolehkah aku tinggal disini, Daniel?"
Daniel membuka mulutnya, namun Tuan Besar memotongnya, "Tidak perlu menanyakan pendapatnya. Aku bilang boleh, berarti kamu boleh pindah kesini!"
"Ah, terima kasih kakek!" Lea melempar senyum menyeringai ke arah Daniel, lantas menuntun Tuan Besar masuk kedalam vila.
Ryan, para pengawal dan pelayan mempersilahkan masuk kedalam sambil membungkukkan badannya.
Daniel melirik kearah kamar Tania yang berada di lantai dua.
Tania segera menutup tirai kamarnya dan melangkah mundur. Ia merasa panik, seandainya Tuan Besar membawa Lea tinggal dirumah ini, lalu bagaimana dengan dirinya?
Seandainya Tuan Besar mengetahui keberadaannya, akankah ia bersekongkol dengan Lea untuk menyiksanya dan mempermalukannya? Hatinya menjadi sangat gelisah...
Bagaimana ini?
Saat ia memikirkan masalah ini, terdengar suara langkah kaki yang berhenti tepat didepan kamarnya...
Tania perlahan-lahan berjalan tepat kebelakang pintu kamarnya, berusaha mendengarkan perkataan mereka.
"Tidak boleh kamar yang ini, pilih kamar yang lain saja." Daniel menjelaskan dengan datar.
"Kenapa?" rengek Lea, "Aku ingin tinggal disebelah kamarmu."
Tania mengernyitkan keningnya, ia menahan napas mendengarkan percakapan mereka.
Apakah Lea mengetahui keberadaannya dikamar ini?
Daniel tidak akan mungkin setuju, kan?
Jaket dan sepatu Daniel masih berada didalam kamarnya, bahkan perlengkapan mandi Daniel pun, masih didalam kamarnya.
Seluruh orang yang melihat penampilannya dan isi kamarnya saat ini, pasti akan mengetahui hubungan antara mereka berdua...
__ADS_1
"Ruangan itu juga berada persis disebelah kamarku." Daniel menunjuk ke salah satu ruangan lain, "Kamu tinggal disana saja!"
"Boleh juga." Lea tersenyum, "Kakek, aku pergi membereskan barang-barangku, ya?"
"Pergilah," Tuan Besar mengamati pintu kamar Tania lekat-lekat, lalu berkata kepada Daniel, "Aku ingin berbicara di kamarmu."
"Sudah selarut ini, apakah Kakek tidak ingin istirahat?" Daniel berusaha menolaknya.
"Aku tidak terburu-buru," Tuan Besar berjalan kearah kamar Daniel.
Ryan bergegas membukakan pintu kamar, dan menyuruh pelayan untuk membuatkan teh hangat kesukaan Tuan Besar. Daniel terpaksa mengikutinya dari belakang.
Mendengar itu, Tania segera melangkah kearah balkon untuk mendengar percakapan mereka dengan memegangi pinggangnya.
"Pergilah." Tuan Besar menyuruh seluruh pelayan dan pengawal untuk keluar kamar.
Ryan membawa seluruh orang keluar dari sana.
"Kakek, minumlah teh nya dulu." Daniel menyeduh dan menuangkan secangkit teh herbal untuk kakeknya.
"Ya. Menyeduh teh juga membutuhkan keterampilan. Sangat disayangkan, teknik penyeduhan yang salah, jadi menyia-nyiakan khasiat daun teh sebaik ini."
"Besok akan ku carikan seorang peracik profesional," jawab Daniel.
"Tidak perlu," Tuan Besar menjawab datar. "Aku sudah menyuruh master peracik teh untuk datang kesini besok."
"...." Daniel tidak dapat menutupi rasa terkejutnya, ia lantas bertanya, "Kali ini, Kakek berencana tinggal berapa lama?"
"Memangnya kenapa? Baru melihatku sebentar, sudah mau mengusirku?" nada suara Tuan Besar berubah dingin.
"Bukan begitu...."
"Kamu takut aku mempersulit wanita itu?" Tuan Besar langsung bertanya tanpa basa-basi.
Tania yang sedang menguping dari tepi jendela balkonnya pun langsung terperangah. Ia langsung panik.
__ADS_1
"Kakek yang selalu sibuk setiap hari, tidak mungkin datang ke Kota Bunaken hanya karena masalah sepele ini, kan?" Daniel dengan tenang bertanya, "Apakah Bibi mencarimu lagi?"
"Hmph." Tuan Besar mencibir, "Kamu masih menganggapnya sebagai bibimu?"