Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 247


__ADS_3

"Ia yang memprovokasiku terlebih dahulu!" jawab Daniel dengan dingin.


"Sebenarnya siapa yang memprovokasi siapa?" tanya Tuan Besar. "Kalau kamu tidak menyentuh Billy, apa bibimu akan menyerang perusahaanmu?"


"Billy yang memprovokasiku," Daniel dengan dingin membantah.


"Hanya karena seorang perempuan?" Tuan Besar tidak mampu menahan amarahnya, "Billy adalah sepupumu! Hanya karena perempuan itu, kamu sampai mencekiknya dan hampir membunuhnya?!"


"Dia belum mati, kan?" Daniel sama sekali tidak merasa bersalah.


"Keterlaluan!" Tuan Besar dengan keras menghentakkan tongkatnya ke lantai.


Tubuh Tania bergetar ketakutan, jantungnya seperti mau melompat keluar dari dadanya.


Setelah mendengar percakapan itu, ia akhirnya mengetahui bahwa Billy adalah sepupu Daniel. Ketika Billy dalam pengaruh obat dan hampir memerkosanya, Daniel datang untuk menyelamatkannya, bahkan hingga menghajar Billy habis-habisan...


Alasan inilah yang memprovokasi bibinya.


Jadi, bibi Daniel yang merusak acara peluncuran produk baru Grup Sky Well?


Tania tiba-tiba menyadari bahwa dirinya adalah perusak hubungan keluarga Daniel. Tanpa sadar, ia telah membawa konflik dalam keluarga mereka. Tuan Besar pasti membencinya, menganggapnya sebagai duri dalam keluarganya...


"Siapa yang tahu kalau ternyata Billy selemah itu," gerutu Daniel.


"Masalah ini sudah selesai! Aku sudah berbicara dengan bibimu, ia berjanji tidak akan menyentuh perusahaanmu lagi. Kamu juga tidak boleh memprovokasinya lagi."


"Asalkan ia tidak menggangguku, aku sama sekali tidak akan mengganggunya," jawab Daniel datar. "Sebaiknya kita sama-sama tidak mencampuri urusan satu sama lain!"


"Apakah wanita itu ada disini?" Tuan Besar bertanya pelan.


Tania terperanjat, ia hampir jatuh tersungkur ke lantai. Tuan Besar ini benar-benar sangat hebat, ia dapat menebak bahwa Tania berada dikamar sebelah....


"Ya," jawab Daniel dengan jujur.


"Ia sudah naik ketempat tidurmu?" Tuan Besar tertawa sinis, "Apakah kamu berencana untuk menikahinya?"


Kali ini Daniel terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan kakeknya.


Tania mencengkeram dadanya, merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia menahan napasnya, menunggu jawaban Daniel.


Setelah beberapa lama kemudian, Daniel akhirnya menjawab, "Aku tidak berencana untuk menikahinya."

__ADS_1


Hati Tania berubah dingin, seolah-olah sekujur tubuhnya diguyur dengan air es...


Namun, dengan segera kesadarannya kembali. Ia sejak awal telah menyadari bahwa Daniel tidak pernah serius dengannya, ia hanya sebuah mainan dalam genggaman tangannya.


Mana mungkin Daniel merencanakan sebuah masa depan dengannya?


"Baguslah," suara Tuan Besar melembut. "Cukup bermain-main saja dengan wanita seperti itu. Jangan sekali-kali menjalani hubungan serius dengannya."


Pantas saja Daniel berperilaku seperti itu. Keluarga macam apa yang mengajarkan untuk mempermainkan wanita yang kedudukan rendah?


"Lea adalah pilihan terbaik untukmu. Mempersatukan kedua keluarga dengan menikahi Lea, akan memperkuat status keluarga ini." Tuan Besar menekankan ini pada Daniel.


"Aku tidak butuh bantuan dari keluarga mereka untuk memperkuat keluarga ini!" Daniel menjawab acuh.


"Kamu..." wajah Tuan Besar berubah pucat menahan amarahnya.


"Keluarga Lea berbeda jauh dengan keluarga kita. Pernikahan ini akan sangat menguntungkan keluarga mereka. Namun, apa untungnya bagiku?" tanya Daniel angkuh. "Kalau begitu, aku seharusnya menikahi anak perempuan keluarga Moore. Keluarga itulah yang dapat memperkuat keluarga kita!"


"Omong kosong!" Tuan Besar membentaknya. "Keluarga Moore adalah musuh bebuyutan keluarga kita. Bagaimana mungkin aku mengijinkanmu menikahinya?"


"Benar, jadi Kakek tidak perlu membahas lagi masalah pernikahan untuk memper-erat aliansi antar keluarga," ujar Daniel seraya meluruskan maksud perkataannya. "Semua hasil kerja keras dari seluruh generasi keluarga kita, bukan untuk mengorbankan hidupku sebagai tumbal keluarga ini."


Amarah Tuan Besar membuat wajahnya membiru. Ia tidak hentinya terbatuk-batuk sambil memegang dadanya.


"Jangan biarkan amarahmu merusak tubuhmu," Daniel berusaha menenangkan kakeknya. "Kakek sudah tua. Bukalah sebagian pikiranmu, dan biarkan cucumu menjalani pilihan hidupnya sendiri."


"Anak kurang ajar, aku akan menghabisimu__"


Tuan Besar berteriak marah, kemudian terdengar suara pukulan yang cukup keras.


Mata Tania melebar, ia tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Apa Daniel benar-benar dipukul oleh kakeknya?


"Lihat, pukulanmu sama sekali tidak terasa. Kakek sudah benar-benar tua...."


Ada nada candaan yang tersirat dalam suara Daniel.


"Anak kurang ajar.... kamu... "


Amarah Tuan Besar sudah tidak terbendung, napasnya mulai tersengal-sengal.


"Kakek!" Daniel buru-buru menenangkannya, "Kakek baik-baik saja?"

__ADS_1


"Seseorang datanglah kesini!"


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari kamar sebelah.


"Kakek! Kalian kenapa?" suara panik Lea terdengar, "Apa yang terjadi? Tadi kalian baik-baik saja!"


"Diamlah!" perintah Daniel. "Semuanya pergilah!"


"Baik." Seluruh orang pun kembali keluar


"Kakek, biarkan aku membantumu kembali ke ruanganmu," ucap Lea lembut.


"Biar aku saja," Daniel bergegas membantu kakeknya.


"Pergi kamu dari hadapanku!" teriak Tuan Besar marah. "Anak kurang ajar sepertimu hanya ingin sengaja memancing amarahku!"


"Aku tidak berani!" ujar Daniel pelan.


Akhirnya Lea menuntun kakeknya keluar ruangan.


Luar ruangan pun akhirnya hening kembali. Seluruh lampu di aula dan koridor vila dimatikan.


Tania menghembuskan napas lega, dengan hati-hati ia berbaring diranjangnya. Perasaannya campur aduk...


Apakah Daniel tidak mau menikahi Lea demi dirinya?


Atau, sesuai ucapannya tadi, jika pernikahan ini tidak menguntungkan baginya, sehingga ia sama sekali tidak tertarik?


Saat ia tengah memikirkan semua itu, pintu kamarnya terbuka. Tania terperanjat, hampir saja ia terjatuh dari ranjangnya.


"Ini aku!" Daniel menenangkannya.


Ditengah kegelapan, Tania melihat siluet yang tidak asing berjalan masuk ke dalam kamarnya. Daniel mengunci pintu kamarnya, lalu berjalan kearahnya sambil membuka kancing kemejanya.


"Kamu masih berani menemuiku?" bisik Tania, khawatir suaranya akan terdengar orang lain. "Kamu tidak takut ketahuan oleh kakekmu?"


Daniel mengabaikannya. Ia melemparkan kemejanya keatas sofa, menutup pintu geser balkon, menutup tirai jendela kamar, lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


"Hei, kamu... "


Daniel memotong ucapan Tania dengan cara menutupi pintu kamar mandinya.

__ADS_1


__ADS_2