
Pintu kamar terbuka, angin dingin masuk bersama dengan aura yang kuat. Bayangan tubuh tinggi nan besar tergambar diatas ranjang, seperti binatang buas yang mengerikan!
Jantung Tania berdetak kencang, matanya seperti anak kucing yang ketakutan, dengan takut menatapnya.
"Tuan Daniel." Sapa Lily dengan penuh hormat.
Daniel menggerakkan tangannya, mengintruksikan Lily untuk pergi.
Pintu kamar tertutup, Daniel dengan lembut berjalan menghampiri Tania...
Tania semakin gugup, memeluk bantal, dengan terpata-pata bertanya, "Apa..... apa yang akan kamu lakukan?"
"Kamu takut denganku?" Daniel menghentikan langkahnya.
Berbalik duduk di sofa samping jendela.
Omong kosong, siapa yang tidak takut denganmu?
Meskipun di dalam hatinya berpikir seperti itu, namun Tania terlihat berpura-pura terlihat tenang. "Kenapa Anda membawa saya kesini?"
"Kamu terluka dikantor, aku harus bertanggung jawab." Ekspresi Daniel dingin, nada bicaranya juga dingin. Namun tatapannya tertuju pada Tania, "Bagaimana? Tidak bisa mati, kan?"
"Omong kosong!" Tania berseru, selesai berkata seperti itu, Tania kembali ketakutan, "Kalau saya sudah mati, bagaimana bisa mengobrol dengan Anda?"
Tania melakukan tekanan pada kata 'Anda' membuktikan ia menyerah pada takdir.
"Alex sudah di tahan oleh polisi." Daniel menuang segelas anggur merah untuk dirinya sendiri, dengan pelan menggoyangkan gelas anggur itu, "Perusahaan akan memberikan hadiah atas keberanianmu kali ini, kamu mau apa?"
"Uang!" Tania berkata tanpa keraguan, "Berikan saja saya uang!"
__ADS_1
"Di dalam otakmu hanya ada uang?" Daniel bertanya dengan tatapan penuh penghinaan.
"Di atas ada orang tua, dibawah ada...... binatang peliharaan, gaji yang sedikit itu tidak cukup." Tania berkata dengan menyedihkan.
"Selain itu, kecelakaan kali ini akan dianggap kecelakaan kerja, kan? Saya tidak perlu membayar biaya pengobatan ini, kan? Apakah gaji saya akan dipotong?"
"...... "
Daniel malas berbicara dengannya, ia bangkit dan berjalan pergi.
"Hati-hati Presdir Daniel, Terima kasih Presdir Daniel, terima kasih sudah mau datang untuk menjenguk saya."
Tania dengan semangat menyanjung nya, dan dengan penuh semangat mengantarkan Daniel pergi.
Setelah pintu tertutup, Tania baru bisa bernafas lega, jika dilihat dari reaksi Daniel, seharusnya ia belum mengetahui tentang chip itu.
Tania tidak bisa memberikan chip itu padanya sekarang, jika tidak, Daniel pasti mengetahui bahwa ia yang meletakkan chip itu.
Namun, apakah benar mereka sama sekali tidak menyentuh kotak hitam kecil ini?
Tania sembunyi di dalam selimut, membuka kotak itu. Bagus, bagus, chip itu masih ada di dalam..... Namun, ponselnya kehabisan daya.
Tania menyembunyikan chip itu dibawah bantalnya, berteriak dengan nyaring, "Apakah ada orang?"
Lily masuk, Nona Tania, ada yang bisa dibantu?"
"Aku ingin pulang kerumah, boleh bantu untuk panggil kan taksi?"
"Nona Tania, Tuan Daniel berpesan bahwa Anda tidak boleh pergi sebelum luka Anda sembuh." Lily dengan penuh hormat berkata, "Jika Anda butuh bantuan, Anda boleh memanggil saya."
__ADS_1
"Keluargaku sudah menungguku, sudah selarut ini aku belum pulang, mereka pasti khawatir."
Sekarang sudah jam setengah sepuluh malam, ditambah lagi ponsel Tania mati, pasti bibi Juli dan ketiga anaknya khawatir sampai hampir melapor ke polisi.
"Bagaimana jika Anda telepon dulu?" Saran Lily, "Luka Anda begitu parah, jika Anda pulang seperti ini, dirumah tidak ada orang yang bisa merawat Anda."
Setelah dipikir-pikir benar juga, kondisinya sekarang tidak bisa bebas bergerak sendiri. Bibi Juli sudah sangat lelah mengasuh ketiga anaknya setiap hari, bagaimana bisa merawat dia?
Ditambah jika anak-anak melihat kondisinya sekarang, pasti akan ketakutan.....
Teringat hal ini, Tania memutuskan untuk tinggal sementara disini. Ia meminta Lily membawa charger ponsel, lalu menelpon bibi Juli.
"Halo, bibi Juli... "
"Nona, Anda dimana? Aku menelpon ke ponselmu, tapi selalu tidak aktif, aku khawatir."
"Ponselku kehabisan daya, tadi baru bisa dinyalakan. Bibi Juli, aku ada keperluan, aku akan pulang dalam beberapa hari." Tania yang tidak bisa berbohong, tapi juga takut bibi Juli khawatir.
"Ada apa, Nona?" Bibi Juli merasa ada yang tidak beres, "Nona bisa beritahu aku, Anak-anak sedang tidak ada disampingku."
"Aku sedikit terluka, sekarang dalam proses penyembuhan."
"Bagaimana bisa, apakah parah?"
"Tidak parah." Tania berkata dengan ter buru-buru, "Hanya luka kecil, tapi butuh pengawasan beberapa hari.... "
"Kamu dirumah sakit mana? Aku akan mengunjungimu."
"Bos membawaku kerumah sakit pribadi. Beberapa hari ini, mohon bantuan bibi ya.... "
__ADS_1
"Tenang saja, aku bisa menjaga anak-anak dengan baik. Jaga diri Nona, ya. Telepon aku kapan saja jika terjadi sesuatu."
"Terima kasih bibi Juli."