
Kulit bewarna coklat metalik masih meneteskan air, memancarkan aura menggoda di bawah cahaya biru. Sebuah bekas luka pisau panjang miring di pinggangnya, seolah membelah pinggangnya.
Dan di bawah bekas pisau itu ada sebuah tato.
Sedikit lagi tato itu terlihat, namun Daniel langsung menarik rambut Tania, mengarahkannya ke depan Daniel agar Tania dapat melihat wajah marahnya.
"Kamu... "
Tania belum sempat menjawab, bibir dinginnya sudah di gigit Daniel.
Bagaikan binatang buas yang menggerogoti mangsanya. Ada hukuman pembalasan, ia menggigit bibir Tania hingga mati rasa dan sulit bernapas...
Tania meronta, malah terperangkap dalam pelukannya. Ia sulit melawan.
Ciumannya seperti badai hujan, gerakan tangannya semakin lama semakin dalam.
Melihat bahwa ia akan menerobos pertahanan terakhir, Tania panik, matanya terbelalak ketakutan...
"Tuan Daniel, Thomas mengabarkan informasi..."
Dari belakang tiba-tiba terdengar suara, tetapi orang itu tiba-tiba berhenti bicara.
Orang itu terkesiap dengan pemandangan di depannya, ia buru-buru tutup mulut.
Daniel melepaskan Tania dengan tidak rela. Satu tangannya menangkup wajah Tania. Ia menggunakan ibu jarinya mengusap bibir Tania yang bengkak, "Ingat, jangan mencari masalah denganku!"
Tania bernapas terengah-engah, ia panik bagaikan rusa yang terluka. Sekujur tubuhnya gemetaran.
__ADS_1
Daniel melompat keatas, dengan mudah naik ke tepi kolam dan mengenakan jubah mandi.
Tania naik ke tepi kolam renang dengan malu. Ia cepat-cepat melarikan diri.
"Satu jam lagi jam 9." Daniel mengingatkannya dari belakang.
Tania tercengang, tiba-tiba ia teringat janjinya dengan Daniel...
Sekarang sudah jam 8, tidak tahu apakah Alisia sudah tiba di kota Bunaken atau belum...
Ia bergegas mencari ponselnya. Ia baru sadar ponselnya jatuh di tepi kolam. Ponselnya basah karena air.
Ia bergegas mengambil ponselnya kemudian melesat pergi.
Daniel melihat ia yang kalang kabut, sudut bibirnya mulai terangkat.
Beberapa lama kemudian, tatapan matanya baru berpindah, "Bagaimana dengan Thomas?" Tanya Daniel.
Setelah mengatakan ini, bawahannya tidak berani lanjut bicara lagi...
"Suruh Thomas kembali." Daniel tidak ada respon lain.
"Baik."
Tania memegang ponsel kembali ke kamar. Ia melihat ada dua telepon tak terjawab, telepon dari Stanley.
Ia segera menelpon balik, tetapi ponsel tiba-tiba nge lag, sama sekali tidak bisa menelepon.
__ADS_1
Ia bergegas mengeringkan ponselnya, kemudian mencoba menelepon lagi. Tetap saja tidak bisa.
Hatinya cemas, saat ingin meminjam ponsel orang lain menelepon, Stanley meneleponnya di momen itu.
Tania dengan panik menggeser layar ponsel. Setelah beberapa lama akhirnya telepon itu berhasil terjawab sebelum telepon putus. Ia gembira sekali hingga tangannya gemetar.
"Stanley!"
"Tania, aku sudah mengambil balik kalungnya. Sekarang aku dalam perjalanan kesana, tetapi aku khawatir pengawal Daniel tidak membiarkanku masuk ke dalam... "
"Bagus sekali, sekarang juga aku bilang ke Daniel, biar ia mengizinkanmu masuk."
"Baik, tunggu aku."
Setelah menutup telepon, Tania girang sekali, ia bersiap mencari Daniel.
Saat ini, Daniel dengan pakaian jubah mandi dan tak beralas kaki melewati kamar Tania...
Tania bergegas masuk ke dalam kamarnya, "Aku ingin bicara denganmu."
"Tengah malam begini, dengan badan basah kuyup dan masuk ke kamar pria. Kamu ingin bicara apa?"
Pandangan Daniel memancarkan suhu berapi-api, matanya bergerak naik turun di tubuh Tania.
Pakaian basahnya masih meneteskan air. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Kulit putih mulusnya memancarkan cahaya menggoda, membuat Daniel tidak tahan untuk menerkamnya...
"Kalung ruby sudah berhasil di dapatkan, Stanley dalam perjalanan. Jika kamu mengizinkannya masuk, maka ia dapat mengantarkan kalung itu sebelum jam 9 malam... "
__ADS_1
"Bukankah dia hebat?" Daniel memotong pembicaraannya, lalu membalikkan badan duduk di sofa, "Kalau begitu, biarkan dia memikirkan cara masuk sendiri."
"Kamu... " Tania murka, "Jelas-jelas kamu sedang mempersulit ku."