Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 258


__ADS_3

Melihat Roxy seperti itu, dia jadi teringat terakhir kali Tania diserang, burung bodoh inilah yang menyelamatkannya, tetapi pada akhirnya sayapnya terluka, dan dia masih belum pulih sampai sekarang....


Memikirkan hal ini, Daniel mengintruksikan perawat untuk mencari makanan burung beo.


Tak lama kemudian, staf medis membawakan makanan burung itu.


Daniel menuangkan makanan ketelapak tangannya dan mengulurkan tangannya ke Roxy.


Roxy menatapanya dengan malu dan takut, tetapi kemudian dia terbang dan memakan ditelapak tangannya.


Setelah memberi makanan kepada Roxy, dia berjalan ketempat tidur Tania, diam-diam menatapnya. Kemudian, dia mendekatkan dirinya dan memberi ciuman ringan di dahinya, kemudian bersandar disofa yang ada di sampingnya dan pelan-pelan tertidur.


Di pagi hari.


Pada saat Lily akan masuk mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam ruangan. Jadi, dia memutuskan untuk kembali.


Saat tiba diruangan itu, nampak Ryan berada disana, "Kenapa?" tanya Ryan.


"Tadinya aku ingin melaporkan bahwa Bibi Juli sakit dan dirawat dirumah sakit, Tania pingsan dirumah dan tidak ada orang, bagaimana dengan ketiga anaknya?" Lily mengerutkan alisnya dengan cemas.


"Ini... aku benar-benar mengambil tindakan." Ryan nampak ragu-ragu tanpa instruksi Daniel.


Setelah berpikir lama, akhirnya Lily memutuskan untuk pergi memeriksanya sendiri, "Lebih baik aku pergi memeriksanya, jika nanti Tuan Daniel meminta pertanggung jawaban, maka aku akan menanggungnya sendiri."


"Kamu sudah bekerja keras." Ryan menepuk bahunya.


Lily pergi ke kediaman Tania, tapi dia menemukan rumah dalam keadaan kosong. Dia terkejut, apa yang terjadi dengan ketiga anak itu?


Akhirnya Lily memutuskan untuk kembali kerumah sakit, dan berniat melaporkan lagi masalah ini dengan Daniel. Tapi, Daniel masih tertidur.


.....


"Jangan, jangan sakiti anakku." Tania terbangun dari mimpi buruknya.


Daniel segera bergegas dan memegang erat tangannya, "Tidak apa-apa, jangan takut!"


Tania membuka matanya dipenuhi dengan ketakutan, "Anakku hilang." Tania meraih tangannya, "Daniel, tolong aku, bantu aku...."


Daniel melihat penampilannya yang seperti itu, hatinya melunak, "Ryan!" Daniel berteriak kearah luar.


"Ya, Tuan Daniel..."


"Kenapa kalian menghalangiku, biarkan aku masuk." Diluar tiba-tiba terdengar suara Viktor dan memotong pembicaraan Daniel.


Hati Daniel yang tadinya sudah melunak, berniat ingin membantu Tania mencari ketiga anaknya. Tapi, pada saat Viktor datang, akal sehatnya kembali!


Daniel dengan dingin menarik tangannya kembali, "Mereka bukan anak-anakku, atas dasar apa aku harus membantumu?"


Tania terkejut, dan menatapnya dengan tidak percaya.

__ADS_1


Apa kamu tahu, mereka adalah anak-anakmu!


"Tania, Tania, apa kamu baik-baik saja?" Viktor berteriak dari luar.


"Tuan Viktor, ini rumah sakit, tolong jangan buat keributan disini." Lily datang memarahinya dengan keras.


"Bibi Juli menelpon ku, dia bilang anak-anak hilang." Viktor berteriak dengan emosi. "Daniel keluar kamu..."


Begitu dia selesai bicara, pintu terbuka....


Daniel yang hanya mengenakan kemeja putih dan dasi, berdiri didalam kamar pasien....


Bahkan dalam penampilan yang berantakan pun, dia masih memiliki daya tarik yang mendominasi.


Dengan tatapan yang tajam seperti pisau, dia menatap Viktor. "Tuan Viktor, apa yang akan kamu lakukan padaku?"


"Daniel, bukankah kamu yang menculik anak-anak itu? Benar, kan?" Viktor bertanya penuh emosi.


Daniel tidak mengatakan apa pun, dia hanya menyipitkan matanya dengan penuh emosi yang berapi-api.


Tania berjalan keluar dengan susah payah, sambil memegang pinggangnya yang terluka.


Pada saat Viktor melihat keadaan Tania yang sangat pucat dan tidak berdaya, dia terkejut dan buru-buru melangkah maju untuk membantunya. "Tania, siapa yang membuatmu seperti ini?"


"Aku!" Daniel memprovokasinya, "Kenapa?"


"Kamu bajingan!" Viktor hendak memukul Daniel.


Dia sangat berharap agar Viktor tidak peduli padanya.


Lily pun pusing melihat keadaan yang seperti ini, dia paham betul betapa Daniel sangat menyayangi Tania, dia pasti akan membantu Tania mencari anak-anaknya. Tapi ketika Viktor datang, semuanya akan menjadi kebalikannya!


"Tania, ikut aku." Viktor ingin membawa Tania pergi.


Dalam sekejap, Daniel mengulurkan tangannya dengan kasar, mencekik Viktor dengan sudut bibir melengkung keatas, "Apa kamu yakin bisa membawanya pergi? Kamu cari mati, aku akan mengabulkannya!!"


"Jangan__" Tania berteriak ketakutan.


Daniel sangat marah kali ini, dia merasa bahwa Viktor sangat pandai berbicara. Anak Tania menghilang, Tania memohon padanya, dia sudah berbaik hati mau menolong, dan bersiap untuk membantunya.


Tapi, Viktor tiba-tiba menerobos masuk, menuduhnya, memakinya, dan langsung ingin membawa Tania pergi....


Bagaimana bisa dia menahan amarah ini?


Jika hari ini dia tidak membunuh Viktor, maka dia merasa bahwa dia bukan laki-laki!


Genggaman tangannya menjadi sedikit lebih kuat....


"Bajingan!" Kali ini, tiba-tiba Bibi Juli mengambil sapu menerjang kearah Daniel.

__ADS_1


"Dasar brengsek, kamu telah menindas Nona kami dan menculik tiga anak-anak, kamu juga menindas Tuan Viktor, aku benar-benar ingin menghajarmu...." Teriak Bibi Juli memarahinya dan melempar kuat sapu ditangannya kearah Daniel.


'Plak' Sapu itu mengenai kepala Daniel, lalu mendarat ke lantai.


Semua orang disana tercengang...


Tania tertegun, hingga ia melihat sapu itu dengan tatapan tak percaya.


Sapu ini walau tidak melukai, tetapi sungguh mempermalukan!!


Wajah Daniel di penuhi awan gelap, matanya penuh dengan aura pembunuh. Tangannya yang memegang leher Viktor pun melonggar, menatap dingin kearah Bibi Juli...


Daniel bagaikan dewa kematian yang memberitahunya, "Waktu kematianmu telah tiba!!"


Bibi Juli merasa ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar. Di momen ini, ia baru tahu rasanya takut...


"Bibi Juli, Anda salah paham, bukan Tuan Daniel yang menculik anak-anak...."


"Bukan dia? Lalu siapa?" suara Bibi Juli terdengar gemetar. "Pagi-pagi sekali, Bu Guru Brenda menelpon ku, apakah anak-anak telah ditemukan? Aku baru tahu anak-anak hilang. Jadi, aku terpaksa menelpon Tuan Viktor untuk pergi memeriksa dan ternyata Nona juga menghilang..."


"Bibi Juli, Tuan Daniel benar-benar tidak menculik anak-anak. Masalah ini..." Lily bergegas menjelaskan.


"Bibi Juli, ya?" Akhirnya Daniel berbicara, suaranya bagaikan es glester dikutub utara, ia berjalan selangkah demi selangkah mendekati Bibi Juli dengan aura pembunuh, "Siapa yang memberitahumu bahwa aku yang menculik anak-anak, hm?"


Saat ini, Tania sangat takut, takut Daniel juga akan menyakiti Bibi Juli. "Bibi Juli, aku mohon padamu cepatlah pergi. Aku akan mengatasi masalah ini, Bibi Juli kembali kekamar saja dulu."


"Nona..." Bibi Juli akan mengatakan sesuatu, tapi Tania langsung menahannya, "Pergilah Bibi, dengarkan sekali ini saja!"


Tania benar-benar sangat takut, bagaimanapun juga, sejak kecil iblis Daniel adalah orang yang bermartabat, tidak pernah ada orang yang menggunakan sapu memukulnya.


"Tetapi, tetapi kamu..."


Saat Bibi Juli ingin bicara lagi, Daniel sudah berdiri dihadapannya, dan Tania langsung menghalanginya sambil menangis, "Jangan bunuh dia, bunuh saja aku. Jangan sakiti keluargaku!"


"Tentu saja." Daniel menganggukkan kepala, "Aku tidak menyakiti orang tua dan anak-anak. Jadi, tentu saja aku akan mencari perhitungan dengan dirimu!"


Bibi Juli mendengar itu semua dan dengan cemas berkata, "Kamu jangan menindas Nona ku... "


Daniel tidak ingin bicara dengannya, ia memberi kode tangan dan pengawal segera menyeretnya pergi.


"Nona Tania, Anda tenang saja. Tuan Daniel tidak menyakiti Bibi Juli."


"Tapi...."


Saat Tania ingin berbicara, dagunya langsung diremas dengan kuat oleh Daniel. Memaksanya menghadap kearah Daniel. "Karena kalian semua memfitnah ku, apa seharusnya aku mewujudkannya, hm?"


"Apa maksudmu? Aku tidak mencurigaimu, ini salah paham... "


"Ryan!" Daniel sama sekali tidak menginginkan permintaan maaf, ia langsung memberi perintah, "Pergi, dan tangkap tiga anak haram itu!"

__ADS_1


"Baik!" Ryan melihat Tania sekilas, lalu membawa pengawal pergi.


__ADS_2