
"Iya, iya, Tuan Besar juga membelikan banyak hadiah untuk mereka, hadiah satu mobil penuh." Bu Desy berkata dengan antusias, "Pada saat berada di rumah sakit, Tuan Besar juga berkata akan memberikan kompensasi."
Tania tidak berbicara sepatah kata pun, ia sedang berpikir keras...
Jika Tuan Besar tidak sengaja menabrak Carles dan dengan sengaja membawa Carles ke rumah sakit, juga menjaga Carles dan Carla dengan baik, berarti dia melakukan kebaikan yang sempurna.
Maka, ia tidak bisa menyalahkan apa-apa.
Tetapi jika benar kejadiannya seperti ini, kenapa Daniel menggunakan anak untuk mengancamnya?
Selain itu, rekaman CCTV dijalan itu kenapa bisa hilang?
Apakah Tuan Besar yang meminta Departemen Polantas menghapusnya, ataukah Daniel?
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Bu Tania...." bisik Bu Desy, "Karena Anda sudah pulang, maka urusan kami disini sudah selesai, kan?"
"Oh, terima kasih atas bantuan kalian."
Tania tersadarkan kembali, lalu bergegas berdiri berterima kasih dan mengantarkan mereka pergi sampai keluar pintu.
__ADS_1
Disaat ini, kedua polisi diluar dan paramedis juga sedang menunggu Tania.
Polisi mengatakan atasan bilang setelah orang tuanya kembali mereka sudah boleh pergi, tetapi mereka akan memperkuat patroli di Jalan Bahagia no.1 demi memastikan keamanan penghuni.
Tania bergegas berterima kasih dan mengantarkan mereka pergi dengan sopan.
Setelah mereka pergi, Tania bertanya kondisi Carles kepada dokter spesialis anak.
Dokter spesialis anak menyerahkan hasil pemeriksaan dan tagihan pengobatan kepada Tania, "Pergelangan kaki kanan Carles patah, mungkin akan butuh beberapa waktu untuk pulih. Sisanya adalah masalah kecil, ia akan segera sembuh, Anda jangan cemas." ucap dokter itu.
"Baiklah kalau begitu." Tania menghela napas lega, "Beberapa hari ini sudah merepotkan kalian, kalau begitu aku akan mengantar kalian..."
"Begini, Bu Tania." Dokter spesialis anak meniru panggilan Bu Desy dan berbicara dengan serius, "Atasan ada perintah, kami harus tinggal disini untuk menjaga tiga anak, dan memastikan kesehatannya!"
Ketiga perawat itu tersenyum, "Kami pernah belajar medis, kami juga pernah mempelajari pendidikan anak-anak dan bisa membuat sarapan untuk anak-anak. Menjaga kehidupan tiga anak tidak masalah. Anda tenang saja."
"Ini.... " Tania agak dilema, "Tetapi tempatku kecil, dimana kalian tinggal?"
"Pak Ryan sudah membeli unit di seberang, katanya didalamnya sudah ada barang-barang kebutuhan pribadi. Untuk sementara kami akan tinggal di sana." Dokter spesialis anak menunjuk unit di seberang pintu sambil berbicara, "Peralatan medis dan obat-obatan kami ada di sana."
"Ugh... " Tania sangat terkejut, "Kalian bilang, pak Ryan?"
__ADS_1
"Benar." Beberapa perawat mengangguk kepala.
"Baiklah, aku paham." Tania melihat jam, "Sekarang sudah jam tiga subuh, kalian segera istirahat, sampai jumpa besok pagi."
"Baik, Anda juga istirahat lebih awal. Kami akan datang pukul tujuh tepat, membuatkan sarapan untuk anak."
"Ah, terima kasih."
Setelah mengantarkan paramedis itu pergi, Tania menghela napas dalam-dalam. Ia menutup pintu dan hendak ke balkon melihat apa mobil Viktor telah pergi...
Tadi ia buru-buru melihat anak, lupa memberinya kode.
Saat ia sedang menuju jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tania terkejut, ia bergegas mengambil tongkat bisbol untuk melindungi dirinya. Ia lalu berjalan ke sisi pintu mengintip dari lubang intip pintu, ternyata orang itu adalah Viktor.
Ia segera membuka pintu, "Viktor?"
"Kamu melupakan Roxy!" Viktor menyerahkan sangkar berwarna emas kepada Tania.
Roxy tertidur nyenyak didalam sangkar, ia tidak tahu dirinya hampir ditinggalkan Tania.
__ADS_1
"Terima kasih." Tania bergegas menerima Roxy dan menjelaskan, "Tadi buru-buru melihat anak dulu, jadi lupa memberi kode. Rumah baik-baik saja, sangat aman, kamu tenang saja."