Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 266


__ADS_3

"Maafkan aku... " Tania menarik napas dalam-dalam dan menyeka air mata, "Kamu harus jaga diri dengan baik."


"Aku akan menjaga diriku dengan baik." Viktor menyunggingkan senyuman, "Jangan menangis lagi. Anak sudah ditemukan, ini adalah hal yang baik."


"Iya." Ada secercah harapan baru dalam hatinya seketika ia teringat akan anaknya.


Dengan cepat, mobil tiba di Jalan Bahagia. Viktor membuka pintu mobil dan memapah Tania turun, "Aku antar kamu keatas."


"Tidak usah." Tolak Tania, "Aku tidak ingin merepotkan mu lagi."


"Jika ini penipuan bagaimana?" Viktor merasa cemas, "Aku harus menjaga keamanan mu dan anakmu."


"Tenang saja." Tania tersenyum pahit, "Orang seperti Daniel ini walaupun agak gila, tetapi ia punya satu sisi baik. Satu ya satu, tidak ada dua. Dia bilang anak di rumah, berarti pasti sudah di rumah!"


"Baiklah... " Viktor tidak memaksanya lagi, "Kalau begitu kamu naiklah sendiri, aku disini melihatmu. Jika semuanya lancar saat kamu keatas, tekan sakelar lampu tiga kali. Dengan begini aku akan tahu kalian sudah aman."


"Baiklah." Tania memeluk Viktor, "Viktor, jaga dirimu."


"Kamu juga!" Viktor menatapnya dengan tidak rela, "Jika kedepannya kamu sudah meninggalkan Daniel dan membutuhkan aku, boleh menghubungi aku kapan pun."


"Aku tahu..."


Tania menatapnya dalam, lalu berbalik badan menuju kedalam komplek dengan langkah cepat, lalu berubah menjadi berlari.


Tania menggunakan sidik jari untuk membuka pintu, setelah pintu dibuka, didalam rumah ada dua orang polisi. Mereka secara spontan menodongkan senjata kearah dirinya.


"Ah.... " Tania berteriak karena terkejut.


"Bu Tania!" Bu Desy langsung mengenali Tania. Ia bergegas menjelaskan, "Kedua polisi, ini adalah mama anak-anak."


Kedua polisi itu langsung menyimpan senjata. Lalu melihat-lihat Tania, "Memang mirip dengan di foto. Ini adalah mama asli." Ucapnya dengan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Memangnya bisa ada yang palsu?" Bu Desy merasa konyol.


"Ini, apa yang terjadi?"


Tania tercengang melihat semua orang yang ada dirumahnya.


Ada dua orang polisi, ada Bu Guru Brenda, ada Guru dari kelas matahari, dan juga seorang dokter serta tiga orang perawat...


"Kami semua diutus oleh Presdir Daniel untuk menjaga anak." Bu Desy menjelaskan, "Presdir Daniel meminta kami, sebelum Anda pulang, kami tidak boleh meninggalkan anak."


"Oh... " Tania sangat bingung, benarkah Daniel yang mengatur ini semua? Ini tampaknya tidak seperti diculik....


Apa yang sebenarnya terjadi?


Tetapi sekarang, ia tidak banyak waktu untuk memikirkan hal ini. Ia bergegas berjalan menuju kamar, "Dimana anak-anak?"


"Mereka sedang tidur, masuk dan lihatlah!"


Disampingnya ada gelas susu yang belum habis diminum dan enam foto bahagia enam anggota keluarga.


"Sebelum Carla tidur, ia berulang kali menanyakan maminya apakah akan pulang atau tidak. Ia menangis, dan akhirnya tertidur setelah aku membujuknya dengan lama." Bu Brenda berbisik.


"Terima kasih." Tania mengalirkan air matanya, ia berjalan masuk dengan pelan. "Carla, Mami sudah pulang. Mami tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi."Bisiknya disamping telinga Carla.


Mata Bu Desy dan Bu Brenda memerah melihat itu.


Tania memeluk Carla, lalu menyelimutinya dengan baik. Ia mengambil gelas susu dan bingkai foto, lalu dengan cepat ke kamar sebelah.


Tania masuk ke kamar itu, melihat Carlos dan Carles sedang tertidur dengan nyenyak diatas ranjang.


Carles memeluk senjata mainannya. Ia tertidur lelap hingga air liurnya mengalir diatas bantal dan membentuk sebuah peta.

__ADS_1


Kaki kanan yang diperban diletakkan dengan hati-hati, sedangkan kaki lainnya disandarkan ke dinding. Tampak berantakan, selimut kecilnya sudah terjatuh kebawah ranjang. Postur tidurnya mirip dengan dirinya yang periang.


"Puff!" Bu Desy menutup mulut sambil terkekeh. "Kita baru saja merapikan kakinya dan menyelimutinya. Ini baru beberapa menit kenapa sudah menjadi seperti ini?"


"Kebiasaan tidurnya memang seperti ini." Tania mendekat melihat Carles dan bertanya, "Kenapa dengan kakinya? Kepalanya juga diperban, apa yang terjadi?"


"Ceritanya panjang, nanti aku akan menjelaskannya pada Anda." Bisik Bu Desy, "Anda temani anak dulu, kami menunggu Anda diluar."


"Iya." Tania menganggukkan kepala, lalu menyelimuti Carles. Ia juga meletakkan kaki Carles dan mengubah postur tidurnya. Dengan hati-hati ia mengambil senjata mainan didalam pelukan Carles, lalu menundukkan kepala mencium keningnya.


"Hm~~ kakak, kamu cantik sekali..... "


Carles membalikkan badan sembari mengigau.


"Puff!" Tania tertawa, ia menepuk pelan pantat Carles yang montok. Ia geram didalam hati, dasar bocah busuk, mimpi pun menginginkan kakak cantik, tidak menginginkan maminya!


Benar-benar tidak punya hati nurani!


Tania mengambil selembar tisu mengelap air liur dipinggir mulut Carles. Ia mencubit lembut wajah tampannya, lalu berbalik badan melihat Carlos.


Postur tidur Carlos lebih teratur, tetapi kening kecilnya berkerut. Tangannya memeluk bingkai foto dan disampingnya ada tongkat untuk pertahanan diri....


Anak ini lebih dewasa dari adik-adiknya. Selalu banyak yang ia khawatirkan.


Tania selalu khawatir ia yang dewasa diusia muda akan mempengaruhi kesehatan mentalnya...


Tetapi jika dipikir-pikir lagi, jika ia mami yang kuat dan luar biasa, yang dapat memberi mereka rasa aman. Bagaimana Carlos memiliki banyak kekhawatiran?


Atau mungkin bukan rasa aman yang tidak cukup, tetapi Carlos sebagai anak sulung selalu ingin menanggung beban menggantikan maminya?


Tania mengusap wajah Carlos dengan pilu, menenangkan kerutan di keningnya, lalu menundukkan kepala mencium matanya. Saat ia mundur ia menyadari mata Carlos sudah terbuka.

__ADS_1


__ADS_2