
Tania tidak berkata sepatah katapun, hanya menunduk merapikan dokumen dan menaruhnya di atas meja.
Lalu mengambil lap, berlutut membersihkan noda darah.
Setiap kali mengelap seperti sedang menyeka darah sendiri...
"Stanley terluka, apakah kamu sedih?" Daniel bertanya sekali lagi.
Tania tidak menjawab, ia melanjutkan bersih-bersih.
Daniel kehilangan kesabaran, ia mengernyitkan alisnya dan berkata dengan dingin, "Apakah kamu bisu? Bicaralah!"
Tania akhirnya berhenti dan menatap Daniel, "Mengapa kamu begitu suka menggunakan kekerasan? Apa tidak dapat dibicarakan baik-baik? Apa harus melukai orang?"
Daniel hanya menatap Tania, tidak bicara. Matanya penuh dengan tatapan yang rumit.
Setelah beberapa lama, ia berdiri dan berjalan ke arah Tania dengan perlahan...
Sinar matahari bersinar menghiasi tubuhnya, jelas-jelas adalah warna yang hangat, namun juga penuh dengan makna.
Daniel mendekat secara perlahan, Tania mulai merasa takut, tanpa sadar Tania melangkah mundur. Tatapan matanya yang sebelumnya penuh dengan kemarahan, perlahan menghilang. Dengan rasa bersalah, Tania berkata, "Aku hanya merasa, kamu tidak perlu melakukan kekerasan seperti ini... "
Daniel masih mendekatinya, Tania terus mundur. Meskipun takut, Tania mengumpulkan keberanian untuk berkata, "Presdir Stanley datang kesini hanya untuk bekerja sama denganmu. Jika kamu tidak ingin bekerja sama dengannya, langsung tolak saja. Kenapa... harus melukainya?"
__ADS_1
Sepatu hitam Daniel terlihat digaris pandangannya saat Tania menunduk, disertai dengan napas tajam didepan matanya.
Suara Tania mulai gemetar, "Jika kamu seperti ini, seluruh karyawan perusahaan akan takut padamu, mitra kerja juga akan takut padamu.... "
"Hanya kamu yang tidak takut padaku." Daniel mendesaknya ke dinding, tidak ada ruang untuk Tania kabur.
Daniel meletakkan satu tangan ke bahu Tania, satu tangan lainnya mencubit pipi Tania, memaksa Tania untuk menatap matanya yang sedang berapi-api.
"Aku.... "
Tania kebingungan sendiri, tidak tahu harus berkata apa agar dirinya bisa lolos dari bahaya ini.
"Kamu pikir dengan cara seperti ini, dapat menarik perhatianku?" Daniel tertawa dingin dan bertanya, "Atau kamu merasa aku menyukaimu, jadi kamu begitu manja?"
"Bagus!" Daniel mencibir dingin, seperti belas kasihan binatang buas sebelum membunuh mangsanya.
Tania panik, ia mulai menyadari kata-katanya yang barusan ia katakan seperti granat, yang bisa meledakkan dirinya sendiri.
"Aku harus pergi... "
Tania bermaksud pergi, namun tubuh tinggi besar Daniel yang seperti sangkar itu menyelimuti nya. Ia membungkuk pergi, lewat melalui bawah lengannya.
Daniel tidak menghalanginya, ia justru menjentikkan jarinya, kemudian sensor inframerah berwarna merah kecoklatan dipintu itu menyala.
__ADS_1
Tania tidak dapat membuka pintunya.
Ia menggunakan segala cara untuk membuka pintu tersebut, namun pintu tetap tidak bisa dibuka. Kemudian suara peringatan terdengar, "Pintu terkunci, silahkan masukkan sidik jari anda atau kata sandi."
Tania gugup dan bingung, ia berbalik dan bertanya pada Daniel, "Apa yang ingin kamu lakukan? Biarkan aku keluar!"
Daniel tidak menjawab, dengan santainya ia memutar kursi kulit hitam Presdir, dan menyalakan cerutu.
"Presdir Daniel... " Tania dengan cepat datang menghampiri nya, dengan rendah hati memohon kepadanya, "Aku minta maaf atas perkataanku tadi, aku seharusnya tidak berkata sembarangan. Anda adalah orang yang berwibawa yang tidak akan mengingat kesalahan orang kecil, mohon biarkan aku keluar."
Daniel masih tidak menjawab, ia menghisap cerutunya dengan elegan.
"Ini dikantor, jika Anda tidak melepaskan aku, apa yang akan orang lain pikirkan?" Tania panik, jika cara lembut tidak mempan, gunakan cara yang kasar,
"Beberapa karyawan sudah ada yang membicarakan hubungan kita ini tidak biasa, jika kamu seperti ini, orang lain akan menganggap kamu melecehkan karyawan wanita... "
"Ha!" Daniel tertawa dingin, "Aku melecehkan karyawan wanita, katamu?"
"Kamu.... "
"Aku sangat penasaran.... " Daniel menghembuskan asap cerutu, "Siapa yang membicarakan hubungan kita? Apa yang mereka bicarakan, katakanlah?"
"Mereka bilang.... " Tania bertanya dengan ragu-ragu, "Hari itu, saat aku terjebak masalah di bar, apakah kamu yang menyelamatkan aku?"
__ADS_1