
"Hah? Lima puluh lima detik?" Tania bertanya dengan penasaran.
"Lima menit, tunggu lima puluh lima detik lagi." Daniel terus menatap, "Empat puluh empat detik, tunggu hingga waktunya, baru minum!"
Tania tertawa terbahak-bahak, "Kenapa kamu begitu manis? Konyol... "
"Ada yang salah?" Daniel mengerutkan kening karena tidak tahu apa yang salah dengannya.
"Tidak, aku hanya berpikir kamu begitu manis." Tania mengulurkan tangan dan menangkupkan wajahnya, "Akan lebih baik jika kamu tetap seperti ini."
Tania tiba-tiba menyadari bahwa ketika dia marah, juga tetap sangat menarik.
"Aku hanya tidak ingin melihatmu seperti akan mati." Daniel memalingkan wajahnya dengan acuh tak acuh, lalu mengangkat gelas dan berkata, "Sudah bisa diminum!"
"Terima kasih." Tania mengambilnya dan perlahan meminum teh jahe.
Sebenarnya menstruasi nya datang lebih awal, Daniel merawat dirinya untuk pertama kalinya...
Kehangatan membanjiri seluruh tubuhnya bersamaan teh jahe, hatinya merasakan kebahagiaan.
Setelah meminum, tubuhnya lebih nyaman. Daniel langsung mengambil gelas yang ada ditangannya. Meletakkannya, lalu mengambil tisu untuk menyeka mulutnya.
Tania tercengang, gerakannya sangat alami dan tulus. Tania tidak menduga hal itu.
"Tidurlah." Daniel mengangkat selimut dan berbaring, lalu membawanya kedalam pelukannya.
Wajah Tania menempel di celah lehernya, rambutnya yang panjang dan lembut tersebar diseluruh bantal, kulitnya yang putih bagaikan mutiara dan selembut satin yang menempel padanya.
__ADS_1
Gerakan dan tindakan ini, membuat hati mereka berdua begitu lekat dalam sekejap.
Tangan Daniel dengan lembut menggosok bahunya, ia tidak tahan dan mencium dahinya, tapi dia merasa tidak cukup, lalu dia memegang wajahnya dengan telapak tangannya yang besar dan mendorongnya kearah dirinya.
Kemudian, ciuman lembut tersebar diantara mata, hidung, daun telinga, dan bibirnya...
Tania menutup matanya, merasakan ciuman lembutnya, dan dengan hati-hati dia mendekat padanya, tidak berani bergerak.
Tania bisa merasakan napas Daniel yang perlahan meningkat dan dia khawatir Daniel tidak bisa mengendalikan dirinya.
Namun, dia berhenti tepat sebelum hasratnya membara, membawanya kembali kedalam pelukannya...
Tania menutup matanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang, napas yang berat, suhu tubuh yang panas, dan dia tahu bahwa Daniel sedang menahan diri.
Hatinya tiba-tiba tersentuh.
Dia seharusnya, perlahan-lahan menggalinya.
.......
Malam itu mereka berdua tidur nyenyak. Ketika dia bangun, Tania menggeliat dengan nyaman, tanpa sadar dia menyentuh bantal disebelahnya kosong...
Daniel selalu seperti ini, dia bangun lebih awal darinya dan diam-diam pergi.
Dia segera bangkit, dan pergi mandi. Dia melihat catatan yang familiar tertempel__
"Setelah bangun, telepon lah manajer untuk mengantarkan sarapan dan dia akan menyediakan mobil untuk mengantarmu pulang, pakaiannya ada di lemari!"
__ADS_1
Dan juga terlukis gambar gigolo!
Melihat catatan ini, Tania tertawa.
Dengan hati-hati Tania memasukkan catatan itu kedalam sakunya.
Dia ingin menyimpannya dan kelak ingin mengingat kehangatannya tadi malam dan kenangan yang indah...
Setelah mandi, dia ingin sekali pulang dan sarapan bersama anak-anaknya.
Begitu keluar dari kamar, ponselnya berdering, Tania buru-buru mengangkatnya. Panggilan dari ibu Desy, yang mengatakan bahwa Kristian telah pindah ke sekolah lain, dan Carla tidak sekolah sekian lama dan entah kapan dia bisa kembali ke taman kanak-kanak.
Setelah tiba di rumah, dia berkumpul bersama keluarganya, dan pada hari itu juga Tania beserta bibi Juli membawa ketiga anaknya ke taman hiburan.
Saat di taman hiburan, Tania tidak sengaja bertemu dengan Veronica, ibu dari Stanley!
Ketika keluarga Tania masih berjaya, Veronica sangat memperhatikan dia dan juga ayahnya, berusaha keras untuk menjodohkan Tania dengan Stanley!
Namun, ketika terjadi masalah dengan bisnis keluarga Tania, Veronica segera memutuskan untuk membatalkan pertunangan.
Bermuka dua dan aktingnya sudah seperti artis!
"Luar biasa! Aku tidak menduga akan bertemu denganmu disini. Aku sungguh meremehkan mu!" Veronica mencibir dan mengejek.
Tania tidak ingin bicara dengannya dan hendak pergi menyusul bibi Juli dan ketiga anaknya yang menunggu.
"Ayahmu memilik seorang putri sepertimu, yang bersedia menjual diri pada musuhnya. Aku khawatir dia mati dengan tidak tenang!" Veronica tiba-tiba berbicara sinis.
__ADS_1