
Tania merasa sangat kepanasan, ia ingin sekali melepaskan baju. Ia berpikir dirinya terlalu banyak minum, jadi ia meletakkan gelas alkoholnya dan pergi ke toilet.
"Kamu tidak apa-apa?" GIGOLO PELUNAS HUTANG ingin mengikutinya, tetapi malah didahului Yuni, "Biar aku yang pergi untuk melihat dia!"
Pada saat yang bersamaan, beberapa rekan kerja lainnya menarik GIGOLO PELUNAS HUTANG untuk mengobrol.
GIGOLO PELUNAS HUTANG tidak terlalu peduli, lalu ia melanjutkan minum alkohol bersama mereka.
"Tania, kamu baik-baik saja, kan?" Yuni berjalan masuk ke toilet, ia menatap Tania yang sedang membilas wajah.
"Mungkin karena minum terlalu banyak, jadi panas sekali.... "
Tania membilas wajahnya dengan air dingin, ia ingin menghilangkan rasa gerah ini.
"Tania, aku bawa air untukmu." Yuni mengeluarkan sebotol air mineral, membuka tutup botolnya dengan perhatian. Lalu memberikannya, "Minumlah sedikit, biar segar."
"Terima kasih." Pas sekali Tania merasa tenggorokannya kering sekali, ia mengambil air botol dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Sudah baikan?" Yuni memincingkan mata, "Apakah masih merasa kepanasan?" Tanya Yuni dengan dingin.
__ADS_1
"Sudah agak baikan." Tania memegang wajahnya yang panas. Entah kenapa, setelah meminum air ia malah merasa lebih haus. "Aku istirahat disini dulu. Kamu pergi dulu, jangan mencemaskanku."
"Mana bisa istirahat disini. Nanti rekan kerja yang lain juga mau ketoilet." Yuni berbicara sambil tersenyum, "Apalagi disini ada rekan kerja pria. Sama sekali tidak baik!"
"Kalau begitu.... "
"Ruangan disamping tidak ada orang, aku bawa kamu kesana untuk istirahat." Yuni memapah Tania berjalan keluar. Ia berbisik disamping telinganya Tania, "Kita keluar dari pintu samping. Takutnya mereka melihatmu, dan mengajakmu minum lagi."
"Iya, aku tidak mau minum lagi."
Kesadaran Tania sudah mulai hilang. Ia sudah tidak mampu berpikir cerdas. Begitu saja dibawa oleh Yuni meninggalkan ruangan.
"Eh, Tania.... " Ely, salah satu rekan kerja melihat mereka berdua, "Yuni, kamu mau bawa Tania kemana?" Teriak Ely.
Ely menoleh melihat pacar Tania.
Ia sedang bermain suit dengan beberapa rekan kerja, mereka terlihat senang sekali.
Ely berpikir ada Yuni yang menemaninya, kurasa Tania akan baik-baik saja. Jadi ia tidak banyak bicara!
__ADS_1
Yuni tidak membawa Tania keruangan sebelah, malahan mereka memutari beberapa koridor. Kemudian tiba di sebuah ruangan tak terpakai di sebuah sudut yang agak jauh.
Ruangan ini tidak dipakai karena masalah fasilitas. Sudah sejak lama tidak digunakan.
Ruangan itu gelap, tidak ada terang lampu dan tidak ada suara musik. Hanya ada lampu warna warni dari koridor yang menerangi ke dalam. Lampu itu berkelap-kelip kearah wajah Tania yang cantik.
"Air... " Tania dilempar ke sofa oleh Yuni. Ia menggeliat, bibir merahnya berbicara dengan suara lemah, "Air.... aku ingin minum air.... "
"Kamu ingin minum air?" Yuni mengambil sebotol alkohol kedaluarsa di ujung meja. Lalu ia menuangkannya ke depan wajah Tania. "Ini minumlah sepuasnya!"
"Uh... uh... "Tania menggelengkan kepala meronta. Ia ingin menghindar, tetapi tubuhnya lemah tidak bisa bergerak.
Disaat ini, ia sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran. Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya merasa ada orang yang menyirami nya dengan air.
"Dasar jala**!" Yuni menuang habis alkohol, lalu memegang wajah Tania dengan kasar. Menggertakkan gigi sambil memaki__
"Kamu yang mencelakai Manajer Alex. Padahal masa depannya panjang, tetapi kamu malah membuatnya dipecat dan juga dipenjara. Ini semua gara-gara kamu!"
"Manajer Alex orang yang begitu hebat. Ia adalah orang dari desa kami yang pertama kali berhasil diterima di Universitas ternama. Masa depannya cerah, ia adalah orang yang paling ku kagumi... "
__ADS_1
"Aku mengikuti jejaknya ke Sky Well. Aku giat bekerja, menunjukan performaku dengan tulus. Semua ini ku lakukan agar suatu hari dapat menarik perhatiannya. Tetapi ia malah tertarik padamu... "
"Aku tidak masalah! Jika kamu juga mencintainya, sayangilah dengan baik. Aku akan mendoakan kalian...., tetapi kenapa kamu harus mencelakainya? Kamu membuatnya kehilangan masa depannya. Membuatku kehilangan harapan, maka dari itu, aku tidak akan melepaskanmu..... "