
Tania sangat bingung, sebenarnya ada apa dengan Daniel?
Jika dikatakan menyukainya, beberapa hari ini Daniel menemani wanita lain dan tidak memedulikannya.
Jika dikatakan tidak menyukainya, demi dia, saat ini Daniel mengeluarkan wakil presdir senior Grup Top Sky dari proyek itu.
"Aku pergi dulu. Kamu mandilah dulu, dan istirahat sejenak." Wina bergegas pergi dan meletakkan baju untuk Tania.
Tania menarik tirai dan berjalan ke kamar mandi. Baru saja melepas baju, menyalakan pancuran, dan bersiap untuk mandi.....
Tiba-tiba, dari luar sayup-sayup terdengar suara pintu yang dibuka. Sepertinya ada orang yang masuk...
Tania langsung berteriak memanggil, "Kak Wina, kamukah itu?"
Tidak ada yang menjawab.
"Kak Wina.... " Tania kembali berteriak.
Tetap tidak ada yang menjawab.
Perasaan Tania menjadi tidak tenang, apakah dia berhalusinasi?
Dia bersiap keluar menutupi tubuhnya dengan handuk, tetapi pada saat ini, sebuah bayangan familiar berjalan masuk...
"Kamu... " Tania membelalakkan matanya dengan terkejut, menatap Daniel dengan tatapan tidak mengerti.
Daniel melepaskan jas nya, lalu melemparnya dengan asal. Kemudian membuka kancing bajunya dan perlahan berjalan mendekat.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
__ADS_1
Tania menutupi dadanya dengan kedua tangannya, dan langsung berjalan mundur, tetapi dia malah tidak sengaja berdiri tepat dibawah pancuran.
Air panas menyembur keluar dari pancuran membuat dia berteriak kepanasan, dan dia segera menghindar dengan panik.
Sebuah tangan merangkulnya dan menariknya kedalam pelukan, dan disaat yang sama tangan yang satunya lagi terulur untuk mengatur suhu air, lalu memeluknya dan berdiri bersamanya dibawah pancuran.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!"
Daniel mengabaikan dan malah memojokkan Tania ke dinding. Air hangat mengenai kepala Tania, membasahi rambut dan tubuhnya.
Matanya tidak bisa dibuka karena air terus menyembur, sebuah telapak tangan besar terulur dengan lembut, lalu meletakkan rambutnya ke belakang dengan lembut. Kemudian, sebuah bibir hangat menciumnya dengan erat.
"Hmph.... " Tania menggelengkan kepalanya untuk meronta, tetapi pria itu menahan pipinya dan memaksanya untuk tidak bergerak.
Ciuman yang mendominasi dan memaksa datang bagai badai, ini mmembuat Tania terperangkap di dalamnya, tidak bisa melepaskan diri, hanya bisa menerimanya dengan terpaksa.
Tania mendorong pria itu dengan marah, dia ingin melepaskan diri, tetapi malah ditindas dengan semakin bergelora.
Di dalam kamar mandi, cinta dan api saling membakar, bahkan air pun tidak bisa memadamkannya.
Saat hubungan mereka semakin intens, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, kemudian suara Wina berteriak, "Tania, kamu masih dikamar mandi? Apa USB ku ada padamu?"
Dia berteriak sambil mencari USB didalam kamar, "Aneh, sebenarnya dimana, ya?"
Didalam kamar mandi, tubuh Tania membeku, dia berusaha mati-matian menutup mulutnya, bahkan dia tidak berani untuk bernapas.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, dan tidak dikunci. Jika Wina berjalan masuk, maka.... itu akan sangat memalukan!
"Apa sudah dapat?"
__ADS_1
Saat ini, suara Lea juga terdengar, dan pada saat yang sama, juga diiringi oleh langkah sepatu hak tinggi.
"Masih dicari." jawab Wina dengan sopan, "Bu Lea, kenapa Anda datang kesini? Anda istirahat saja, nanti setelah menemukannya, aku akan mengantarkan USB dan dokumennya pada Anda."
"Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." Lea melihat sekeliling. "Bukankah ini kamar Tania? Dimana Dia?"
Tania semakin panik. Astaga, Lea juga ikut masuk, tetapi Daniel masih...
Bagaimana ini?
Bagaimana ini?
Wina tanpa sadar melihat sekilas ke arah kamar mandi, dan tubuhnya langsung membeku...
Di depan pintu kamar mandi ada sepasang sepatu kulit pria, dan sepertinya... Itu milik Presdir Daniel!
Di dalam kamar mandi, Tania mati-matian menutupi mulutnya, dia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Dia mendorong Daniel sekuat tenaga, ingin agar Daniel berhenti melakukan itu.
Namun, pria itu seperti tidak mendengar kehebohan yang terjadi di luar, malah terus melakukan hal itu. Kedua tangan Tania menekan pundak Daniel dengan kuat hingga hampir melukai Daniel.
Daniel tetap saja mendorongnya, seperti tidak bisa mendapatkan kepuasan.
"Direktur Sean ini juga ada-ada saja, usianya sudah tidak muda, tapi dia masih begitu ceroboh. Meski Direktur Sean sedikit tua, tetapi dia sudah mapan, dewasa dan tenang, sungguh pantas untuk Tania!"
"Benar, Direktur Sean memang sangat hebat, hehe." Wina tertawa, "Bu Lea, aku antarkan Anda ke kamar saja, nanti aku akan meminta Tania mengantarkan USB itu."
"Baiklah, dia mandi begitu lama... "
Lea menatap sekilas dan matanya tertuju pada sepasang sepatu kulit pria yang di letakkan di depan pintu kamar mandi. Matanya tiba-tiba menyipit, ada cahaya dingin yang berkilat dimatanya.
__ADS_1