
"Perkataan Kakek sangat bagus." Lea tersenyum dengan senang dan menatap Tania dengan raut mencibir, "Tentu saja, jika itu adalah perkampungan kumuh yang tidak dapat menyediakan makanan yang cukup, roti juga bisa dijadikan sebagai makanan utama."
Daniel mengerutkan keningnya, tetapi belum mengeluarkan suara.
Tania menarik napas dalam-dalam. Akhirnya, dia menengadahkan kepala untuk menatap Lea dan berkata dengan tersenyum dingin, "Nona Lea, menurutmu statusmu apa? Apakah kamu adalah hidangan utama yang ada di meja orang kaya? Bukankah itu juga steik sapi yang dipotong oleh orang?"
"Kamu... " Lea terdiam sesaat.
"Kakek." Tania menatap Tuan Besar, dia tidak berkata dengan rendah hati...
"Roti memang tidak ingin muncul di meja makan Anda, ia berada ditoko roti dengan tenang, banyak orang yang menyukainya dan menghargainya. Ada orang yang memaksanya untuk muncul disini untuk disajikan sebagai hidangan pembuka, saya merasa Anda tidak seharusnya menyalahkan roti ini. Jika mau disalahkan, seharusnya salahkan orang yang memaksanya itu!"
Mata Daniel menyipit, dia menoleh dan menatap Tania dengan dingin.
"Berani sekali!" Tuan Besar berteriak dengan marah, "Maksudmu, Daniel menguasaimu dan memaksamu dengan paksa?"
"Sungguh tidak tahu malu!"
Lea akhirnya tidak bisa menahan sikapnya, dia tidak bisa menerima bahwa pria yang tidak bisa dia dapatkan, malah dikatai oleh wanita lain, bahwa dialah yang mengganggunya?
"Pokoknya saya tidak bergantung padanya." Tania mengambil kesempatan untuk menunjukan sikapnya, "Jika Anda tidak menyukaiku, Anda bisa memintanya untuk tidak mencariku lagi."
__ADS_1
Dia sudah muak dengan Lea yang mempersulit nya, menindasnya, dan menghinanya.
Sekarang datang lagi seorang pria tua ini, dia tidak tahu sampai kapan dia akan ditindas seperti ini...
Jadi, lebih baik terus terang saja.
Dia sudah menunjukkan sikapnya, jika kelak Daniel mengganggunya lagi, itu bukan urusannya.
"Kamu sudah mendengarnya?" Tuan Besar menatap Daniel.
"Ya." Daniel menganggukkan kepalanya, mengambil gelas anggur didepannya dan menghabiskannya, kemudian dia berkata dengan santai, "Memang aku yang menguasainya, menggodanya, dan mengendalikannya!"
Perkataan ini membuat semua orang yang ada disana tercengang.
Mata Tania membelalak dengan heran dan menatapnya dengan tidak percaya.
Apa dia tidak salah dengar? Dia benar-benar mengakuinya didepan kakeknya, Lea, dan begitu banyak bawahannya bahwa dia menggodanya?
Apa dia tidak mau menjaga gengsinya lagi??
Lea tercengang, dia juga sedang meragukan telinganya.
__ADS_1
"Kamu.... " Wajah Tuan Besar tiba-tiba membiru, dia mengusap dadanya dan menunjuk Daniel dengan penuh emosi, "Apa kamu tahu, apa yang kamu katakan??"
"Kakek jangan marah." Daniel duduk bersandar di kursi, dia menatap Tuan Besar sambil tersenyum, "Pria memiliki 7 atau 8 kekasih diluar, itu sangatlah normal, yang penting Kakek puas dengan istriku yang sah!"
"Kamu ini bajingan!!!" Tuan Besar marah sampai sekujur tubuhnya bergetar.
Lea menutupi dahinya dan tidak bisa berkata apa-apa, dia mengira dengan menghasut ayahnya untuk meminta Tuan Besar kemari, bisa menekan Daniel dan ia bisa segera mencapai pernikahan yang bahagia.
Tidak Disangka....
Bibir Tania berkedut dan ingin menangis, tetapi tidak bisa meneteskan air mata. Dia mengira jika mengucapkan kata-kata ini, Tuan Besar akan marah dan mengusirnya, lalu memerintahkan Daniel untuk tidak bertemu dengannya lagi. Dia pun bisa bebas dari cengkeraman nya.
Tidak disangka....
Dia telah meremehkan Daniel!
"Kakek jangan marah." Daniel bangkit dan berjalan mendekatinya, dia mengelus-elus punggung kakeknya, "Jika marah sampai merusak kesehatan bagaimana? Jika terjadi sesuatu, maka tidak bisa melihat cicitmu lahir."
Hati Tania gemetar, tidak boleh membiarkan pria tua ini tahu tentang ketiga anaknya, kalau tidak, dia pasti akan merampas anak-anaknya.
"Kamu ini bajingan__" Tuan Besar meninju Daniel dengan marah.
__ADS_1