
Saat bangun di pagi hari, seperti biasa orang yang di sampingnya sudah tidak ada.
Hari ini lebih spesial, Tania merasa tidak tenang karena Lea dan Tuan Besar akan tinggal disini...
Dia yang merupakan dianggap kekasih gelapnya, tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.
Ketika dia sedang berpikir, Lily mengetuk pintu dan masuk.
Saat masuk, Lily langsung memeriksa keadaan Tania dan diikuti dua pelayan lainnya untuk merapikan kamarnya. Setelah memeriksa, Lily membiarkan pembantu membawanya pergi mandi dan ganti pakaian, setelah selesai, baru ia mengoleskan obat.
Lily bersiap-siap untuk membawanya ke rumah sakit untuk menjalani fisioterapi.
Tania bertanya dengan suara rendah: "Tuan Besar dan Nona Lea masih ada, ya?"
"Mereka turun ke lantai bawah bersama Tuan Daniel untuk sarapan." Lily berkata dengan tersenyum, "Jangan khawatir, ada Tuan Daniel."
Justru ada dia, makanya khawatir.
Hati Tania tidak tenang, tetapi harus bagaimana? Tidak mungkin terus bersembunyi didalam kamar dan tidak keluar, kan?
Lagi pula, dia yang bersikeras mempertahankan hubungan ini, buka Tania yang menangis untuk mempertahankannya.
Jika Tuan Besar melihatnya, lalu marah besar, ia akan langsung mengusirnya, dan memerintahkan Daniel untuk tidak bertemu dengannya lagi di masa depan, dia malah bisa bebas.
Memikirkan hal ini, Tania menarik napas dalam-dalam, lalu bangun dan berjalan dan keluar.
" Nona Tania, pelan-pelan, biar saya bantu."
Seorang perawat segera memapah Tania, takut dia terjatuh.
__ADS_1
Berjalan di tangga spiral, Tania melihat satu keluarga yang makan dengan bahagia dan harmonis diruang makan.
Lea sebisa mungkin menjilat Tuan Besar dan terkadang menggoda Daniel.
Daniel mengangkat sudut bibirnya, termasuk sebagai tanggapan, matanya terus menatap majalah ekonomi.
"Sarapan ya sarapan, nanti baru bisa baca lagi." Tuan Besar mengetuk meja, "Lea sedang berbicara denganmu, kamu tuli?"
Daniel hanya bisa meletakkan majalahnya dan melirik Lea, "Apa?"
"Aku bilang, nanti sore pergi untuk survei tempat pengembangan usaha, kita pergi bersama, ya?" Lea memandangnya dengan senyuman cantik.
"Tempat pengembangan usaha berantakan, lebih baik kamu jangan pergi, biarkan orang lain yang pergi saja."
Ketika Daniel berbicara, matanya menatap Tania yang sedang turun tangga.
Dia terlihat cantik dengan gaun putih, rambutnya terurai, tampak nyaman dan bersih, tetapi sorotan matanya tampak sedikit gelisah.
"Terima kasih, tidak perlu." Tania meresponnya dengan sopan, "Aku.... "
"Untuk apa sungkan?" Lea berjalan kesana untuk memapah nya dan berkata dengan tersenyum, "Kemarin Daniel emosi dan membuatmu terluka, sebagai bos, dia membiarkanmu tinggal sementara disini untuk memulihkan lukamu, kamu tidak perlu takut, anggap saja rumahmu sendiri."
Kata-kata yang murah hati ini membuat Tania tidak bisa membalasnya dengan kata-kata...
Entah itu alasan Daniel sebenarnya atau Lea yang mengarangnya sendiri.
Tuan Besar melihat Tania dari atas sampai kebawah dan bertanya dengan dingin: "Siapa namamu?"
"Ta, Tania!" Tania sedikit gugup.
__ADS_1
"Berapa usiamu?" Tuan Besar seperti sedang bertanya kepada bawahannya.
"23 tahun." Tania menjawabnya dengan suara pelan.
"Kabarnya kamu adalah sekretaris di Grup Sky Well?" Tuan Besar lanjut menginterogasi nya.
"Ya." Tania menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah melihat daftar riwayat hidupmu, tidak lulus perguruan tinggi dan tidak memiliki kelebihan apa pun." Tuan Besar melemparkan setumpuk dokumen diatas meja dan berkata dengan angkuh, "Kualifikasi ini bahkan tidak cukup untuk menjadi petugas kebersihan, bagaimana kamu bisa masuk?"
Tania menundukkan kepala, dia tidak berani mengatakan apa pun bahwa dia diterima oleh Alex yang tidak mengikuti aturan, Alex pernah menjadi bawahan ayahnya, dia diterima karena Alex berniat jahat padanya.
"Akulah yang menerimanya secara langsung." Daniel berkata dengan ringan.
"Tutup mulutmu!" Tuan Besar menatapnya dengan dingin, matanya penuh dengan amarah.
"Ok!" Daniel tidak berbicara lagi, tetapi mengulurkan tangan untuk menarik kursi disampingnya dan memberi isyarat agar Tania duduk.
Tania melirik Tuan Besar dan tidak berani duduk.
"Duduk." Tuan Besar menunjukan kemurahan hatinya.
Tania kemudian duduk, dan tidak berani berbicara.
Pembantu membawakan alat makan baru dan sarapan, Tania berkata dengan pelan: "Tidak perlu, aku harus pergi."
"Apa aku sudah mengijinkanmu pergi?" Tuan Besar berkata dengan arogan.
Tania sedikit tercengang, dia menengadahkan kepala dan menatapnya.
__ADS_1
"Setiap orang harus tahu dengan jelas statusnya." Tuan besar mengambil sepotong roti diatas meja dan melemparkannya kedepan Tania, "Contohnya sepotong roti ini, ia hanya bisa dijadikan sebagai hidangan pembuka guna mengisi perut untuk sementara waktu, tetapi selamanya tidak dapat dijadikan sebagai hidangan utama!"