
Memikirkan hal ini, Daniel mengernyitkan kening. Tangannya yang memegang gelas alkohol mulai mengepal erat.
Setelah ragu-ragu sejenak, ia menyesap alkoholnya lalu meletakkan gelas tersebut. Mengenakan jubah mandi dan berjalan keluar...
Di kamar sebelah, Tania sedang menutup mulut sambil berbicara dengan suara pelan di telepon...
"Iya, iya. Setelah urusan Mami selesai, Mami segera menjemput kalian."
"Tenang saja, Mami sangat aman kok. Roxy juga aman. Kalian harus patuhi Nenek. Keamanan yang terpenting."
"Carlos dan Carles harus jaga baik adikmu, ya. Mami sayang... "
Dua kata terakhir baru diucapkan, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Sebuah siluet berjalan masuk...
Tania terkesiap, kata 'Kalian' tenggelam dalam mulutnya.
Ia bergegas mengubah pembicaraan, "Sudah dulu ya, cepat istirahat, bye bye."
"Kamu sedang menelpon siapa?" Daniel perlahan-lahan masuk ke dalam, tubuh tinggi dan tegap tampak suram di bawah remang-remang cahaya.
"Aku... " Awalnya Tania ingin berbohong, tetapi aura Daniel membuatnya gugup. Jadinya ia menjawab jujur, "Bibi Juli!"
__ADS_1
"Hm?" Daniel mengangkat alisnya.
"Pelayan lama di rumahku. Sejak kecil ia yang menjagaku... " Tania menjawab jujur.
"Hari ini setelah menerima paket mengerikan, aku merasa rumahku tidak aman. Jadi aku mengirimnya pulang ke desa. Dia baru saja tiba di desa, jadi menelpon mengabari ku."
Selain menyembunyikan masalah anak, sisinya adalah fakta.
Daniel melihat tampangnya tidak berbohong, jadi ia tidak banyak bertanya lagi, "Istirahatlah lebih awal."
"Selamat malam." Ujar Tania.
Daniel berjalan sangat pelan meninggalkan kamarnya. Begitu tiba di pintu kamar, ia melihat Tania tidak ada niat menahannya. Daniel tidak senang, ia menoleh melihat Tania, lalu sengaja bertanya dengan cuek, "Ada yang ingin kamu katakan?"
"..... "
Daniel kehilangan kata-kata.
Wanita ini, jalur pikirannya benar-benar tidak normal.
Setengah jam kemudian...
__ADS_1
Pelayan wanita mengantarkan beberapa dimsum artistik memenuhi satu meja makan.
Tania menelan air liur. Awalnya ia menahan dirinya, kemudian mulai melahap dimsum dengan cepat.
Daniel duduk menyilang di sofa, ia menatap Tania dengan dingin, "Siapa yang percaya kalau kamu dulunya seorang putri anak orang kaya dan seorang wanita elegan? Kamu yang sekarang, seolah tidak pernah makan."
"Kamu tidak pernah kelaparan, bagaimana kamu bisa tahu merasakan kelaparan itu sangat menderita?" Tania menatapnya dengan dingin, "Jika tidak pernah kesulitan, maka tidak pernah tahu apa rasanya."
"Jadi, kamu pernah kelaparan?" Daniel penasaran dengan kehidupannya beberapa tahun ini, "Unta kurus mati lebih berguna daripada kuda. Sekalipun ayahmu bangkrut, ia masih punya banyak aset pribadi yang cukup untuk memenuhi kebutuhanmu."
"Saat terjadi masalah dengan ayahku. Aku tidak punya apa-apa, hanya pakaian dan perhiasan yang aku pakai, sisanya tidak ada."
Tania teringat insiden ayahnya, emosinya mulai menyesak.
"Aku menjual perhiasan itu, makanya dapat bertahan selama beberapa tahun. 2 bulan lalu, uang dari hasil penjualan itu telah habis dipakai, makanya aku mulai mencari kerja... "
"Mustahil!" Daniel bingung, "Walaupun perusahaan ayahmu telah bangkrut, tapi tidak menyita aset pribadi. Rumah, dana, dan mobil atas namanya kurang lebih ada 400 Milyar. Kenapa kamu tidak memiliki apa pun dan malah hidup dari menjual perhiasan?"
Tania tercengang mendengar perkataan dari Daniel.
Ia mendongak kearah Daniel, "Benarkah? Kalau begitu kenapa paman kedua ku bilang aset pribadi ayah di sita selurunya?"
__ADS_1
"Siapa paman keduamu?" Tanya Daniel.
"Frank.... ayah Alisia." Kemudian wajahnya menjadi murung, "Jangan-jangan mereka menelan kekayaan ayahku?"