Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius

Tragedi Satu Malam Dengan Cowok Misterius
Bab 212


__ADS_3

Jangan-jangan anak itu bukan milik Presdir Daniel?


Daniel melihat waktu di jam tangannya, "Aku tidak punya kesabaran menunggu lagi, aku beri waktu kalian tiga menit. Jika tidak bicara, semuanya di kurung bersama!" saat bicara, ia melihat Tania.


"Apa?" Tania tertegun menunjuk dirinya sendiri, "Aku, aku juga dikurung?"


Daniel tidak bicara, hanya menganggukkan kepala.


"Kamu... "


"Oh ya, seharusnya rahasia itu ada di dalam sana, 'kan?" Daniel melihat ponsel Alisia di tangan Tania.


Ia mengulurkan tangan kepadanya, "Serahkan padaku!"


"Tidak ada, tidak ada rahasia... " Tania mundur dengan panik.


Daniel menaikkan alisnya.


Pengawalnya, Hartono, bersiap mengambil ponsel itu. Namun, Ryan segera melirik nya, lalu Hartono beringsut mundur.


Sekarang Daniel sudah mengumumkan secara resmi, bahwa Tania adalah wanitanya. Pengawal mana yang berani menyentuhnya?


"Semuanya tuli?" Daniel berteriak marah.

__ADS_1


"Baik!" Ryan melangkah maju dengan panik dan berbicara baik-baik, "Nona Tania, serahkan ponsel itu padaku!"


Tania beringsut mundur, Ryan tidak berani mengulurkan tangan merebutnya langsung. Ia hanya bisa membujuknya, "Nona Tania, serahkan ponsel itu!"


Tania mundur ke sisi drum minyak dan hampir terbakar oleh api.


"Hati-hati!" Ryan mengulurkan tangan menariknya secara refleks.


Dalam putus asa, Tania langsung melemparkan ponsel ke dalam drum minyak yang terbakar.


Semua orang tercengang!


"Bagus sekali." Daniel menganggukkan kepala sambil menyeringai. Ia berdiri dan pergi, "Kurung mereka bersama, agar mereka semua bisa mengintropeksi diri dengan baik!"


"Baik." Ryan bersimpati melihat Tania. Lalu membawa pengawal pergi.


Alisia berteriak ingin keluar, namun mulutnya dibungkam oleh Kety.


Ketika semua orang sudah pergi, Kety baru melepaskan tangannya, "Ma, apa yang kamu lakukan?" ucap Alisia marah.


"Iya, kenapa kamu tidak membiarkan Alisia bicara?" Frank bingung.


Kety mengacuhkan mereka, lalu ia berjalan ke depan Tania, "Tiga anak haram itu.... Tiga anak itu bukan punya Presdir Daniel?" bisik Kety.

__ADS_1


"Omong kosong! Tentu saja punya dia." gumam Tania.


"Lalu, kenapa kamu merahasiakan darinya?" tanya Kety bingung.


"Aku yang membesarkan anak-anak itu dari kecil. Aku tidak ingin mereka direbut pergi." Tania memberikan alasan yang masuk akal, "Sekarang ia baik padaku, tapi siapa yang menjamin cinta akan abadi selamanya? Begitu ia membenciku nanti, ia akan merebut anakku, lalu menyuruhku pergi sendirian!"


Mendengar ucapannya ini, Alisia tersentuh hingga sakit hati. Ia berjongkok menutupi wajahnya dan menangis.


"Faktanya memang seperti itu." Frank mendesah sedih, "Kristian kami telah dibawa pergi oleh kakek dan neneknya. Kami sudah lama tidak melihatnya."


Wajah Kety juga murung, tetapi ia segera sadar kembali dan mencibir nya, "Kamu kira aku bodoh? Memangnya kamu tidak tahu Presdir Daniel orang seperti apa? Jika ia ingin menyelidikinya, memangnya kamu bisa terus menyembunyikannya?"


"Aku... "


"Sudahlah, entah apa pun alasanmu menyimpan rahasia itu. Itu tidak ada hubungannya denganku." Kety berbicara dengan dingin, "Selama kamu membiarkan kamu keluar dari sini dengan aman, maka kami tidak akan sembarangan bicara lagi!"


"Bibi memang orang pintar... "


Tania mendesah tulus, Kety memang bukan orang biasa. Kety tahu sekali, meskipun mereka mengungkapkan rahasia tiga anak itu, Daniel tidak mungkin langsung berbalik mendukung mereka.


Sebaliknya, hanya dengan satu ucapan Tania dapat membuat mereka bertiga tinggal selamanya di ruangan rahasia gelap dan dingin ini....


"Kamu tidak usah cemas, sekarang kamu adalah wanitanya Daniel. Siapa yang berani melukaimu?" Kety mengira Tania masih ragu, "Kami hanya perlu keluar dari sini, tidak ada permintaan lain." lanjut Kety.

__ADS_1


"Kamu terlalu berharap tinggi padaku. Sekarang aku juga dikurung bersama kalian." Tania duduk di sofa dan bicara dengan tak berdaya, "Sikapnya suka berubah-ubah, aku tidak bisa menebaknya."


"Dia pasti akan mengeluarkanmu." Kety sangat yakin, "Hingga saatnya nanti, kamu sudah tahu harus bagaimana?"


__ADS_2