BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 99 (Kejujuran Kasih)


__ADS_3

Kasih dan Ibunya terkejut ketika mendengar suara itu. Sedangkan pemilik suara itu telah berdiri didepan pintu. Seketika muka Kasih berubah menjadi tegang nahan takut. Sementara itu Ibunya Kasih hanta tertunduk diam tanpa berani menatap wajah itu.


"Apa saya tidak dipersilahkan, masuk?" tanya laki-laki itu.


"Ma..maaf, Pak. Silahkan masuk." ucap Kasih.


Laki-laki itu sekarang masuk dan duduk dikursi. Dia memandangi Kasih dan Ibunya. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum.


"Pak Hardi mau minum, apa?" tanya Kasih.


Ternyata laki-laki itu adalah Pak Hardi yang baru saja mereka bicarakan. Dia laki-laki yang hendak melamar Kasih. Ibunya Kasih hanya terdiam, karena takut kalau dia akan marah, setelah mendengar percakapannya dengan Kasih.


Tak lama kemudian Kasih balik dengan membawa secangkir teh hangat. Dia meletakan minuman itu diatas meja tepat dihadapan Pak Hardi.


"Silahkan, Pak.!" ucap Kasih pelan.


"Makasih Sih..," jawab Pak Hardi.


Kali ini Pak Hardi langsung meminum minuman yang disuguhkan oleh Kasih. Sedangkan Kasih dan Ibunya hanya membisu. Mereka tidak tahu maksud kedatangan laki-laki itu. Apa membahas soal lamaran itu atau yang lain.


"Maaf Bu Laksmi, sebetulnya kedatangan saya kesini mau menanyakan soal lamaran saya buat Kasih. Tapi, tadi saya mendengar pembicaraan kalian soal pangeran impian Kasih. Apa Kasih sudah punya kekasih?" tanya Pak Hardi.


"Maaf, Pak Hardi. Memang saya sempat jatuh cinta sama seorang laki-laki. Tapi, siapa dia saya rasa Pak Hardi nggak perlu tahu. Cuma, soal maksud Bapak ingin melamar saya, tolong dipertimbangkan lagi. Saya sudah menganggap Bapak seperti Ayah saya, dan hormat layaknya anak sama Ayahnya. Kalau sampai Pak Hardi hendak mempersunting saya, apa saya bisa melakukannya. Jadi, saya mohon Pak. Batalkan semua ini." jelas Kasih dengan lega.


"Kasih, apa kurangnya saya. Semua kebutuhan kamu dan keluarga kamu akan sya penuhi. Kamu juga tidak akan bekerja menjadi pembantu lagi.!" seru Pak Hardi.


"Maaf, Pak. Saya dirumah majikan saya tidak pernah dianggap sebagai pembantu. Mereka menganggap semua asisten rumah tangganya adalah keuarga. Mereka semua baik sama saya.!" jawab Kasih.


"Maaf Pak Hardi, Anak saya mungkin lagi capek, jadi dia berani menjawab semua omongan Pak Hardi." jawab Bu Laksmi ketakutan.


"Biarkan saja dia bicara, Bu. Saya akan mendengarkannya." ucap Pak Hardi.


"Saya akan tetap pada pendirian saya, Pak. Karena saya juga nggak bisa kalau nantinya menikah sama Bapak.!" jawab Kasih lagi.


"Saya ngerti Sih, kamu mungkin malu. Tapi, itu mungkin diawal pernikahan saja. Setelah itu pasti sudah terbiasa dan nggak akan malu atau risih lagi." jawab Pak Hardi lagi.


"Sih, mungkin apa yang dikatakan Pak Hardi itu benar, Nak. Kalau kamu tolak Pak Hardi, Ibu takut kalau nantinya tidak akan ada lagi laki-laki yang akan melamar kamu." sahut Ibunya.


"Bu, Kasih mohon untuk mengerti perasaan Kasih. Dan Ibu jangan takut soal itu. Setiap orang punya jodohnya masing-masing." jawab Kasih.

__ADS_1


"Kasih, kenapa kamu begitu kekeh menolak niat baik saya. Apa memang kamu sudah punya kekasih.?" tanya Pak Hardi.


Kasih tidak mau menjawab pertanyaan Pak Hardi Dia hanya diam membisu. Sedangkan matanya berkaca-kaca. Dia bingung mau jawab apa, karena saat ini perasaan dia lagi kalut. Dia belum sempat membicarakan soal lamaran Bu Ratih untuk Pak Gavin kepada Ibunya, sudah ada masalah baru lagi soal lamaran Pak Hardi duda berumur itu.


Dia nggak mau menjadi istri laki-laki tua itu. Tapi, kalau dia menerima tawaran Bu Ratih, apa kata Ibunya. Dia akan menjadi istri kedua oleh laki-laki yang pernah mencuri hatinya.


Satu sisi dia senang, karena dia akan menjadi istri pangeran impiannya meskipun hanya istri kedua. Tapi, satu sisi dia juga takut kalau Ibunya tidak menyetujuinya.


"Kasih.! kenapa kamu diam saja? Pak Hardi bertanya sama kamu?" seru Ibunya.


"Kenapa kamu nggak menjawab pertanyaan saya, Sih?" ucap Pak Hardi.


"Baiklah, Kasih akan menjawabnya. Iya, saya memang sudah punya calon. Makanya saya tidak bisa menerima lamaran Pak Hardi." jawab Kasih sambil suaranya sedikit bergetar.


"Baiklah kalau begitu, saya tidak keberatan. Maafkan saya kalau sempat membikin kamu tersinggung. Saya melakukan ini bukan berdasarkan hawa nafsu semata, karena saya ingin kamu kelak bisa hidup bahagia." jawab Pak Hardi.


"Maafkan kami Pak Hardi, terutama maafkan perkataan putri saya jika ada yang menyinggung Pak Hardi. Saya memang benar-benar nggak tahu kalau sebenarnya Kasih sudah punya kekasih." ucap Bu Laksmi sambil memohon.


"Ibu nggak usah memohon seperti itu. Kasih melakukan ini memang sudah sewajarnya. Ini hak Kasih untuk menolak jika memang Kasih nggak berkenan." jawab Kasih.


"Iya, Bu Laksmi. Saya nggak apa-apa kok. Dan saya mengerti perasaan Kasih. Baikah kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Pak Hardi sambil meninggalkan rumah Kasih.


"Kasih, Ibu jadi nggak enak soal ini. Padahal Pak Hardi itu sudah baik sama kita. Tapi, Ibu juga nggak mau jika kamu nanti menikah karena terpaksa." ucap Ibunya.


"Iya juga, Sih. Tapi, Ibu masih penasaran dengan perkataan kamu tadi. Emang siapa yang menjadi calon kamu?" tanya Bu Laksmi.


Kasih kaget, dia nggak mikir kalau kalau Ibunya bakal menanyakan hal itu. Apa memang inilah saatnya untuk memberi tahu Ibunya soal tawaran Bu Ratih.


"Bu, Kasih mau jujur sama Ibu. Tapi, Kasih harap Ibu jangan marah dulu, dan coba dengarkan baik-baik Kasih bicara." ucap Kasih.


"Kamu mau bicara apa, Nak?" tanya Ibunya.


"Ibu masih ingat soal keguguran yang dialami Bu Ratih sampai akhirnya dia mengalami pendarahan dan ternyata ada penyakit dalam rahimnya dan mengharuskan rahimnya harus diangkat. Lalu Mama mertuanya menginginkan anak dari Pak Gavin, karena ternyata Pak Gavin adalah anak tunggal. Karena alasan biar punya generasi penerus darah wijaya, Mamanya bersikeras menyuruh Pak Gavin punya anak, berarti kan Pak Gavin harus nikah lagi. Setelah itu Bu Ratih mengalah, demi kesehatan mertuanya dan demi suaminya bisa memberikan keturunan sama orang tuanya, Bu Ratih mengijinkan Pak Gavin untuk menikah lagi." jelas Kasih.


"Terus, apa hubungannya dengan calon yang Ibu tanyakan sama kamu?" tanya Ibunya menyelidik.


"Bu Ratih melamar saya untuk suaminya, Bu.!" jawab Kasih singkat.


Degh.!

__ADS_1


Hati Bu Laksmi bagai tertindih batu yang besar sehingga membuatnya sedikit sesak. Dia hampir nggak percaya dengan apa yang diucapkan putrinya barusan. Putrinya akan jadi istri kedua dari laki-laki yang selama ini putrinya puja.


"Nak, apa kamu sudah menerima lamaran Bu Ratih.?" tanya Ibunya.


"Belum, Bu. Kasih bilang sama dia kalau Kasih harus membicarakan ini dengan Ibu dulu." jawab Kasih.


"Ibu bingung harus merestui apa tidak. Jika tidak Ibu restui, tadi kamu sudah terlanjur menolak Pak Hardi dan bilang kalau kamu sudah punya calon. Dan jika Ibu restui, apa kamu siap jadi istri kedua dari pangeran impianmu?" ucap Bu Laksmi.


"Jujur Kasih juga bingung. Jika Ibu merestui, Kasih akan terima lamaran itu." ucap Kasih.


Bu Laksmi melihat ada gurat kesedihan pada wajah putrinya itu. Dia tahu kalau Kasih memang menyimpan kekaguman dan perasaan sama Gavin. Tapi, apa ini sudah takdirnya untuk bisa bersatu dengan laki-laki pujaannya dengan jalan seperti ini. Bu Laksmi juga nggak mau kalau nantinya putrinya ini terlalu mencintai dan nggak mau menerima laki-laki lain jika dia tidak meresruinya. Bu Laksmi kemudian dia tersenyum sama putrinya itu.


"Baiklah, Nak. Ibu akan merestui kamu. Terimalah lamaran Bu Ratih." jawab Bu Laksmi jelas.


"Ibu tidak keberatan jika Kasih jadi istri kedua Pak Gavin.?" tanya Kasih.


"Iya, Nak. Ibu setuju.!" jawabnya singkat.


Kasih bingung antara senang atau sedih. Dia nggak percaya kalau Ibunya bakal merestui ini. Tapi, dia sudah terlanjur bilang, kalau Ibunya merestui, dia akan menerima lamaran Bu Ratih.


"Baiklah, Bu. Kasih akan menyampaikan hal ini sama Bu Ratih dan Pak Gavin." jawab Kasih.


"Tapi, ingat pesan Ibu.! jangan sampai perasaan yang selama ini kamu pendam, diketahui oleh mereka berdua.!" seru Bu Laksmi.


"Iya, Bu. Kasih mengerti. Karena Kasih nggak ingin mereka menganggap Kasih memanfaatkan keadaan. Kasih melakukan ini murni untuk menolong Bu Ratih." jawab Kasih.


"Iya, Nak. Ibu mengerti perasaan kamu." ucap Bu Laksmi.


Tak lama kemudian, Gavin datang dengan langkahnya yang gagah. Ditangannya ada sebuah bungkusan, mungkin makanan untuk sekedar oleh-oleh. kemudian dia mengucapkan salam.


"Eh, Pak Gavin. Sialahkan masuk, Pak.!" ucap Kasih.


"Iya, Sih makasih, oh ya ini buat Ibu dan adik kamu." jawab Gavin sambil menyerahkan bungkusan tadi.


"Makasih Pak..," jawab Kasih.


Kemudian Gavin duduk dikursi, lalu Kasih kebelakang mengambilkan minum tapi, Gavin melarangnya.


"Saya disini nggak lama, Kok. Cuma mau jemput kamu lagi. Mama butuh bantuan kamu, Sih." ucap Gavin.

__ADS_1


-----------------------------------


Bersambung.....


__ADS_2