BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Extra part 2 (Hari pertama di rumah mertua)


__ADS_3

Saat Bu Ratih akan beranjak dari tempat tidur setelah membangunkan suaminya, Gavin baru membuka matanya. "Sayang, kamu udah bangun?"


"Aku baru bangun, kok. Kamu tidurnya nyenyak, kan?" ucap Bu Ratih sambil berlalu meninggalkan Gavin menuju kamar mandi.


"Sayang," seru Gavin sambil membentangkan tangannya minta dipeluk.


Bu Ratih menoleh, berjalan, lalu mengecup bibir suaminya. "Aku, mandi dulu, ya?"


Gavin mengangguk, melepas istrinya dengan senyuman. "Jangan lama-lama mandinya."


Gavin berdiri dari tempat tidur, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan puku enam pagi. Kemudian dia berjalan keluar menuju balkon. Dipandanginya langit yang cerah pagi ini. Udara dingin masih disisakan malam untuk pagi hari ini.


Tak lama kemudian, Bu Ratih keluar kamar mandi. Dia mengedarkan pandangannya mengelilingi kamar mencari suaminya. Dia tersenyum setelah mendapati suaminya berdiri di balkon sambil memegangi teralis.


Dipeluknya dari belakang tubuh suaminya itu. Sang pemilik tubuh atletis itu kemudian membalikkan tubuhnya, dan membalas pelukan istrinya.


Bu Ratih mendongak keatas menatap wajah suaminya. Gavin mencium kening istrinya itu. Bu Ratih tersenyum lalu mencium pipi suaminya. "Sana mandi lalu kita kebawah."


Gavin mengangguk, lalu melepaskan pelukan istrinya dan berlalu meninggalkan istrinya. Bu Ratih mengekor dibelakangnya lalu menuju meja rias. Setelah itu dia membuka tas nya untuk mengambil baju, karena belum sempet menaruh baju-baju nya di lemari. Setelah itu dia mengambil dress pendek tanpa lengan. Tak lupa dibalut dengan cardigan rajut.


Dia berdiri dihadapan cermin sambil memandangi tubuhnya. Tanpa disadari kalau Gavin sudah keluar dari kamar mandi yang dari tadi memperhatikannya. Gavin hanya tersenyum melihat tingkah pola istrinya itu.


"Kamu sudah cantik, kok. Nggak usah muter-muter gitu." ledek suaminya.


Bu Ratih tersipu malu ketika mendapati suaminya sedang memperhatikannya. Lalu dia menghampiri suaminya. "Kalau, aku nggak cantik, kamu kan nggak akan mengejar-ngejarku."


Gavin berjalan menuju lemari dan membukanya. Dia mengambil kaos oblong warna hitam dan celana pendek selutut warna khaki. Bu Ratih masih berdiri memandangi suaminya yang hendak ganti baju.


"Masih tetap disini, nungguin aku ganti baju.? tanya Gavin seraya melangkah mendekati sofa di kamarnya.


Dia meletakkan kaos dan celana pendek itu, sedangkan dirinya masih berbalut handuk yang menempel dipinggangnya.


"Kan, kita sudah halal. Kamu malu ganti baju ditungguin istrimu?" ucap Bu Ratih.


"Enggaklah., ngapain malu." sahut Gavin seraya mencomot kaosnya itu kemudian dipakainya, setelah itu dipakainya celana pendek tersebut.


Bu Ratih senyum-senyum sendiri melihat kelakuan suaminya itu. Dia kembali fokus dengan riasannya, tak dihiraukannya lagi suaminya yang sibuk bebenah sendiri.


"Sayang, kamu sudah siap.?" seru Gavin.

__ADS_1


"Okey sayang, aku siap." jawabnya.


Kemudian keduanya melangkah keluar dan menuruni tangga. Hari memamg masih pagi, penghuni rumah juga masih sepi. Kemana semuanya ini, gumam Gavin.


Bu Ratih melangkah keluar rumah hendak ke halaman. Sedangkan Gavin melihat kebelakang ada si Bibi lagi sibuk di dapur. Akhirnya Gavin menyusul istrinya ke depan.


"Sayang, semuanya sepi. Apa belum bangun?" ucap Gavin sembari mendekati istrinya yang duduk-duduk di kursi taman.


"Mungkin belum bangun, sayang." sahut Bu Ratih.


Gavin kemudian duduk disamping istrinya. Dia kembali merangkul pundak istrinya, dan kepala Bu Ratih ditaruh di pundak Gavin. Kemesraan tak henti-hentinya mereka ciptakan. Sampai-sampai tak menyadari kalau Pak Indra dan Bu Hesty sudah dibelakang mereka.


"Wuduh.., pengantin baru sudah bangun, nih! rajin amat.?" seru Pak Indra tiba-tiba.


Seketika Gavin melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang. Ada rona merah terpancar dari pipi keduanya. Pak Indra dan Bu Hesty hanya melemparkan senyum tipis melihat kedua pasang pengantin baru ini.


"Eh, Papa. Dari mana kok tadi Gavin lihat rumah sepi banget." ucap Gavin.


"Ada di kamar, nungguin Mamamu masih berias." ucapnya datar.


"Ratih, gimana rasanya tidur dengan Gavin yang tukang ngorok.?" ucap Bu Hesty sembari melihat ke arah Gavin.


"Hehe, iya Ma. Tapi, lama-lama kan kebal juga." jawab Bu Ratih.


"Oh iya, Kak Mahen mana, Ma?" tanya Gavin.


"Kakakmu lagi ngecek rumah barunya, pagi-pagi sekali tadi berangkat bersama Kinan." jawab Pak Indra.


"Oh iya, Kak Mahen beli rumah, Pa.! seru Gavin.


"Iya, setelah menikah dulu Papa saranin untuk langsung cari rumah. Tapi, jangan jauh dari rumah Papa. Biar kalau mau nengok nggak jauh-jauh." jawab Pak Indra.


"Oh gitu. Kenapa nggak disini aja sama-sama, Pa." ucap Gavin.


"Nak, menurut adat istiadat orang jawa, dalam satu rumah itu kalau dihuni tiga kepala keluarga, maka akan pamalik. Nanti salah satunya nggak kuat. Bukannya Papa percaya hal gituan, tapi, kalau sudah mencakup adat istiadat kudu nurut." jelas Pak Indra.


"Oh gitu ya, Pa.?" jawab Gavin sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.


"Iya, Nak. Nanti yang disini kamu dan istri kamu yang akan merawat kami." sahut Mamanya.

__ADS_1


Gavin manggut-manggut mendengar penjelasan dari Papanya. Kini, tanggung jawabnya semakin besar. Bagaimanapun juga dia yang akan gantian merawat orang tuanya dikala sudah tua nanti.


"Ayo, sarapan dulu. Sudah hampir jam delapan." ajak Bu Hesty.


Akhirnya mereka berjalan masuk rumah lalu menuju meja makan. Disana sudah tersedia menu sarapan untuk pagi ini. Nasi goreng jawa, roti bakar dan roti isi.


Gavin mengambil nasi goreng jawa sebagai makanan favoritnya. Bu Ratih hanya mengambil roti bakar serta segelas susu hangat.


"Kapan rencana kamu berangkat, Vin?" tanya Pak Indra.


"Nanti sore, Pa. Biar agak santai." jawab Gavin datar.


"Ya sudah, ntar Papa yang urus soal tiketnya." ucap Pak Indra.


"Makasih Pa..."


"Sama-sama, Nak."


Sarapan pagi ini terasa nikmat bagi Gavin. Karena ini sarapan kali pertama di rumahnya ditemani seorang istri. Mereka sesekali melempar senyum. Pak Indra yang memergoki kelakuan anak dan menantunya itu jadi ikut tertawa. Mungkin inilah yang dinamakan mabuk cinta jadi pengantin baru.


Sore harinya Gavin dan Bu Ratih siap-siap berangkat ke Bali. Mereka sudah packing semua baju-baju yang diperlukan. Hanya dua koper sedang yang mereka bawa. Bu Ratih memang belum semua membawa baju-baju dari rumahnya, jadi hanya beberpa potong aja yang diperlukan.


Gavin dan Bu Ratih turun kebawah dengan membawa koper masing-masing. Kini sudah siap semua tinggal berangkat. Pak Narto sudah menyiapkan mobil untuk mengantar mereka ke Bandara. Bu Hesty dan Pak Indra mengantar mereka sampai teras depan.


"Kalian hati-hati disana, ya? jangan sampai terlepas atau menghilang." ucap Bu Hesty sembari memegang tangan Gabin dan Bu Ratih.


"Iya, Ma. Gavin pasti jagain Ratih." jawabnya datar.


"Ya sudah, kalian berangkat sana. Jangan sampai ketinggalan pesawat." ucap Pak Indra.


Gavin dan Bu Ratih kemudian bersalaman dengan kedua orang tuanya. Pak Indra dan Bu Hesty tersenyum melepaskan kepergian anak bungsunya yang lagi ber bulan madu. Dalam hati Bu Hesty berucap, Kamu sudah dewasa, Vin. Tak terasa kini kamu sudah menjadi seorang suami. Rasanya kayak baru kemarin saja Mama menggendongmu.


-----------------------------------


Hai-hai kakak-kakak raiders, extra part nya cukup dua bab aja. selanjutnya akan aku buat cerita Bu Dosen cantik season dua.


Terima kasih telah setia dengan Bu Ratih yang cantik.


Jangan lupa like and vote nya...

__ADS_1


Salam..


__ADS_2