BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Part : 36 (Gavindra putera wijaya)


__ADS_3

....................................


Gavin terkejut dengan siapa yang barusan telfon. Ferry Maulana. Dapat nomor hapeny Gavin dari siapa. Terus mau ngapain dia ingin ketemuan. Gavin kembali terdiam sambil memegangi ponsel.


Sementara Bu Ratih dan Kinanti hanya saling pandang dengan melihat sikap Gavin. Bibi langsung saja berdiri dan beresin bekas makan malamnya itu.


Akhirnya terdengar helaan nafas panjang Gavin.


"Kak, Kinan. Ratih biar nginep sini aja, temani Kakak. Saya ada urusan penting yang harus diselesaikan" ucap Gavin tiba-tiba.


Spontan Kinanti dan Bu Ratih saling pandang dan mata mereaka mengisartkan kalau ada apa sebenarnya ini.


"Vin, Kakak sebenarnya nggak apa-apa tidur sendiri, toh juga ada Bibi dan Pak Satpam. Tapi kalau Ratih kamu suruh nginep sini Kakak tambah seneng." jawab Kinan seraya melirik Bu Ratih.


"Sayang, aku juga begitu. Seneng aja nginep sini, secara besok libur ngajar. Cuma kamunya ini mau kemana, malam-malam mau ada urusan." tanya Bu Ratih.


"Iya, sayang. Ini memang bener-bener urgent. Menyangkut nasib perusahaan." jawab Gavin.


"Maksud kamu, apa!" tanya Bu Ratih.


"Iya, Vin. Ada apa sebenarnya, Kakak kan juga jadi kawatir." timpal Kinanti.


"Kalian, tenang saja. Aku juga nggak sendirian. Aku akan mengajak anak buah Papa." jawab Gavin.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu hati-hati." ucap Bu Ratih.


"Iya, sayang." jawab Gavin.


Kemudian Gavin meninggalkan meja makan dan naik ke atas menuju kamarnya. Kinanti dan Bu Ratih membantu Bibi membereakan semuanya.


Setelah itu kedua wanita itu duduk-duduk di ruang tengah sambil ngobrol.


"Kak, kira- kira ada apa, ya?" tanya Bu Ratih.


"Aku, juga kurang tahu, Tih!" jawab Kinanti.


Dilihatnya Gavin turun dengan tangga hendak bersiap pergi. Kini penampilannya sedikit beda. Pakai celana cargo panjang khaki, dipadu tshirt warna hitam dilapisi sebuah jaket.


"Kalian, jangan lupa kunci pintu. Nanti aku bilang pada Pak satpam di depan, jangan sampai buka pagar, kalau bukan aku yang datang. Karena penghuni rumah saat ini yang sedang keluar cuma, aku. Semuanya kan di luar kota." terang Gavin.


"Baik, Vin." jawab Kinan.


"Aku, berangkat dulu" ucap Gavin.


"Hati-hati, sayang." sahut Bu Ratih.

__ADS_1


Gavin mengangguk sembari melempar senyum kearah Bu Ratih dan Kinanti. Gavin melangkah keluar diikuti Bu Ratih dibelakang. Kemudian dia menuju mobilnya.


Setelah mobil Gavin menghilang, Bu Ratih dan Kinanti masuk rumah. Kini yang tinggal dirumah sebesar itu hanya tiga perempuan dan seorang Satpam.


"Tih, kamu tidur sama Kakak aja." ucap Kinan.


"Iya, Kak. Ratih ngikut, aja." jawab Bu Ratih.


"Kamu, sudah kabari orang rumah, kalau kamu nginep sini?" tanya Kinan.


"Sudah, Kak. tadi Ratih sudah telfon Mama." jawabnya.


Kemudian mereka masuk ke kamar. Sedangkan Gavin sendiri masih melajukan mobilnya menuju tempat yang dituju. Pak Ferry minta Gavin menemuinya di sebuah Restoran. Anak buah Papanya sudah dihubungi dan disuruh menyusul dia.


Sesampainya di Restoran itu, Gavin memarkirkan mobilnya. Sesaat setelah dia turun mobil, ada dua orang laki-laki tak dikenal menyambutnya.


"Anda yang bernama, Pak Gavindra?" tanya laki-laki itu.


"Iya, saya sendiri." jawab Gavin.


"Mari, ikut saya. Pak Ferry sudah menunggu Anda didalam." jawab laki-laki tadi.


Kemudian Gavin berjalan mengikuti laki-laki tersebut. Kemudian dari jauh sudah terlihat laki-laki paruh baya dengan stelan jas lengkap. Oh itu yang namanya Ferry maulana, Bathin Gavin.


"Boss, ini Pak Gavin sudah datang." ucap laki-laki yang tadi jemput Gavin.


Kedua laki-laki suruhannya itu melangkah meninggalkan Gavin dan Pak Ferry.


"Silahkan duduk, Tuan Gavin.!" ucap Pak Ferry.


"Iya, terima kasih." jawab Gavin.


"Anda, mungkin bertanya-tanya, kenapa saya minta, Anda menemui saya malam-malam gini. Pertama, saya ikut prihatin dengan musibah yang menimpa Pak Indra wijaya. Kedua, saya mau memastikan soal proyek yang di Bali. Berhubung Pak Indra lagi di rumah sakit, jadi saya menghubungi Snda sebagai wakil dari Pak Indra untuk membicarakan proyek yang di Bali." jelas Pak Ferry.


"Baiklah, Pak. Saya sebagai pengganti Pak Indra, akan menyetujui apa yang telah Papa saya sepakati dengan Anda. Mulai besok, Anda sudah bisa ambil alih proyek yang di Bali. Soal surat perjanjian, akan saya urus secepatnya dan saya email langsung ke Bali." ucap Gavin tegas.


Pak Ferry senang sekali dengan sikap Gavin yang tegas dan tidak bertele-tele.


"Terima kasih, anak muda. Saya senang sekali dengan sikap Anda." ucap Pak Ferry.


"Gimana, Pak Ferry. Apa saya sudah boleh pergi dari sini.?" ucap Gavin.


"Oh..tunggu dulu anak muda, saya belum selesai. Kita nikmati dulu makanan yang sudah saya pesan ini." ucap Pak Ferry.


Tak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka. Gavin kaget, dia baru saja makan di rumah. Mau menolak tapi nggak enak.

__ADS_1


Akhirnya dia makan juga apa yang sudah Pak Ferry pesankan.


Ditengah menikmati makanan, tiba-tiba datanglah seorang gadis, mungkin usianya sekitaran dua puluh tahunan, mendekati meja mereka. Gadis itu mungil, kulit putih, sedikit pendek.


"Hallo, Papa!" seru Gadis itu.


"Hallo, Nak. Princes Papa, ayo makan dulu sini, sekalian temenin Papa. Oh ya, sayang. Ini rekan bisnis Papa. Namanya Gavindra. Salam dulu!" tukas Pak Ferry.


"Hay..! kenalin, saya Sasha." ucapnya.


"Hallo, saya Gavindra." jawab Gavin.


Keduanya saling berjabat tangan. Mata Sasha tak hentinya memandang Gavin tanpa kedip. Gavin jadi jengah karena diperhatikan seperti itu. Buru-buru dia melepaskan tangan Sasha. Apa-apaan ini Si Ferry pake ajak Anaknya segala. Maksudnya apa coba? Bathin Gavin.


"Pak, Ferry. Saya permisi pulang dulu. Sudah malam, besok saya harus ke kantor." ucap Gavin.


"Kenapa, Pak Gavin keburu-buru sih! baru jam sepuluh kok Sudah dibilang malam?"jawab Pak Ferry.


"Iya, Pak. Kakak saya di rumah sendirian. Saya harus pulang segera." ucap Gavin.


"Oh iya, Mas Gavin kenapa buru-buru. Sasha belum ngobrol-ngobrol.!" timpal Sasha.


"Iya, Pak Gavin. Ngobrol dulu sama anak saya. Sapa tahu ada kecocokan. Bukan begitu Sasha?" seru Pak Ferry sambil melirik ke arah Sasha.


Apa-apaan ini si Ferry. Pasti ada maunya. Secepatnya harus dihindari. Gumam Gavin.


"Maaf, Pak. Saya harus permisi." ucap Gavin sambil berdiri dari tempat duduknya.


Kemudian dia bersalaman dengan Pak Ferry. Gavin akhirnya bisa lepas dari si Ferry. Dia menuju parkiran menuju mobilnya. Tak lama kemudian dia laki-laki yang tak lain anak buah Papanya memghampiri Gavin.


"Gimana, Pak Gavin. Semuanya aman-aman saja, kan?"tanya orang itu.


"Iya, Pak. Sampai detik ini tidak ada yang mencurigakan." jawab Gavin.


"Baiklah, kalau begitu Pak. Sekarang rencana Pak Gavin kemana.?" tanyanya lagi.


"Saya, pulang aja. Tapi saya minta tolong, awasi terus gerak-gerik Ferry maulana itu. Kalau ada yang mencurigakan langsung info ke saya.!" ucap Gavin.


"Siap, Pak.!" jawab laki-laki itu.


"Oke, saya pulang dulu." ucap Gavin sambil masuk mobil.


Sementara laki-laki itu masih berdiri dan mengawasi Gavin sampai mobilnya meninggalkan pelataran restoran. Setelah Mobil Gavin menghilang, laki-laki itu masuk restoran. Dia ambil tempat duduk yang nggak jauh dari tempat Ferry maulana tadi.


"Pa., Sasha suka sama teman Papa yang barusan. Dia ganteng, berwibawa dan pokoknya Sasha suka banget." ucap Sasha.

__ADS_1


"Tenang, sayang. Suatu hari dia pasti jadi milikmu.!" jawab Ferry maulana..


Next..................(37).


__ADS_2