
Gavin kaget setelah mendengar apa yang disampaikan istrinya. Mertua Bagas meninggal dunia. Memang sudah lama sakitnya, tapi akhirnya tidak terselamatkan juga. Mungkin ini memang sudah takdirnya.
"Kapan meninggalnya, sayang?" tanya Gavin.
"Katanya barusan. Tapi, masih dirumah sakit." jawab Bu Ratih.
"Ya sudah, Papa sama Mama kesana besok pagi aja. Soalnya sekarang sudah malam. Biar sekarang Gavin sama Ratih yang kesana. Untuk bantu-bantu dirumah." ucap Gavin.
"Baiklah, sayang." jawab Bu Ratih.
Gavin dan Bu Ratih akhirnya bersiap-siap untuk kerumah mertua Bagas.
(*****)
Keesokan harinya dirumah Ibunya Irene, semua pelayat sudah hadir. Keluarga Juga sudah kumpul. Farrel dan Irene sangat terpukul dengan kepergian Ibunya. Apalagi Farrel yang baru beberapa bulan saja ketemu Ibunya, yang sebelumnya terpisah sampai tiga belas tahun.
Kakek Farrel yang tak lain adalah mertua dari Bu Retno juga datang. Dia datang diantar sopir, sedangkan Farrel sudah dari semalam disini.
Keluarga Gavin dan Bagas pun sudah berkumpul untuk melayat. Terlihat Pak Indra dan Bu Hesty. Mahen sendiri karena Kinanti jaga bayinya. Bu Rahma dan Winda pun juga hadir.
Bayi Kinan kini digendong Bu Rahma dibantu dengan Winda, sedangkan Irene masih syok dan hanya terdiam didalam kamar. Bagas begitu setianya menunggui istrinya yang menangis terus didalam kamar.
Gavin dan yang lainnya sibuk didepan membantu semua keperluan pemakaman.
Bu Ratih duduk disamping Mamanya yang lagi gendong Reindra.
Jenazahnya baru saja selesai disucikan, kini tinggal dikafani. Bu Ratih ikut sedih melihat pemandangan yang ada dihadapannya itu. Dia jadi teringat kejadian saat Papanya meninggal dulu. Tak terasa airmatanya pun jatuh menetes dipipinya yang halus.
Farrel duduk berdampingan dengan Gavin serta Mahen. Bagas nggak kelihatan mungkin dia masih didalam untuk menemani istrinya. Semua yang hadir disitu begitu terharu melihatnya.
Kakek Farrel duduk diatas kursi karena memang sudah tua, dia didampingi sopir setianya. Dia juga terlihat sedih dengan kepergian menantunya ini. Anaknya memang benar-benar kurang ajar. Bahkan sampai istrinya meninggal pun dia nggak tahu rimbanya, padahal mereka belum resmi bercerai, hanya pisah saja.
Tapi, meskipun datang juga nggak berpengaruh sama keadaan ini. Toh, Menantunya juga sudah meninggal, lalu anak-anaknya sekarang sudah hidup berkecukupan.
Tak lama kemudian Irene keluar dibantu Bagas. Matanya begitu sembab karena telah banyak mengeluarkan air mata. Kini dia sudah merasa tenang dan mau menyalami tamu-tamunya.
Dia memutari semua orang yang hadir dirumahnya itu untuk meminta maafkan Ibunya jika punya salah.
__ADS_1
Dimata tetangga-tetangganya Bu Retno memang baik, disini sempat buka warung nasi padang, cuma setelah dia vonis kena kanker, jadi dia nggak jualan lagi. Jadi, Irene lah yang ganti kerja mencari uang untuk pengobatan Ibunya.
Tak lama kemudian datang sebuah mobil warna hitam. Kemudian turunlah seorang laki-laki paru baya dengan membawa kruk. Semua tamu yang hadir menoleh kearahnya.
Farrel terkejut dengan siapa yang datang. Begitu pula Irene, dia langsung mendekati adiknya.
"Rel, benarkah itu Ayah?" tanya Irene.
"Iya, Kak. Kenapa dia datang. Biar aku yang hadapi" ucap Farrel.
"Jangan, Rel.! biar dia masuk." jawab Irene.
Pak Burhan, Kakeknya Farrel dan Irene langsung beranjak dari tempat duduknya setelah mengetahui bahwa anaknya datang. Dia pasang muka geram, Farrel yang melihat Kakeknya seperti itu langsung berdiri dan mencoba menenangkan Kakeknya.
"Kek, sabar dulu. Ini jenazah Ibu baru mau berangkat ke pemakaman. Tolong, jangan emosi dulu, ya Kek?" ucap Farrel.
"Baiklah, Kakek turuti keinginanmu." jawab Pak Burhan.
Laki-laki yang barusan turun tadi kini membaur dengan pelayat-pelayat yang lain. Tak lama kemudian jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman umum. Farrel, Gavin, Bagas dan Irene ikut ke makam. Sedangkan keluarga yang lainnya tinggal dirumah.
Pak Burhan mendekati anaknya yang tak lain adalah Ayah dari Farrel dan Irene. Laki-laki itu kemudian menyalami Pak Burhan.
"Maafkan saya, Pak. Selama ini saya telah meninggalkan anak dan istri. Sebenarnya selama dua bulan terakhir ini saya sudah di Jakarta, Pak. Tapi, saya nggak berani pulang kesini takutnya anak-anak marah sama saya." jawabnya.
"Ya jelas anak-anakmu marah. Kamu meninggalkan mereka dari mereka belum mengerti kerasnya hidup. Sekarang kedua anakmu sudah dewasa dan sukses.!" Jawab Pak Burhan.
Pak Indra yang melihat kejadian itu mencoba menenangkan Pak Burhan. Dia mendekati Ayah dan anak itu.
"Yang sabar, ya Pak. Ini masih suasana berduka." ucap Pak Indra.
"Maaf, Pak. Saya terbawa emosi kalau melihat anak saya ini." jawab Pak Burhan.
"Iya, Pak. Saya memaklumi itu. Sekarang Pak Burhan silahkan duduk kembali." ucap Pak Indra seraya membantu Pak Burhan duduk kembali dikursi.
"Hey, kamu Farhan. Tunggu anak-anakmu datang. Jangan pulang dulu!" seru Pak Burhan.
Sekitar satu jam an, akhirnya mereka yang dari pemakaman datang. Farrel, Gavin serta Irene dan Bagas masuk rumah.
__ADS_1
Pak Farhan masih tetap duduk, Farrel dan Irene diam nggak mau mendekati Ayahnya. Pak Farhan yang mendapati kedua anaknya mengacuhkannya langsung angkat bicara.
"Rel, Ren. Maafkan Ayah, Nak. Ayah baru bisa menemuhi kalian sekarang." ucap Pak Farhan.
"Kenapa Ayah pulang, mendingan Ayah pergi dari sini. Sekarang Ibu sudah meninggal Ayah pulang. Waktu Ibu sakit-sakitan selama ini Ayah kemana!" teriak Farrel.
"Maafkan Rel, Ayah selama ini memang ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan." jawab Pak Farhan.
"Isssh., itu hanya alasan Ayah saja. Farrel tahu selama ini Ayah sudah menikah lagi. Padahal Ibu masih sah istri Ayah. Ayah meninggalkan kami semua. Farrel ikut Kakek dan Mbak Irene sama Ibu. Alhamdulilah Farrel bisa bertemu kembali dengan Ibu dan Mbak Irene." ucap Fatrel sambil matanya memerah nahan marah.
"Rel, sudah.! kamu yang tenang, ya Dek. Makam Ibu belum kering, kita disini sudah bertengkar." ucap Irene.
"Biarin, Mbak. Farrel sudah muak melihat mukanya. Ayah nggak bertanggung jawab.!" jawab Farrel.
"Ssttt..! tolong kendalikan emosimu Rel, Mbak harap kamu bisa tidak terpengaruh olehnya." ucap Irene.
"Iya, Rel. Kamu yang sabar, ya.?" sahut Bagas.
Akhirnya Pak Burhan menengahi. Dia menyuruh Farhan untuk pulang. Mungkin saat ini belum saatnya dan waktunya juga nggak tepat. Farrel masih emosi.
"Farhan,! mendingan kamu balik saja. Anakmu saat ini masih belum bisa menerima kehadiran kamu. Biar mereka tenang dulu." ucap Pak Burhan.
"Tapi, Pak. Saya masih rindu sama anak-anakku. Biarkan saya disini sebentar saja." ucap Pak Farhan.
"Tapi, lihatlah. Apa anak-anakmu menerimamu. Saya sebagai Bapakmu malu sama mereka. Karena kamu tidak bisa menjadi Ayah yang benar buat mereka." ucap Pak Burhan.
"Maaf, Yah. Bagas bukannya ikut campur. Sebagai suaminya Irene, saya hanya membenarkan apa yang dikatakan Kakek Burhan. Saat ini istri saya juga masih syok atas meninggalnya Ibu. Mungkin lain waktu Ayah bisa kembali lagi menemui Farrel dan Irene." ucap Bagas.
"Makasih Nak Bagas.., baiklah kalau begitu, Ayah pulang dulu. Lain kali kesini lagi." jawab Pak Farhan.
"Iya, Yah. Makasih atas pengertiannya." jawab Bagas.
Kemudian Pak Farhan meninggalkan rumah Bu Retno. Dia berjalan dengan bantuan kruk dan didampingi seorang sopir. Mungkin keadaan perekonomian Pak Farhan sudah membaik dan sukses, sehingga mau menemui anak-anaknya.
Farrel dan Irene hanya memandangi Ayahnya yang melangkah meninggalakan rumahnya. Dalam hati Irene masih ada rasa kasihan karena mau seburuk apapun Ayahnya dia tetap Ayah buat Farrel dan Irene.
-----------------------------------
__ADS_1
Bersambung....