
Sekitar hampir Subuh Raka pulang dari rumah sakit. Karena sudah ada keluarga Gazi yang datang. Dara juga diantar sama Raka. Nenek Gazi dan Pak Fajar sudah ada di rumah sakit.
"Budhe, Mbak Kasih bilangnya jam berapa tiba di Jogja." tanya Pak Fajqar.
"Pas di telpon dia bilangnya pagi sekitar jam sembilan an." jawab Budhe.
"Untung ada Dara dan temannya, kasihan mereka barusan pulang." ucap Pak Fajar.
"Gazi itu ada aja. Dulu waktu kecil juga pernah ditabrak motor, sekarang sudah besar malah ditabrak mobil." ucap Neneknya.
"Oh iya, Budhe. Mas Rahman apa sudah dikasih tahu?" tanya Pak Fajar.
"Sudah, tapi belum tahu kapan kesininya." jawab Budhe.
"Bram kadang kasihan sama Mbak Kasih, Budhe. Ditinggal Mas Rahman selingkuh sampai punya anak lalu menikah lagi, tapi dia tetap tidak mau melepaskannya, alasannya karena menghormati suaminya." ucap Pak Fajar.
"Budhe kadang malu sama Kasih, Bram. Makanya saat Gazi minta kuliah di Jogja Budhe menawarkan diri untuk dia tinggal disini temani Budhe. Memang sejak Bu Laksmi meninggal, Gazi jadi dekat sama Budhe. Meskipun dia bukan cucu kandung Budhe, tapi Budhe sayang sama anak itu." jawab Budhe.
"Iya, Budhe. Meskipun uangnya banyak, tapi aslinya batin Mbak Kasih itu menangis." ucap Pak Fajar.
"Makanya itu, Bram. Budhe ini jengkel dengan Rahman. Padahal dia dulu cinta banget sama Kasih, malahan bisa menerima Kasih dengan anaknya, gara-gara wanita itu dia jadi berubah." ucap Budhe sambil menangis.
"Sudah, Budhe. Mbak Kasih orangnya baik kok. Jadi, dia sudah bisa menerima semua ini." jawab Pak Fajar.
.
.
.
Siang harinya, Gavin akan berencana ke rumah sakit untuk menemui Gazi. Dia akan jemput Bu Ratih ke kampusnya dulu. Dia berhenti dipinggir jalan untuk menunggu Bu Ratih keluar dari kampusnya.
Akhirnya setelah menunggu sekitar lima belas menit, Bu Ratih keluar lalu menuju mobil suaminya.
"Pa, Papa sudah mantap dan yakin akan menemui Gazi siang ini." tanya Bu Ratih.
"Siap, Ma. Kan ada kamu."
"Kalau nanti disana ada, Kasih gimana.?"
"Ya nggak apa-apa."
"Ya sudah, ayo kita berangkat."
Gavin menyalakan mobilnya dan melaju menyusuri jalan raya. Untung saja jarak rumah sakit dan kampus nya Bu Ratih dekat, jadi nggak memakan banyak waktu.
Sekitar dua puluh menit kemudian mereka sampai rumah sakit. Bu Ratih keluar lalu diikuti oleh Gavin. Setelah sampai di resepsionis, Bu Ratih menanyakan letak kamar Gazi pada petugas yang berjaga.
__ADS_1
Setelah sudah mendapat info kamarnya, Gavin dan Bu Ratih menuju kamar perawatan. Setelah ketemu, mereka mencoba melihat kedalam kamar. Ada seorang wanita tua dan seorang laki-laki.
"Selamat siang," ucap Bu Ratih.
Seketika mereka menoleh kearah pintu, Pak Fajar yang melihat kedatangan Gavin dan istrinya langsung saja mendekati dan mempersilahkan masuk.
"Silahkan masuk, Pak Gavin." ucap Pak Fajar.
"Lho, jadi Pak Fajar ini omnya Gazi. Berarti dulu yang waktu saya menyumbangkan darah itu Gazi ini?" tanya Gavin.
"Iya, Pak. Berarti Kasih yang dulu Pak Gavin maksud teman Pak Gavin itu, iya benar Mbak Kasih ini. Namanya Kasih andriyani." jawab Pak Fajar.
Gavin dan Bu Ratih langsung saling pandang. Lalu Gavin melanjutkan ngobrol lagi.
"Oh iya, saya kesini cuma memastikan kalau keadaan Gazi sudah tidak apa-apa. Karena kemarin malam saya tinggal pulang, anak saya dan temannya yang nungguin." jelas Gavin.
"Oh jadi Gazi teman anak Pak Gavin. Berarti orang tua temannya Gazi yang dimaksud adalah Pak Gavin?" tanya Pak Fajar.
"Iya, Pak Fajar." jawab Gavin singkat.
"Terima kasih banyak, ya Pak Gavin. Sudah dua kali ini Pak Gavin membantu Gazi untuk mendonorkan darahnya. Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih banyak." ucap Pak Fajar.
"Ya ampun, Nak. Ibu juga mau mengucapkan terima kasih banyak atas semua bantuannya buat cucu saya." sahit Budhe.
"Iya, Bu. Sama-sama." jawab Gavin.
"Kebetulan Ibunya masih ngurus administrasinya atau apa gitu. Kalau Ayahnya belum datang, Nak." jawab Budhe.
"Iya, Pak Gavin. Ayahnya Gazi masih diluar kota. Lalu Mbak Kasih tadi ngurus administrasi." jawab Pak Fajar.
Tak lama kemudian, Gazi siuman. Dia membuka matanya dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Dia kaget mungkin kamar ini adalah bukan kamarnya.
"Nek,!"
"Alhamdulilah, Gazi. Akhirnya kamu siuman juga." sahut Neneknya.
Gavin dan Bu Ratih langsung mendekati Gazi, begitu juga Pak Fajar juga mendekati Gazi yang masih terbaring. Gavin memandangi wajah Gazi dengan tatapan yang penuh kerinduan.
"Om Gavin, Tante Ratih. Kok kalian disini, Mana Kak Raka?" tanya Gazi sambil memandangi Gavin dan Bu Ratih.
"Kak Raka masih kuliah, ini tadi Om dan Tante mampir pingin lihat keadaan kamu." jawab Bu Ratih.
"Iya, Zi. Om dan Tante kawatir dengan keadaan kamu." sahut Gavin.
Disaat mereka ngobrol satu sama lain, tiba-tiba Kasih masuk dengan membawa struk pembayaran, dia nggak melihat didalam itu ada siapa saja, dia langsung nyelonong masuk.
"Bu, Ibu. Ternyata operasinya Gazi kemarin itu sudah ada yang ba--" Kasih tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Dia kaget dan terkejut sampai kertas yang dia bawa pada jatuh ke lantai. Dia hanya berdiri sambil menatap Gavin dan Bu Ratih. Sedangkan Gavin menatap mata Kasih dengan tajam dan penuh kemarahan.
Bu Ratih yang melihat Gavin seperti mau marah, dia tiba-tiba memegang tangan suaminya itu untuk menenangkan emosi Gavin. Sedangkan Kasih masih berdiri kaku dan nggak bisa berkata apa-apa.
Kemudian perlahan dia bisa mengendalikan dirinya dan mulai mencoba untuk bicara. "Mbak Ratih.!" ucapnya pelan.
Bu Ratih tersenyum, kemudian Kasih mengalihkan pandangannya kearah Gavin, mantan suaminya.
"Mas Gavin.!"
"Kamu pasti kaget kenapa aku dan Ratih ada disini.?" ucap Gavin sambil menatap Kasih tanpa kedip.
Sedangkan Kasih hanya menunduk dan nggak berani menatap wajah Gavin. Bu Ratih tetap menggenggam tangan suaminya karena untuk menahan kali saja Gavin marah.
"Aku mau bicara sama kamu diluar.!" ucap Gavin sama Kasih.
Kasih hanya mengangguk, Gavin lalu keluar diikuti Kasih dibelakangnya. Bu Ratih awalnya nggak ikut, tapi setelah itu Gavin menyuruhnya ikut. Akhirnya mereka bertiga menuju luar kamar.
"Kasih, aku mau kamu bicara jujur.?"
"Jujur soal apa, Mas.?"
"Siapa Ayah Gazi.!"
Degh.,!
Pertanyaan Gavin hampir membuat Kasih pingsan. Dia melongo dan nggak bisa menjawab. Saking takutnya sampai akhirnya Kasih meneteskan air matanya. Bu Ratih langsung mendekati Kasih dan mencoba menenangkannya.
"Ya ampun, Mas Gavin tahu dari mana kalau Gazi memang anak kandungnya" batinnya.
"Sih, kamu bicara jujur aja. Kami nggak akan marah, kok." ucap Bu Ratih sambil memegang punggung Kasih.
"Aku nggak akan marah atau menyakiti kamu kalau memang kamu jujur, Sih." sahut Gavin.
Kasih langsung menangis dan berlutut didepan kaki Gavin sambil dipeganginya. Bu Ratih dan Gavin sontak kaget, Gavin berusaha melepaskan tapi tidak bisa karena Kasih memegangnya terlalu erat.
"Maafkan aku, Mas. Aku nggak jujur saat itu. Aku nggak bermaksud membohongi kamu dan Mbak Ratih. Tapi, saat itu aku bingung dan kalut dengan kehamilan kedua aku. Kejadiannya memang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tahu kalau aku hamil itu setelah pulang dari menghadiri ulang tahun Raka yang pertama. Kalau aku bilang sama kamu, otomatis nanti pasti kamu tidak akan menyetujui gugatan ceraiku, makanya aku menyembunyikan ini supaya aku bisa lepas dari kamu. Akhirnya setelah aku melahirkan Gazi, aku langsung menggugat cerai kamu." jelas Kasih dengan posisi masih berlutut sambil memegang kakinya.
"Ya ampun Kasih.,! selama ini kamu sudah memisahkan aku dan anakku hampir dua puluh tahun. Ya Tuhan.. Kenapa bisa jadi seperti ini, apa salahku.,!" teriak Gavin sambil menuntup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
Dia menangis tersedu-sedu karena tidak menyangka karena selama ini dia terpisahkan dengan anak kandungnya hampir dua puluh tahun. Gavin kemudian memeluk Bu Ratih dan menangis histeris.
Kasih masih duduk dilantai, tapi kakinya Gavin sudah dilepaskan. Dia juga nggak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu.
--------------------------------
Bersambung....
__ADS_1