BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 247 (Nikah dadakan)


__ADS_3

Hari ini Zahra dan Bu Ratih datang ke rumah sakit atas permintaan Gazi. Keadaan Cindy memang semakin parah, meskipun bisa merespon mungkin itu hanya sementara.


Sarah dan Gazi masih menemani Cindy di ruangan ICU. Sarah hanya bisa menangis terus sampai matanya sembab. Sedangkan Gazi masih setia menemani Cindy disampingnya.


Sekitar sore harinya Bu Ratih dan Zahra datang ke rumah sakit dengan ditemani Gavin. Mereka langsung menuju ruangan Cindy dirawat. Setibanya sampai di tempat Cindy, Zahra kaget karena melihat Gazi memegang tangan Cindy begitu lembut.


Bu Ratih melihat ada rasa sedih dalam raut wajah Zahra ketika melihat Gazi dan Cindy. Seketika dia lalu mendekati Zahra dan mengajaknya untuk duduk. Gavin masih berdiri dan hanya bisa melihatnya dari luar. Karena pengunjung hanya dibatasi dua orang saja yang boleh masuk.


"Zahra, kamu pasti kaget ya kenapa Gazi menunggui Cindy di rumah sakit.?" tanya Bu Ratih.


Dia lalu menganggukan kepalanya, "Iya Tante, kenapa Gazi menemaninya.?"


"Baiklah mungkin saat inilah waktunya untuk kamu mengetahuinya. Cindy sakitnya sudah parah, jantung bengkak lalu sekarang bocor ditambah lagi asam lambungnya sudah parah. Sekitar kurang lebih dari dua bulan yang lalu Cindy sempat kritis lalu dibawa ke rumah sakit, dan kebetulan pingsannya itu di cafenya Gazi. Jadi Gazi dan Heru yang bawa ke rumah sakit.


Setelah itu hanya nama Gazi lah yang disebut, lalu saran dokter untuk membuatnya senang dan dijauhkan dari pikiran yang membuatnya sedih. Disaat yang bersamaan itu Cindy hanya minta ditemani Gazi saja, kalau tidak dia nggak mau melanjutkan pengobatan dan minta mati saja, akhirnya Sarah kakak Cindy meminta Gazi untuk membahagiakan adiknya disisa umur adiknya dan mereka jadian dibelakang kamu.


Tante harap kamu jangan sedih dan menyalahkan Gazi, dia melakukan ini hanya untuk membuat kesembuhan Cindy. Dan akhirnya dia sadar dan bisa kembali beraktivitas. Makanya dia datang ke cafe saat Gazi ulang tahun saat itu. Cuma dia nggak enak karena ada kamu. Dia memang sudah janji harus bisa menerima konsekuensinya jadi yang kedua.


Dan tadi pagi Gazi dihubungi Kakaknya Cindy kalau Cindy kambuh dan harus dilarikan ke rumah sakit. Terakhir Cindy bilang kalau dia ingin menjadi istrinya Gazi disisa umurnya. Makanya kami keluarga sepakat mengajak kamu kesini untuk memberitahukan sekalian menyaksikan Gazi dan Cindy menikah. Ini hanya nikah secara agama saja. Tante harap kamu bisa terima karena ini hanya untuk memenuhi permintaan terakhir Cindy." jelas Bu Ratih.


"Ya ampun Cindy, ternyata sakit kamu begitu parah. Aku nggak tahu kalau dibalik semua keceriaan dan tingkah centil kamu ternyata kamu menyimpan sebuah rasa sakit yang luar biasa." jawab Zahra sambil matanya berkaca-kaca.


"Iya Nak Zahra, kamu lebih beruntung dari pada Cindy. Meskipun dia bergelimang harta dan punya keluarga, tapi dia tidak bisa merasakan semua itu. Keluarganya broken dan hanya ditemani harta saja, dan itupun juga mungkin sebentar lagi dia tidak bisa menikmatinya." ucap Bu Ratih.


"Baiklah Tante, saya ikhlas jika Gazi menikahi Cindy." jawab Zahra sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.


"Alhamdulilah Nak Zahra, kamu baik banget karena bisa mengerti untuk semua ini." jawab Bu Ratih.


Tak lama kemudian Gazi keluar dari ruangan ICU tersebut dengan diikuti Sarah Kakaknya Cindy. Kemudian dia menyalami Bu Ratih dan menangis dipelukan Bu Ratih.


"Tante.., maafin adik saya jika pernah membuat salah sama Tante. Kasihan dia sekarang dia berjuang melawan penyakitnya sendirian. Hiks..hiks..!" ucapnya sambil menangis.

__ADS_1


"Sssttt, sudah jangan menangis. Kita berdoa saja buat kesembuhan Cindy. Oh iya ini Zahra pacarnya Gazi." ucap Bu Ratih sambil melirik ke arah Zahra.


Sarah menoleh dan memperhatikan wanita anggun dihadapannya kali ini. Pantas saja Gazi sangat mencintainya karena dia sangat cantik dan anggun. Dengan balutan busana muslimah lengkap menambah kecantikannya.


Dia mendekati Zahra lalu tersenyum. "Kamu cantik sekali, pantas saja Gazi sangat mencintai kamu.!" ucapnya pelan.


"Ah biasa saja Kak, saya hanya gadis yatim piatu yang kebetulan dipertemukan dengan Gazi." jawabnya merendah.


"Kamu sudah cerita semuanya tentang adik Kakak, kan.?" tanya Sarah.


Zahra mengangguk dan tersenyum lembut kearah Sarah. "Iya Kak, saya sudah tahu semuanya." jawabnya dengan matanya yang mulai berembun.


"Maafin adik Kakak ya, karena telah mencintai Gazi dan mungkin sebentar lagi mereka resmi jadi suami istri." ucap Sarah.


"Iya nggak apa-apa Kak. Saya bisa memaklumi semuanya ini kok, karena saya juga perempuan dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Cindy." jawab Zahra.


"Kamu nggak apa-apa kan jika Gazi menikahi Cindy.?" tanya Sarah.


"Iya Kak, saya nggak apa-apa." jawabnya pelan.


"Sudahlah Kak, anggap saja kita semua keluarga. Jadi harus saling bantu." jawab Zahra.


Tak lama kemudian dokter datang beserta suster. Lalu mereka mendekati Bu Ratih dan yang lainnya.


"Mbak Sarah, gimana ini. Pihak rumah sakit sudah lepas tangan soal Mbak Cindy karena sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Soalnya sekarang dia kembali drop." ucap dokter.


"Saya sudah menyerah dok, semua apa kata dokter saja. Tapi, hari ini ijinkan adik saya menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Sesuai keinginan dia sebelum dia seperti sekarang." ucap Sarah dengan terisak.


"Iya nggak apa-apa, saya ijinkan. Kalau semuanya sudah siap nanti info sama saya, biar disiapkan." jawab dokter itu.


"Tinggal nunggu penghulu sama Pak ustad saja." jawab Sarah.

__ADS_1


"Baiklah Mbak."


.


.


.


Sekitar menunggu tiga pulih menit kemudian, Penghulu dan Pak ustad yang tadi dihubungi oleh Bu Ratih kini datang. Bu Ratih kemudian mengeluarkan kerudung warna putih yang dia beli dadakan sebelum pergi ke rumah sakit. Setelah itu dia pasangkan dikepala Cindy. Lalu diolesi lipstik tipis sekedar buat tanda biar nutupi bibirnya yang pucat.


Bu Ratih mengolesi dan memasangkan kerudung dengan tetesan air mata yang tidak bisa dibendung. Lalu kemudian kotak kecil yang berisi cincin kawin sudah disiapkan pula oleh Bu Ratih.


Zahra tidak bisa menahan air matanya melihat pemandangan yang sangat mengharukan ini. Gazi mendekatinya dan memegang tangannya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan jika aku melaksanakan pernikahan dengan Cindy.?" tanya Gazi sambil memegang tangan Zahra.


"Iya Bie, aku nggak apa-apa. Aku menangis bukan lantaran kamu akan menikah, melainkan aku sedih melihat Cindy. Aku kasihan sama dia, mungkin saat ini dia senang sekali karena menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Lanjutkan saja, buat bahagia dia disaat-saat terakhirnya." jelas Zahra.


"Baiklah kalau begitu, sekiranya sudah siap semua, saya akan memulai ijab qobulnya.!" ucap Pak Penghulu.


Tangan Gazi menerima uluran tangan Penghulu itu, berhubung Cindy tidak ada walinya, maka dia pakai wali hakim dengan saksi Kakaknya sendiri. Semua yang hadir disitu pasti tak bisa membendung air matanya.


"Sah,!" ucap Penghulu itu.


"Sah,!" jawab yang lainnya.


"Alhamdulilah, akhirnya Mas Gazi dan Mbak Cindy resmi jadi suami istri meakipun hanya nikah siri." jawab Penghulu itu.


Mereka semua yang hadir diruangan itu semua menangis karena moment yang mengharu biru ini sudah selesai.


"G..a..z..i..,!"

__ADS_1


--------------------------


Bersambung...


__ADS_2