
Keesokan harinya adalah hari sabtu, kerjaan dikantor memang numpuk, apalagi kurang beberapa hari lagi orang perwakilan dari Jepang datang. Tapi, Gavin tetap akan berusaha akan meluangkan waktunya buat Kasih.
"Sih, aku pulang dulu ya. Hari ini aku ke kantor karena masih ada kerjaan. Nanti aku usahakan pulang lebih cepat untuk kesini lagi." ucap Gavin.
"Iya, Mas. Kamu urus dulu kerjaan kamu. Soal aku nanti gampang, kan ada Ibuku. Sekarang jam berapa, nanti kamu kesiangan, lho!" jawab Kasih.
"Iya, ini masih pagi, kok. Baru jam enam. Ya sudah aku pulang dulu." ucap Gavin sambil mencium kening Kasih.
"Eh, tunggu dulu Mas. Jangan lupa Asi nya dibawa. Tadi sudah aku pompa. Ada di coolbag." seru Kasih.
"Oh iya. Ya udah aku pulang, ya?" seru Gavin.
"Hati-hati.." ucap Kasih.
Gavin keluar kamar dan menuju mobilnya. Dia sambil menenteng coolbag yang berisi Asi buat anaknya. Kali ini wajahnya kelihatan berseri-seri karena sekarang dia merasakan sebagai seorang Ayah. Rela bolak-balik rumah sakit hanya untuk mengambil dan mengantarkan Asi buat anaknya.
Sesampainya dirumah, dia melihat Bu Ratih sudah bersama si kecil yang lagi duduk-duduk diruang tengah. Gavin masuk dengan membawa Asinya tadi lalu dimasukan ke frezer.
"Sayang, kamu hari ini libur, kan?" tanya Gavin sembari ikut duduk disamping Bu Ratih.
"Iya, sayang. Jadi hari ini aku seharian bisa main sama Raka." jawab Bu Ratih.
"Iya, sayang. Aku nitip Raka, ya. Aku hari ini mau kekantor dulu. Menyiapkan lusa Mr.Ko mau ke Indonesia." ucap Gavin sembari menggenggam tangan Bu Ratih.
"Iya lah, sayang. Raka kan juga anakku. Itu sudah menjadi tugasku juga." seru Bu Ratih.
"Iya, sayang. Ya sudah aku mandi dulu, ya?" ucap Gavin sambil berlalu menuju kamarnya.
Bu Ratih masih asyik dengan si kecil Raka. Biasanya yang mandiin si kecil itu Bu Hesty, kali ini Bu Ratih ingin memandikannya sendiri.
Gavin lanjut siap-siap untuk berangkat kekantor. Dia tersenyum ketika melihat baju kerjanya sudah siap lengkap dikamarnya. Istrinya ini memang sungguh luar biasa. Dari dulu tetap aja sama, selalu berusaha untuk menyenangkan hati orang-orang disekelilingnya, dia tak peduli akan dirinya, yang penting orang-orang yang dia sayang bahagia dan hidup tentram, bagi dia sudah cukup.
Bu Ratih yang menyiapkan semuanya itu sebelum si kecil bangun. Kali ini memang Bu Ratih berusaha untuk menjadi istri dan Ibu yang baik buat suami dan Raka. Dia berjanji pada dirinya sendiri, setelah suaminya menikah lagi. Dia akan menerima semua konsekuensinya dan bersikap layaknya seorang istri dan Ibu.
Sebelum mandi si kecil digendongkan mertuanya dulu, karena dia ingin meladeni Gavin sebelum berangkat ke kantor. Sarapan pun sudah disiapkan di meja makan. Kemudian dia melihat Gavin dikamar yang lagi bersiap-siap.
"Udah siap, sayang." tanya Bu Ratih ketika masuk kedalam kamarnya.
"Udah, nih. Raka sama siapa, lho?" tanya Gavin.
"Aku gendongkan Mama bentar, aku lihat suamiku dulu sudah siap apa belum." ucap Bu Ratih sambil membetulkan dasi suaminya.
"Udah sayang, ini aku sudah siap.!" seru Gavin sambil merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang aku temani kamu sarapan dulu, habis itu aku mandiin Raka." ucap Bu Ratih sambil keluar kamar yang diikuti suaminya.
Setelah dimeja makan, seperti biasa Gavin sarapan ditemani Bu Ratih. Tak lama dia sudah selesai dan kemudian berangkat. Gavin mendekati anaknya yang dipangku Bu Hesty, lalu mencium pipinya kemudian dia menyalami Mamanya. Bu Ratih mengantarkan ke depan.
"Aku berangkat dulu, ya sayang." ucap Gavin sembari mengecup kening istrinya.
"Iya, sayang. Hati-hati." jawab Bu Ratih sambil mencium punggung tangan suaminya.
Bu Ratih melihat suaminya yang berangkat, dia baru masuk kedalam setelah mobil suaminya sudah tidak terlihat. Kini dia masuk kembali dan mau memandikan Raka dulu.
Setelah dia merawat Raka dan memberikan Asi pada Raka, dia mencoba menjemur si kecil ke halaman belakang untuk mendapat sinar matahari. Bu Ratih menunggui Raka yang tergeletak di stroler. Dia begitu telaten merawat si kecil seperti anaknya sendiri.
"Kamu lucu banget, Nak. Kamu juga nggak rewel kalau sama Mama Ratih. Oh iya, nanti kalau kamu sudah tidur, kamu ditemani oma dulu, ya. Mama mau jenguk Ibu Kasih dirumah sakit." ucapnya sendiri seolah bayi itu mendengarkannya.
★ KANTOR WIJAYA'S GROUP ★
Gavin langsung menuju ruangannya setelah tiba dan memarkirkan mobilnya diparkiran. Akhirnya dia masuk diruangannya.
"Aduh,! kenapa mesti eror gini sih komputernya." gumamnya sambil mengotak-atik laptopnya.
Dia masih fokus sama laptopnya, dan akhirnya bisa juga. Dia tersenyum karena dia bisa kembali bekerja. Kini dia serius mengamati semua yang terpampang dilayar monitor tersebut. Dia harus menyelesaikan kerjaannya karena hari ini dia ingin pulang cepat untuk menjenguk Kasih di rumah sakit.
Dia sudah berjanji pada Kasih untuk meluangkan waktunya untuk bisa menemaninya dirumah sakit. Hari ini dia ingin membelikan istrinya itu buah-buahan dan makanan yang banyak.
Tak terasa hari semakin siang dan panas. Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah satu siang. Dia rasa sudah cukup kerjaan hari ini. Berkas yang ada dimejanya juga sudah dia tanda tangani. Kini dia mau pulang lebiha awal untuk menemui Kasih dirumah sakit.
"Baik, Pak.!" jawabnya.
Akhirnya Gavin meninggalkan kantor dengan tergesa-gesa. Dia mau ke supermarket dulu untuk membelikan sesuatu buat Kasih. Dia membeli banyak sekali buah-buahan, ada apel, jeruk, pear dan lain sebagainya. Setelah dirasa cukup dia akhirnya melanjutkan ke rumah sakit.
★ RUMAH SAKIT ★
"Sih, sekarang kakimu sudah tidak bengkak lagi. Wajahmu juga sudah tidak terlihat bengkak juga." ucap Bu Laksmi sambil mengusap wajah anaknya.
"Iya, Bu. Alhamdulilah bisa sembuh juga." jawab Kasih.
"Oh iya, Sih. Tadi suamimu pagi-pagi sekali udah pulang. Emang mau ke kantor, ya?" ucap Bu Laksmi.
"Iya, Bu. Mas Gavin menyiapkan kerjaannya, karena lusa dia kedatangan tamu dari Jepang." jawab Kasih.
"Jepang,! hebat ya suamimu, kerjaannya sampai kenal dengan orang Jepang segala." seru Bu Laksmi.
"Begitulah Bu yang namanya Bisnis. Semua orang pasti menginginkan Bisnisnya menjadi sukses, karena itu harus bisa menjalin hubungan seluas mungkin." terang Kasih.
__ADS_1
"Kamu kelihatan senang, nduk? apa karena suamimu sekarang sikapnya sudah mulai melunak." tanya Bu Laksmi.
"Ya begitulah, Bu. Satu sisi aku senang Mas Gavin jadi perhatian sama Kasih. Tapi, satu sisi Kasih juga kawatir dan nggak enak sama Mbak Ratih, takutnya melukai hatinya." ucap Kasih.
"Iya juga, Sih. Tapi, kamu juga berhak mendapatkan perhatian dari suamimu. Selama Nak Gavin bisa bersikap adil, kenapa tidak. Toh pernikahan ini juga atas kemauan sang istri." ucap Bu Laksmi.
"Kadang, Kasih berfikir ingin pergi dari kehidupan mereka. Sesuai kesepakatan diawal, anak itu kan bakal menjadi anak Mbak Ratih dan Mas Gavin. Jadi, sekarang kehadiran Kasih kan bakal menjadi penghalang bari mereka, Bu." ucap Kasih melas.
"Kasih.! apa kamu nggak kasihan sama anakmu. Dia masih membutuhkan Asi kamu, lho. Coba deh jangan berfikir yang macam-macam, dulu." jawab Bu Laksmi.
"Kasih bingung, Bu. Sekarang Mas Gavin sudah menunjukan sikap baik sama Kasih, cuma takutnya nanti Kasih bakal terlena dan menimbulkan kembali benih cinta yang selama ini Kasih berusaha kubur. Ibu tahu sendiri, kan gimana perasaan Kasih sama Mas Gavin." jelas Kasih.
"Iya juga, Nak. Posisi kamu memang sulit. Tapi, itu sudah resiko kamu, karena kamu menerima tawaran mereka untuk menjadi istri kedua." jawab Bu Laksmi.
"Kasih ingin belajar dan melanjutkan kuliah, Bu. Kasih punya cita-cita yang belum bisa terwujud." ucap Kasih.
"Iya, Nak. Ibu mengerti, cuma kalau mau memutuskan sesuatu harus dipikir dulu." jawab Ibunya.
"Iya, Bu. Nanti coba aku akan bicarakan sama suami Kasih. Kira boleh-boleh apa kalau Kasih melanjutkan kuliah.
Tak selang lama, munculah Gavin dengan membawa banyak buah dan makanan. Dia masuk laku menaruh buah dan makanan itu diatas meja. Bu Laksmi langsung membantu untuk menaruh semua itu.
"Kamu bawa buah kok banyak banget, Mas. Kan disini aku sama Ibu aja." ucap Kasih.
"Nggak apa-apa. Kan ada kulkas disini, lagian biar kamu nggak kelaparan. Hehe!" ucap Gavin sambil ketawa.
"Kamu kok sudah pulang. Apa sudah selesai kerjaan kamu?" tanya Kasih.
"Iya, sudah selesai kok. Kan aku bosnya, misal belum selesai, siapa juga yang berani marahi aku." ucapnya sombong.
"Hmmm...mentang-mentang bos, terus bisa seenaknya sendiri gitu. Padahal Pak Indra dulu nggak gitu, lho.?" jawab Kasih sembari ketawa.
"Idiih, mentang-mentang dulu kerja sama Pak Indra. Jadi belain nih yeah.!" ucap Gavin sambil mencubit hidung Kasih.
Suasana akrab itu terus berlangsung, mereka berdua sudah menunjukan sikap yang seperti halnya pasangan suami istri lainnya. Gavin pun sudah berani menggoda dan sesekali mencium kening Kasih. Bu Laksmi senang melihat pemandangan itu. Tapi, dia nggak mau mengganggu mereka, akhirnya dia keluar tanpa lupa menutup pintunya.
Dari arah lain, Bu Ratih berjalan menuju kamar Kasih. Dia berjalan dengan santai dan sesekali melihat kanan kiri. Ketika mendekati kamar Kasih, dia melihat pintunya nggak ditutup.
Dia berhenti pas didepan pintu, berhubung pintunya terbuka, jadi dia bisa menyaksikan langsung pemandangan yang dihadapannya sekarang. Dia melihat bahwa Gavin lagi bercengkerama akrab sama Kasih didalam. Bu Ratih menghentikan langkahnya untuk masuk, karena dia tidak mau mengganggu mereka.
"Kamu sudah bisa menerima Kasih layaknya istri pada umumnya, sayang. Kamu pasti juga senang, Sih. Karena suamimu sekarang sudah bisa memberi perhatian lebih, karena sebelumnya kamu tidak pernah merasakannya. Aku ikut senang karena kalian bisa menjalin hubungan suami istri seperti yang lainnya." ucap Bu Ratih dalam hati.
Dia masih berdiri didepan pintu dan mengurungkan niatnya untuk masuk. Dalam hatinya dia ingin masuk, tapi kalau masuk dia takut mengganggu moment-moment keakraban diantara mereka berdua.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung.....