
Malam ini Bu Ratih menghadiri kondangan ke acara nikahan adik temannya. Kebetulan acara tersebut dilaksanakan di Hotel milik Gavin. Bu Ratih ngajak Raka karena kebetulan Gavin lagi di Jakarta.
"Raka, sudah siap apa belum, Nak?" seru Bu Ratih.
"Sudah, Ma." sahutnya.
"Ayo, kita berangkat sekarang."
Bu Ratih dan Raka ke acara tersebut tadinya naik mobil sendiri, tapi sama Gavin disuruh minta antar Santo saja. Santo sudah siap diluar untuk mengantarkan majikannya itu.
Santo mengemudikan mobil menyusuri jalan raya menuju Hotel. Dalam perjalanan ke Hotel Bu Ratih banyak ngobrol dengan Raka dan Santo.
"Oh iya, Maaf Pak Santo, saya mau nanya." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu. Silahkan nanya apa?" jawab Santo.
"Kata Budhe, dulu sebelum kerja sama saya, Pak Santo di PHK dari tempat kerja. Emangnya kerja dimana?" tanya Bu Ratih.
"Oh dulu itu saya kerja di pabrik korek api, Bu. Berhubung sekarang kebutuhan korek api menurun, jadi karyawannya banyak yang di PHK." jawab Santo.
"Terus, keluarga dirumah tinggal siapa saja?" tanya Bu Ratih.
"Tinggal Pak'e sama Mbok'e saja, Bu." jawab Santo.
"Oh, gitu. Kalau Pak Santo perlu pulang kampung jenguk keluarga nggak apa-apa lho. Nanti Pak Santo takut sama saya, nggak berani pulang." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu. Santai saja. Mereka juga ngerti kok." jawab Santo.
Tak terasa didalam mobil sambil ngobrol akhirnya sampai juga di Hotel. Santi memasukan mobilnya sesuai instruksi keamanannya. Bu Ratih keluar diiringi Raka anaknya. Saat berjalan menuju tempat acara, Raka mendampingi Mamanya terus.
Nggak terasa tingginya sekarang sudah sampai pundaknya Bu Ratih. Dia calonnya tinggi atletis nurun Gavin. Karyawan Hotel yang kebetulan kenal dengan Bu Ratih langsung menyapa Bu Ratih.
"Malam Bu Gavin,!" sapa salah seorang petugas.
"Malam juga, Pak.!"
Bu Ratih langsung menuju tempat acara resepsi pernikahannya itu. Saat mau masuk, ternyata dia berpapasan dengan Pak Didit dan Ifa. Spontan Bu Ratih langsung tersenyum sumringah.
"Hallo, Pak Didit, Mbak Ifa. Raka, salim dulu sama Om dan Tante." tukas Bu Ratih.
"Iya, Ma." jawab Raka sembari menyalami mereka berdua.
"Suamimu kok nggak ikut, Tih?" tanya Ifa.
"Kebetulan Papanya ada kerjaan di Jakarta, Mbak." jawab Bu Ratih.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita masuk." ajak Pak Didit.
Mereka berempat akhirnya masuk bersama-sama. Semua tamu audah banyak yang hadir. Bu Aliyah melihat kedatangan Bu Ratih dan rombongannya langsung mendekat menyamperinya.
"Selamat datang semua.!" sapanya.
"Maaf, kami baru datang." jawab Bu Ratih basa-basi.
"Oh nggak apa-apa. Acaranya saja belum selesai, kok. Tinggal makan-makannya saja. Akad kan sudah tadi pagi, lalu temu dan acara adatnya juga sudah barusan, kini tinggal santai sama makan-makan." jawab Bu Aliyah.
"Iya, Bu. Makasih." jawab Bu Ratih.
"Ya sudah, silahkan dinikmati hidangan yang ada. Maaf, saya tinggal sebentar." ucap Bu Aliyah.
"Silahkan, Bu."
"Oh iya, Tih. Aku sama Mas Didit kesana dulu, ya?" ucap Ifa.
"Iya, Mbak. Silahkan." jawab Bu Ratih.
Kini Bu Ratih tinggal sama Raka saja. Dia mengajak anaknya menuju hidangan yang sudah disediakan. Raka melihat ada banyak makanan, ada sate, capcay, nasi goreng jawa, serta masih banyak lagi.
"Ma, Raka mau nasi goreng jawa, ya Ma.?"
"Iya, sayang. Ambil saja. Mama pingin makan capcay saja." jawab Bu Ratih.
Bu Ratih mencoba mendekat dan memastikan siapa orang itu. Soalnya dari jauh dia sempat lihat sepasang suami istri dengan anak kecil. Ketika lebih dekat Bu Ratih kaget karena dia nggak nyangka kalau bisa ketemu dengan mereka.
"Vanya, Farrel.!" seru Bu Ratih.
Spontan keduanya langsung menoleh dan histeris kegirangan.
"Kak Ratih,!"
"Bu Ratih,!"
Keduanya langsung memeluk Bu Ratih sambil bersorak kegirangan. Bu Ratih mengucek matanya hampir nggak percaya. Begitupun Farrel dan Vanya, mereka juga nggak percaya kalau bakal ketemu Bu Ratih disini.
"Kalian apa kabar?" tanya Bu Ratih.
"Kami semua sehat dan baik-baik saja, Bu." jawab Vanya.
"Kak Ratih sendiri gimana, baik juga kan?" tanya Farrel.
"Kami sekeluarga juga baik." jawab Bu Ratih.
__ADS_1
"Kak Gavin kok nggak ikut, Kak?" ucap Farrel sambil matanya celingukan mencari seaeorang.
"Gavin lagi ada acara di Jakarta." jawab Bu Ratih.
"Saya sempat dengar kabar dari Kak Irene kalau Kak Ratih sekeluarga pindah ke Jogja karena Kakak dapat bea siswa kuliah S3." ucap Farrel.
"Iya, Rel. Kebetulan Kak Gavin dikasih amanah Papa Indra mengurus usaha di Jogja dan Semarang. Ini Hotel punya Kak Gavin, lho!" ucap Bu Ratih sambil promosi.
"Oh iya, yang benar, Kak. Hebat memang Om Indra itu, Bisnisman hebat." ucap Farrel.
"Oh iya, ngomong-ngomong kalian kik bisa disini juga, dan di acara ini?" tanya Bu Ratih penasaran.
"Kita memang masih tinggal di Jakarta. Ini datang khusus menghadiri nikahannya temanku, Kak. Kakak lupa kalau aku dulu sempat tinggal di Jogja ikut Kakek. Yang nikah ini kebetulan teman akrabku waktu kuliah." jawab Farrel.
"Ya ampun, kok bisa kebetulan ini. Kakaknya mempelai perempuan teman Kakak kuliah S3 sekarang, kebetulan diundang Kakaknya. Kamu temannya suaminya si cewek itu." tanya Bu Ratih.
"Betul, Kak."
"Anak kamu umur berapa, Rel.?"
"Jalan dua tahun, Kak. Sayangnya Kakek nggak sempat melihat anakku karena beliau sudah meninggal. Kalau Ayah kebetulan ikut aku di Jakarta. Dia sudah sembuh dari stroke, sekarang sehat dan bisa berjalan lagi." jelas Farrel.
"Terus Papamu gimana kabarnya, Van.?" tanya Bu Ratih.
"Papa dan Mama Tiur menetap di Surabaya, Bu.!"
"Kalian disini nginap dimana?" tanya Bu Ratih.
"Kebetulan kita ikut daftar tamu undangan luar kota, jadi dapat fasilitas kamar dari pihak pengantin." jawab Farrel.
"Oh ya sudah kalau gitu. Mampir kerumahku dong. Kalau besok sudah selesai acaranya, kalian nginep dirumahku. Kita temu kangen." ajak Bu Ratih.
Farrel dan Vanya saling pandang, kemudian mereka tersenyum dan menatap Bu Ratih.
"Baiklah, Kak." jawab Farrel.
"Nah gitu dong. Baiklah besok biar dijemput sopirku." ucap Bu Ratih.
Kemudian mereka melanjutkan ngobrol-ngobrol sambil menikmati hidangan yang ada. Bu Ratih senang sekali ketika bertemu mereka. Dia seolah kembali ke kehidupannya yang dulu, bersama Farrel dan Vanya dikampus, main kerumah serta keluar hanya sekedar jalan.
Sekitar pukul sembilan malam, Bu Ratih akhirnya memutuskan untuk pulang. Mereka akhirnya berpisah, Farrwl dan Vanya balik ke kamar, lalu Bu Ratih kembali kerumah.
"Farrel, Vanya. Nggak nyangka akhirnya kalian punya sebuah keluarga kecil juga. Padahal dulu Vanya begitu manja dan kamu Rel, kamu hebat telah membimbing Vanya untuk menjadi wanita yang mandiri." ucap Bu Ratih dalam hati saat perjalanan pulang.
---------------------------------
__ADS_1
Bersambung....