BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 142 (Tawaran dari kampus)


__ADS_3

Bu Ratih kemudian masuk rumah dan mendapati suaminya yang membawa bungkusan paket. Dia langsung bertanya.


"Apaan itu, Pa?" tanya Bu Ratih pada Gavin.


"Ini, Ma. Raka mendapat kiriman hadiah, tapi nggak tahu dari siapa." jawab Gavin.


"Coba buka saja, Pa. Biar kita tahu isinya apa?" ucap Bu Ratih.


Kemudian Gavin membuka bungkusan itu. Ternyata isinya sebuah laptop.


"Wuaah, laptop,! Raka suka sekali. Tapi, Raka masih belum memerlukan ini. Kan Raka masih sekolah dasar." ucap Raka polos.


"Ya nanti kan, tetap juga butuh ini, Nak?" jawab Gavin.


Raka masih sibuk mengamati laptop yang sekarang dipegangnya itu.


"Tapi, kira-kira dari siapa, ya Pa?" tanya Bu Ratih.


"Kalau Bibi tadi bilang, katanya yang kirim ini itu perempuan memakai hijab." jawab Gavin lirih karena takut kedengaran Raka.


"Apa dia Kasih, Pa?" tanya Bu Ratih.


"Mungkin juga, Ma. Tapi, aku belum tahu juga kebenarannya." jawab Gavin.


Akhirnya mereka masuk kamar, Raka masih diruang tengah bersama Pak Indra. Kakek dan cucu itu kemudian bercanda sampai nggak terasa sampai menjelang Maghrib.


Malam harinya Bu Ratih dan Gavin ngobrol-ngobrol diteras depan, sedangkan Raka setelah belajar pasti langsung tidur. Gavin dan Bu Ratih memang membiasakan habis belajar langsung istirahat.


Akhirnya Gavin dan Bu Ratih pun memutuskan untuk tidur juga. Malam ini sangatlah dingin sehingga AC dikamarnya Bu Ratih nggak dinyalakan. Bu Ratih tidur dipelukan Gavin suaminya. Nggak terasa biduk rumah tangga mereka sudah berjalan lebih dari satu dekade.


(***)


Pagi ini Bu Ratih ke kampus diantar Gavin, karena dia nanti pulangnya mau mampir ke supermarket untuk membeli sesuatu.


Sesampainya di kampus, Bu Ratih seperti biasa dia langsung masuk ke ruangan Dosen. Tapi, sebelum masuk ruangan, tiba-tiba ada yang memanggilnya.


"Bu Ratih,!" seru Dita dari jauh.


Seketika Bu Ratih berhenti dan menoleh kearah sumber suara itu. Dita berlari sambil membawa kerupuk yang dijanjikan buat Bu Ratih.


"Bu, ini kerupuknya buat Bi Ratih.!" aeru Dita sembari memberikan kerupuk tersebut.


"Woow, makasih Dita," jawab Bu Ratih.


"Maaf, Bu. Kalau hanya bisa ksih kerupuk saja ke Bu Ratih." ucapnya.


"Lah, emang kenapa kalau hanya kerupuk. Ini juga sudah banyak, Dit. Kebetulan anak Ibu suka banget makan pake kerupuk." ucap Bu Ratih.


"Iya, Bu. Sekarang Dita balik dulu, ya?" ucap Dita.


"Iya, silahkan. Sekali lagi saya makasih banyak, ya Dit?" ucap Bu Ratih.


Dita hanya mengangguk sambil meninggalkan Bu Ratih yang masih berdiri didepan pintu. Ketika didalam ruangan, Bu Ratih mengamati kerupuk itu dengan teliti.

__ADS_1


"Kayaknya ini enak, aku akan mencobanya" ucapnya pelan.


Bu Ratih membuka bungkus kerupuk tersebut. Kemudian mencoba mencicipinya satu potong. Selang beberapa detik kemudian mata Bu Ratih membulat.


"Ini gurih banget. Layak dipromosikan ini. Aku akan bantu Dita untuk mempromosikan kerupuknya." ucap Bu Ratih dalam hati.


Tak lama kemudian dia mengeluarkan ponselnya. Dia men scroll untuk mencari nama Kakak iparnya yang punya usaha cathering. Kak Irene.


["Hallo, Kak Irene. Aku cuma kasih tahu saja, misal Cathering Kakak membutuhkan supplay kerupuk, aku ada barangnya"]


["Oh iya, Ta. Butuh banget itu. Emang kamu dapat dari mana?"]


["Mahasiswi aku ada yang usaha kerupuk. Aku ingin membantu memasarkannya."]


["Wow, bagus itu. Okey, nanti kita bahas lagi. Ini aku lagi ngecek pesanan buat ke kantor pemerintahan."]


["Okey, Kak. Bye.,!"]


Ketika jam masuk ngajar Bu Ratih mengajar seperti biasa. Dia kembali mendapat jadwal ngajar di jam pertama. Setelah jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas siang, dia mengakhiri memberikan materi kuliahnya kemudian kembali keruangannya.


Tak lama kemudian masuk Pak Anwar untuk memanggil Bu Ratih.


"Maaf, Bu Ratih. Pak Dekan memanggil Anda ke ruangannya." ucap Pak Anwar.


"Baik, Pak. Saya segera kesana." jawab Bu Ratih.


Kemudian Bu Ratih keluar mengikuti Pak Anwar. Setelah itu mereka berpisah, karena Pak Anwar masuk keruangannya kembali, sedangkan Bu Ratih menuju ruangan Dekan.


"Oh, siang Bu Ratih. Silahkan duduk.!" titah Pak Dekan.


"Makasih Pak..," jawab Bu Ratih.


"Begini, Bu. Untuk meningkatkan mutu dan kualitas Dosen, Kampus menugaskan salah satu Dosen yang ada di kampus ini untuk melanjutkan S3 di Jogja. Dan dari sekian Dosen di kampus kita, Anda lah yang terpilih untuk mewakilinya." jelas Pak Dekan.


"Apa, Pak. Apa nggak salah pilih, kan masih banyak Dosen-Dosen yang lain lebih pantas untuk mendapatkan kesempatan ini." jawab Bu Ratih kaget.


"Pihak kampus sudah mempertimbangkan segala sesuatunya, dan Bu Ratih lah yang pantas mendapatkan kesempatan ini. Anda tidak harus menjawab sekarang, Bu Ratih bisa merundingkannya dulu dengan pihak keluarga." jelas Pak Dekan.


Bu Ratih tidak bisa menjawab apa-apa. Dia seolah dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Jujur dalam hatinya dia sangat senang sekali mendapatkan kesempatan ini, tapi satu sisi dia harus berhadapan dengan keluarga, secara sekarang dirinya adalah seorang Ibu.


"Baiklah, Pak. Saya akan merundingkan dulu dengan keluarga, saya." jawab Bu Ratih.


"Baiklah, Bu. Sekarang Bu Ratih boleh kembali ke ruangan Bu Ratih lagi." ucap Pak Dekan sembari menyalami Bu Ratih.


Bu Ratih berjalan menyusuri koridor menuju ruangannya. Dalam hati dia sangat senang sekali, karena sesuai dengan impiannya dari dulu. Dia akan menuntut ilmu setinggi mungkin selagi ada kesempatan, meskipun kesempatan itu didapatkan setelah dia tua pun, dia akan melakukannya.


.


.


.


Ditempat yang berbeda, sebuah kantor yang nggak begitu besar. Cuma ada satu lantai. Kantor itu bergerak dibidang Garment, disini hanya berfungsi sebagai kantor saja. Sedangkan tempat produksinya ada di luar kota.

__ADS_1


"Pak Sardi, gimana soal pengiriman batik yang ke Kalimantan?" tanya seorang perempuan yang menjabat sebagai pimpinan.


"Sudah siap semua, Bu Kasih.!" jawab Pak Sardi.


Ternyata perempuan itu adalah Kasih. Sekarang dia menjadi pimpinan dikantor tersebut. Perusahaannya bergerak dibidang Garment yaitu memproduksi batik tenun ikat khas Kediri. Dia meneruskan warisan usaha Kakeknya yang sudah dari dulu.


Setelah hampir delapan tahun berjalan, akhirnya usaha itu semakin berkembang dan mampu memproduksi sekian lembar batik tenun ikat. Sekitar dua tahun yang lalu Kasih sudah pindah lagi ke Jakarta dan mendirikan kantor untuk usahanya ini.


Sebagian besar produksinya masih ada di kota Kediri, sedangkan di Jakarta ini sebagai kantor serta tempat mengecek ulang saja. Kasih dibantu dengan Pak Manto yang dengan setia membantu dari masih usahanya dibawah.


Sebulan sekali Kasih bolak-balik Jakarta-Kediri untuk mengecek barangnya. Kini dia duduk dikursi seperti biasa. Lalu dia membuka ponselnya. Diamatinya foto anak laki-laki yang ada diponselnya.


"Raka, kamu sekarang sudah tumbuh besar, Ibu bangga sekali sama kamu, Nak. Meskipun Ibu tidak pernah bertemu denganmu, tapi doa Ibu selalu ada buat kamu." ucap Kasih lirih.


Seperti yang dia impikan dari dulu, Kasih kini menjadi pengusaha sukses. Semua itu berkat jerih payahnya dan teamnya. Ibunya juga sekarang hanya dirumah saja sebagai Ibu rumah tangga biasa, tidak lagi jualan nasi bungkus yang dititipkan di warung-warung. Adiknya sekarang duduk dibangku kuliah semester satu. Dia kuliah ambil jurusan menejemen.


.


.


.


Sore harinya saat pulang kantor, seperti biasa dia diantar sopir untuk pulang pergi kantor dan rumahnya.


"Pak Isman, tolong antarkan saya ke supermarket, saya mau membelikan Ibu buah." ucap Kasih sama sopirnya.


"Baik, Bu." jawab Pak Isman.


Pak Isman mengendarai mobilnya menyusuri jalan raya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan standart. Kasih sibuk dengan ponselnya. Ketika mendekati supermarket, mobil Kasih hampir saja bertabrakan dengan mobil lain yang baru saja keluar dari supermarket tersebut.


"Ciiiiiittt.,!!" Suara rem begitu jelas terdengar.


"Ada apa, Pak?" tanya Kasih.


"Maaf, Bu. Saya nggak tahu kalau ada mobil yang baru saja keluar dari supermarket itu." jawab Pak Isman ketakutan.


"Tapi, mobil itu nggak apa-apa, kan?" tanya Kasih.


"Nggak, Bu. Tapi, orangnya keluar, Bu." ucap Pak Isman.


"Coba Pak Isman turun sebentar. Kali aja di mau bicara sesuatu." ucap Kasih.


"Baik, Bu.!" jawab Pak Isman.


Pak Isman membuka pintu mobil untuk mendekati orang pemilik mobil yang mau ditabraknya tadi. Kasih masih mengawasi dari dalam mobil. Sekiranya jika nanti terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, dia siap keluar.


Ketika pemilik mobil itu mendekati Pak Isman, Kasih terkejut karena dia mengenali laki-laki yang kini berhadapan dengan sopirnya itu.


"Mas Gavin,!" serunya dari dalam mobil.


---------------------------------


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2