BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 189 (Perkembangan yang bagus)


__ADS_3

Gavin kaget setelah mendengar Pak Manto menyebut nama Bu Kasih. Apa Kasih yang di maksud adalah Kasih mantan istrinya. Batin Gavin.


Dia kemudian mendekati Pak Manto dan Bu Zahra, tapi baru satu langkah istrinya memanggilnya dari belakang.


"Pa, mau kemana?" seru Bu Ratih.


"Eh, kamu Ma. Aku cariin kamu." jawab Gavin.


"Aku tadi ngaterin Raka ke kamar kecil." ucap Bu Ratih.


"Ya, sudah. Kita kembali ke sana." ajak Gavin.


Akhirnya Gavin dan Bu Ratih kembali ke tempat semula, lalu Pak Fajar menghampiri Gavin dan Bu Ratih. Kini dia bersama anak dan istrinya.


"Pak, Bu. Maaf ini istri dan anak saya." ucap Pak Fajar.


Gavin dan Bu Ratih seketika langsung tersenyum dan menyambutnya dengan perasaan gembira.


"Hai iya, saya Gavin, dan ini istri saya Ratih." tukas Gavin seraya mengulurkan tangannya buat kenalan, lalu diikuti Bu Ratih.


"Saya Ratna dan ini anak saya Sely." jawab Ratna sambil membalas uluran tangan Gavin dan Bu Ratih.


"Ya ampun cantik sekali adik Sely. Umur berapa ini, Bu Fajar?" kini Bu Ratih melontarkan pertanyaan.


"Bulan depan genap dua tahun, Bu." jawabnya.


"Anak kami dua, yang sulung laki-laki umur sebelas tahun, dan yang perrmpuan baru satu tahun." jawab Bu Ratih kalem.


Akhirnya Bu Ratna dan Bu Ratih ditinggal para suaminya bergabung dengan yang lainnya. Gavin mengajak Pak Fajar untuk menjauh dari istrinya.


"Pak Fajar, saya mau tanya sesuatu. Tapi, kalau memang nggak berkenan menjawab nggak usah dijawab nggak apa-apa." ucap Gavin.


"Iya, Pak. Mau nanya apa?" jawab Pak Fajar.


"Pak, kalau boleh saya tahu, siapa nama istri dari sepupu Pak Fajar yang pemilik PT Karaga itu?" tanya Gavin.


"Oh dia, nama istrinya Kasih, Pak.!" jawab Pak Fajar datar.


"Kasih,! apa nama lengkapnya Kasih andriani.?" kini Gavin mempertegas kalimatnya.

__ADS_1


"Nah, itu dia yang saya kurang faham, Pak. Saya kalau manggil Mbak Kasih, gitu saja." jawab Pak Fajar.


"Oh, jadi Pak Fajar nggak tahu, ya.?"


"Iya, Pak. Tapi, kalau boleh saya tahu ada apa, ya Pak. Kok Pak Gavin tanyanya sampai detail begitu?" tanya Pak Fajar penasaran.


"Oh enggak ada apa-apa. Saya juga punya teman namanya Kasih juga, tapi sekarang dia tinggal dimana saya nggak tahu. Kali saja itu Kasih teman saya." jawab Gavin datar.


"Oh kirain ada apa. Ya coba nanti saya tanyakan sama Mas Rahman siapa nama lengkap istrinya." ucap Pak Fajar.


"Nggak usah, Pak Fajar. Saya tadi hanya memastikan saja, kok." sergah Gavin.


"Oh ya sudah kalau gitu. Maaf, Pak Gavin. Saya tinggal ke kamar kecil dulu." ucap pak Fajar tiba-tiba.


"Iya silahkan." jawab Gavin.


Gavin duduk dikursi yang ada didekatnya. Kini dia memikirkan apa yang barusan dia ketahui soal Kasih.


"Ini jelas Kasih Ibunya Raka. Setelah saya sambungkan dengan info dari Ratih, bahwa Kasih pernah bilang kalau pabrik batiknya yang di Solo kebakaran, sedangkan Pak Fajar juga pernah bilang seperti itu padanya, lalu kalau nama pemilik PT Karaga itu adalah Kasih, berarti mggak salah lagi kalau Kasih yang itu adalah Kasih Ibunya Raka." ucap Gavin dalam hati.


"Pa, ternyata kamu disini, mana Pak Fajar?" tanya Bu Ratih tiba-tiba.


"Tadi Bu Ratna cariin dia." jawabnya.


Sekitar pukul tiga sore acaranya selesai sudah. Gavin mengajak keluarganya pulang ke rumah. Cantik yang mungkin kelelahan akhirnya ketiduran.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah resort itu resmi dibuka, akhirnya seminggu kemudian sudah ada yang pesan buat acara weekend. Rata-rata yang menyewa adalah satu keluarga. Gavin sangat senang dengan perkembangan usahanya kali ini.


Hari demi hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Ini sudah tahun ketiga Gavin dan keluarga tinggal di Jogja. Raka sudah menginjak kelas delapan. Dia sekolah di dekat kampus Mamanya.


Kuliah Bu Ratih juga hampir selesai, mungkin tinggal sidang saja. Sekolah yang sudah di dirikan sejak setahun yang lalu, pembangunannya sudah hampir selesai. Mungkin tinggal finishing saja.


Sekolah itu di dirikan di salah satu desa yang ada dikota Sleman. Awalnya dia membangun hanya beberapa kelas saja, tapi atas usulan mertuanya, Pak Indra. Dia disuruh mendirikan langsung sekalian yang banyak.


Sekarang yang sudah selesai ada enam kelas, ruang lab, perpustakaan serta ruang guru. Fasilitas umum lainnya juga sudah selesai.


"Mama, Cantik mau maem.!" serunya dengan gayanya yang lucu.

__ADS_1


"Aduh anak Mama minta, maem ya." ucap Bu Ratih.


Lalu Susi mengambilkan makan buat Cantik, kemudian dia mengajak Cantik makan di teras samping sambil lihat ikan di kolam.


Bu Ratih kembali sibuk dengan ponselnya, dia kembali menghubungi orang-orang yang akan diajaknya bekerja sama dalam mengelolah sekolah tersebut.


Sekolah itu mengutamakan menampung anak-anak yang nggak mampu. Selain memang tujuannya meringankan, juga membuat anak-anak yang tadinya nggak bisa melanjutkan sekolah, kini jadi bisa merasakan sekolah.


Jarak sekolah sama rumah Bu Ratih nggak jauh. Mungkin sekitar dua puluh menitan. Gavin senang ketika melihat kegembiraan terpancar pada diri istrinya kali ini. Dia mendekati Bu Ratih yang masih menatap laptop.


"Ma, istirahat dulu. Ingat, jaga kesehatan kamu, lho." ucap Gavin setibanya didekat Bu Ratih.


"Eh, Papa. Iya, nih. Mama mau menyiapkan semuanya buat sekolah kita nanti." jawabnya.


"Kamu senang, Ma.?"


"Banget, Pa. Bahkan aku bisa bernafas lega, karena bisa merealisasikan impian Mama." jawab Bu Ratih.


"Aku juga ikut senang, Ma." ucap Gavin.


Gavin masih memperhatikan istrinya yang sibuk dengan pekerjaannya kali ini. Rencana sekolah itu akan di resmikan bulan depan. Karena saat ini tim nya Bu Ratih masih mempersipakannya.


Hari semakin sore, berhubung hari minggu. Jadi semua berada di rumah. Kecuali Raka, dia baru saja pulang dari kegiatan Basket di sekolahnya. Sekarang dia tumbuh menjadi remaja.


"Ma, Dede Cantik mana?" tanya Raka saat dia tiba dirumah.


"Dia lagi makan sama Mbak Susi disamping." jawab Bu Ratih.


Begitulah Raka, dia selalu mencari adiknya kalau habis dari mana saja. Saking sayangnya sama adiknya, dia nggak mau maen keluar kalau adiknya belum tidur. Dia pilih bermain sama adiknya.


Bu Ratih berdiri lalau menuju teras samping, yang dimana kedua anaknya lagi bermain ditemani pengasuhnya Cantik.


"Nak, kalian adalah kebanggaan Mama. Mama berjanji akan membuatmu menjadi orang yang sukses dan mandiri. Mama sayang kakian." ucap Bu Ratih dalam hati.


Gavin yang melihatnya dari jauh istrinya yang lagi memperhatikan kedua anaknya itu ikut senang. Dia tahu apa yang dirasakan istrinya tentang kedua anak itu.


---------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2