BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 194 (Peresmian sekolah)


__ADS_3

Satu bulan kemudian, akhirnya setelah dipikir matang-matang, Bu Ratih memutuskan untuk menerima tawaran mengajar di kampus tempat dia sekarang menempuh kuliah S3. Jadi, dia melepaskan kampus yang lama. Kemarin dia habis dari Jakarta untuk menyerahkan surat pengunduran diri ke kampus lama dimana dia bekerja.


Setelah melalu proses perundingan yang lama akhirnya pihak kampus menyetujui pengunduran diri Bu Ratih. Sebagai pertimbangan mungkin memang harus dimaklumi karena selain mengajar, Bu Ratih adalah seorang istri dan Ibu rumah tangga yang harus memprioritaskan keluarganya.


Pihak kampus juga sangat berterima kasih karena jasa Bu Ratih saat mengajar di kampus tersebut lumayan besar. Dan mengijinkan kembali kalau sewaktu-waktu Bu Ratih berubah pikiran. Bu Ratih juga sangat berterima kasih karena diberi kesempatan untuk mengajar dikampus tersebut.


Pagi ini Bu Ratih akan pergi ke kampus seperti biasa. Ada beberapa tulisan yang akan diselesaikan dengan Dosen pembimbingnya. Prestasi Bu Ratih di kampus ini saat menjalani kuliah S3 selama ini memang sangat banyak. Ada beberapa predikat yang disematkan dalam dirinya.


Sampai pada akhirnya ada tawaran untuk mengajar di kampus tersebut. Tidak semua orang bisa mengajar di kampus itu dengan mudah, karena kampus itu tergolong kampus Negri yang terkenal di kota itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini akhirnya sekolah yang didirikan oleh Bu Ratih resmi dibuka. Banyak yang hadir dalam acara tersebut. Pak Indra dan istrinya datang dari Jakarta. Begitu dengan teman-teman Bu Ratih juga datang semua.


Acara tersebut dimulai sekitaran jam sepuluh pagi. Semua keluarganya ikut menghadiri acara itu. Termasuk anak dan suaminya. Semangat Bu Ratih terpancar dari sikap dan senyuman saat mau berangkat ke tempat acara.


Dia selalu tersenyum karena apa yang dicita-citakannya selama ini sedikit lagi akan terwujud. Sebuah tempat untuk memfasilitasi anak-anak yang kurang mampu untuk terus dapat melanjutkan pendidikan yang memang mereka butuhkan.


Setelah sampai, dia melihat sudah siap semua segala sesuatunya. Semua yang ditugaskan untuk menjadi panitia acara peresmian sekolah ini adalah para guru pengajar dan staf yang akan bertugas di sekolah ini kelak.


Para tamu undangan dari kalangan guru dari beberapa sekolah dan wali murid yang nantinya akan bersekolah disitu sudah ada beberapa yang hadir.


Bu Rayih kembali mengecek apa saja yang kurang, dari tenda, kursi serta panggung buat acara sudah siap semua. Tidak lupa konsumsi dan peralatannya juga siap. Dia senang banget karena acara ini bisa terealisasi dengan lancar.

__ADS_1


Gavin senang sekali dengan berdirinya sekilah istrinya ini. Dia melihat ada aura kesuksesan dalam diri istrinya. Dari dulu istrinya memang ingin mewujudkan mendirikan sebuah sekolah, khususnya buat anak-anak yang kurang mampu.


Cita-cita yang sungguh mulia dan sangat menyentuh hati Gavin. Dia bangga dengan istrinya yang selalu membuat orang lain bahagia.


"Sayang, aku bangga banget sama kamu. Akhirnya kamu bisa mewujudkan cita-citamu." ucap Gavin.


"Ini juga berkat dukungan kamu, dan semuanya. Aku juga bangga punya suami kamu." jawab Bu Ratih.


"Ya sudah, kamu siap-siap. Acara sebentar lagi dimulai. Aku duduk sana dulu, ya?" ucap Gavin sambil menunjuk kursi yang sudah siapkan panitia.


"Iya, sayang."


Akhirnya acara peresmian sekolah dimulai, pembawa acara sudah membacakan susunan acara tersebut. Semua tamu undangan sudah banyak yang datang dan ada juga para awak media untuk meliput acara ini.


Pertama-tama acara sambutan yang dibawakan oleh orang-orang yang terkait. Bu Ratih dengan lancar memberikan sambutan dihadapan para tamu undangan. Dia begitu tenang dan lancar dalam memberikan sepatah dua kata.


Akhirnya tak terasa sudah sampai di akhir acara. Kini tinggal pemotongan pita dan tumpeng. Semua jajaran calon guru yang akan mengajar di sekolah itu sudah berkumpul dan ikut meramaikan pemotongan pita dan tumpeng tersebut.


Sekolah menengah pertama yang di dirikan Bu Ratih ini bernama Sekolah TUNAS HARAPAN, yang artinya bahwa di sekolah ini bakal tumbuh sebuah harapan-harapan baru bagi siswa-siswinya.


Tak terasa sudah di penghujung acara, dan pembawa acara sudah akan menutup acara tersebut. Sebagai pembaca doa, Bu Ratih menyerahkan kepada Guru Agama sekolah ini.


"Alhamdulilah, akhirnya acaranya pun selesai dan berjalan dengan lancar." ucap Bu Ratih saat duduk dengan keluarganya.

__ADS_1


"Iya, Tih. Papa ikut senang, akhirnya kamu punya sekolah juga." jawab Pak Indra.


"Makasih atas supportnya, ya Pa?" ucap Bu Ratih.


"Iya, Nak. Semua itu sudah menjadi kewajiban Papa." jawab Pak Indra.


"Iya, sayang. Aku juga ikut senang dan bangga. Akhirnya acara ini bisa berjalan lancar dan nggak kurang suatu apapun." sahut Gavin.


Semua para calon Guru satu persatu memberikan selamat kepada Bu Ratih atas diresmikannya sekolah ini. Dari semua tamu undangan ada salah satu tamu perwakilan dari para Guru di sekolah lain.


"Bu Ratih, selamat ya." ucap Pak Renhard.


"Oh iya, Pak. Makasih atas kedatangannya kesini." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Saya mewakili sekolah kami, sekali lagi mengucapkan selamat atas diresmikannya sekolah ini. Mudah-mudahan kedepannya bisa berjalan lancar." ucap Pak Renhard.


"Iya, Pak. Makasih atas doanya." jawab Bu Ratih.


"Saya permisi dulu, ya Bu." ucap Pak Renhard sambil melangkah meninggalkan Bu Ratih.


Bu Ratih berdiri sambil menatap semua yang sekarang sudah terbangun megah di hadapannya. Sambil tersenyum dia menakupkan kedua telapak tangannya dan berucap syukur.


"Akhirnya apa yang aku cita-citakan bisa terwujud juga. Terima kasih padamu Tuhan, Engkau telah memberikan anugerah kepadaku semua apa yang sudah aku miliki. Buat suamiku, anak-anakku dan keluargaku semuanya, dukungan serta doa kalian yang membuat aku bisa seperti ini." ucap Bu Ratih dalam hati.

__ADS_1


--------------------------------


Bersambung...


__ADS_2