BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 161 (Kekawatiran Kasih)


__ADS_3

Pagi harinya Kasih membantu Ibunya didapur seperti biasa sebelum mengantar Gazi dan ke kantor, dia menyiapkan semua keperluan Gazi.


Semalam Rahman pulangnya malam karena habis berselisih dengannya. Bu Laksmi memperhatikan anaknya nggak seperti biasanya.


"Sih, suamimu belum bangun?" tanya Bu Laksmi.


"Belum, Bu. Semalam dia baru pulang jam satu tadi." jawab Kasih datar.


"Emang dia dari mana, kok jam segitu baru pulang." tanya Bu Laksmi lagi.


"Kasih nggak tahu, Bu. Biarkan saja."


"Bunda, Gazi nanti nggak usah bawa bekal, soalnya teman Gazi ada yang ulang tahun." ucap Gazi tiba-tiba.


"Oh iya, Nak. Terus sudah bawa kado?" tanya Kasih.


"Sudah, kemarin aku sama Nenek sudah beli." ucap Gazi.


"Oh ya, emangnya dibelikan apa temannya.?"


"Kata Nenek dibelikan barang yang bermanfaat. Kemarin Nenek belikan tas sekolah." jawab Gazi.


"Bu, kok Ibu nggak bilang sama Kasih kalau beli kado buat temannya Gazi.?"


"Ibu nggak mau ganggu waktu kamu, Nak. Kemarin kan Gazi libur, lalu Ibu antar ke toko peralatan sekolah didekat jalan raya depan itu. Kamu pas belum pulang." jawab Bu Laksmi.


"Makasih ya Bu. Maaf Kasih terlalu sibuk dengan kerjaan. Jadi urusan Gazi Ibu yang urus." ucap Kasih.


"Nggak apa-apa, Nak. Itu juga menjadi tugas Ibu." jawab Bu Laksmi.


"Ayo, Nak. Sudah jam enam. Nanti kamu terlambat." ucap Kasih.


"Iya, Bun. Gazi sudah selesai kok."


"Bu, Kami berangkat dulu, ya. Nanti kalau Mas Rahman bangun bilang saja Kasih sudah berangkat." ucap Kasih sambil menyalami tangan Ibunya.


Gazi mengikuti menyalami Neneknya seperti Bundanya. Kebiasaan rutin tiap pagi hari sebelum berangkat beraktivitas.


Mereka berangkat diantar sopir pribadi Kasih, karena Rahman punya kerjaan sendiri. Dia punya toko sembako yang lumayan rame. Ada lima karyawan yang dipekerjakan di tokonya. Tiap hari Rahman ke toko hanya sekedar mengecek saja. Ada satu karyawan yang dia percaya buat buka tutup toko.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat dikantor, Kasih dikejutkan dengan salah satu stafnya yang berlari mendekati dirinya.


"Bu, Bu Kasih.,!" teriaknya.


"Ada apa, Nin?" jawab Kasih.


"Maaf, Bu. Barusan saya dapat telpon dari Solo, bahwa salah satu tempat produksi batik kita kebakaran.!" seru Nina.


"Apa.,!"


"Iya, Bu. Semuanya hangus dilalap si jago merah." jawabnya.

__ADS_1


"Tapi, nggak ada korban jiwa, kan?" tanya Kasih.


"Belum tahu, Bu. Infonya baru tentang kebakaran saja." jawabnya lagi.


"Baiklah, nanti saya coba cek lagi." jawab Kasih.


Kasih langsung masuk ruangannya dengan pikiran yang kemana-mana. Dia langsung menelpon Pak Manto yang kebetulan ada di Jogja.


"Hallo, Pak Manto. Apa sudah mendengar kabar soal pabrik kita yang di Solo?" tanya Kasih ditelpon.


"Iya, sudah Bu. Ini malah mau telpon Bu Kasih." jawab Pak Manto.


"Ya sudah, Pak Manto coba cek langsung ke lokasi. Nanti langsung kabari saya, ya?"


"Baik, Bu.!"


Kasih menutup telponnya. Dia langsung menelpon suaminya. Tapi, sayangnya ponselnya nggak aktif. Apa masih tidur. Batinnya.


"Apa aku harus ke Solo sekarang, ya." ucapnya dalam hati.


Kasih mencoba untuk tenang dan nggak panik. Dia mencoba hubungi orang kepala pabrik yang di Solo. Tapi, hasilnya nihil juga. Ponselnya pada nggak aktif semua.


Akhirnya dia keluar ruangan menuju ruangan HRD.


"Bu, Hany. Tolong, pesankan saya pesawat hari ini yang ke Solo." titah Kasih.


"Baik, Bu.!"


.


.


.


Dirumahnya Kasih, Rahman sudah bangun dan mencoba mengecek ponselnya. Rahman kaget setelah membaca pesan dari istrinya. Matanya langsung membulat karena tak percaya dengan yang dia baca barusan.


"Bu, Bu Laksmi.!" panggilnya sambil berlari.


"Iya, Nak Rahman. Ada apa?" jawab Bu Laksmi.


"Bu, tempat produksi batik yang di Solo kebakaran.!" serunya.


"Apa.!"


"Iya, Bu. Ini Kasih kirim pesan kepada saya. Dia hendak terbang langsung ke Solo." jawab Rahman.


"Ya ampun, Kasih.! kamu yang sabar, ya Nak." gumam Bu Laksmi.


"Bu, biar saya ikut Kasih ke Solo, ya Bu?" tanya Rahman.


"Terserah kamu, sebaiknya begitu biar dia ada temannya." jawab Bu Laksmi.


Rahman langsung telpon Kasih. Ternyata dia belum berangkat, karena dapat pesawat yang penerbangan kedua, nanti jam sepuluh. Jadi dia nggak belum pesan. Rahman melihat jam masih jam setengah delapan. Dia langsung siap-siap ke Kantor jemput Kasih.

__ADS_1


Setibanya dikantor, Rahman langsung menemui istrinya diruangannya.


"Sayang, gimana?" tanya Rahman sambil memegang tangan Kasih.


"Ya pabrik yang di Solo ludes kena api. Tapi, disana sudah ada orangku yang mengurus. Cuma aku kesana kan untuk memastikan ada korban jiwa apa nggak?" jelas Kasih.


"Terus kamu sudah pesan ticketnya?" tanya Rahman lagi.


"Tadinya Bu Hany tak suruh pesan, tapi dapat penerbangan kedua. Jadi aku batalkan saja." jawab Kasih.


"Kita naik mobil saja, nggak apa-apa lama nanti kita nginap di rumah Ibu di Jogja, gimana?" tanya Rahman.


"Tapi, Gazi sama Ibu gimana.?"


"Kita ajak sekalian saja. Dito belum pulang juga, kan?" tukas Rahman.


"Kamu nyetir sendiri Jakarta-Solo apa nggak capek?" tanya Kasih kawatir.


"Kan lewat Tol lebih cepat, lagian juga ada rest area, Sayang." ucap Rahman.


"Baiklah kalau begitu. Kita siap-siap saja. Aku tak pamit sama Bu Hany." jawab Kasih.


Akhirnya Kasih diantar suaminya ke Solo. Dia akan berangkat satu keluarga ke Solo dengan naik mobil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JOGJA


Bu Ratih sedang mengikuti kuliah seperti biasa. Hari ini jadwal kuliahnya hanya ada satu kelas saja, karena kebetulan Dosennya lagi ada halangan. Sekitar pukul sebelas siang dia sudah keluar kampus. Mau minta jemput Santo nggak jadi karena dia pingin naik taksi saja.


Dalam berjalan keluar kelas, dipanggil temannya Pak Didit.


"Bu Ratih, saya lupa bilang sama Anda. Soal kontrakan, iya saya pakai terus. Saya nyaman dikontrakan saudara Bu Ratih itu. Mau hubungi saudara Ibu nomornya lupa belum kesimpan." ucap Pak Didit.


"Oh iya, Pak. Nanti saya sampaikan ke Mbak Retno." jawab Bu Ratih.


"Makasih banyak, ya Bu.!"


"Sama-sama, Pak."


"Ngomong-ngomong Bu Ratih sudah dijemput?" tanya Pak Didit.


"Belum, Pak. Saya naik taksi saja. Lagi pingin naik taksi." jawab Bu Ratih.


"Biar saya antar saja, Bu. Kebetulan saya sudah bawa mobil dari Surabaya." tawar Pak Didit.


Bu Ratih diam dan belum jawab. Dia nggak enak kalau dilihat tetangga, apalagi suaminya lagi ke luar kota. Pak Didit mengerti kenapa Bu Ratih nggak berani jawab iya apa nggak.


"Bu, kalau memang Bu Ratih nggak nyaman juga nggak apa-apa." ucap Pak Didit.


--------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2