BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Part : 38 (Rencana tunangan)


__ADS_3

..........................................


Gavin segera menutup ponselnya. Dia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, dia kemudian turun menuju meja makan. Disitu sudah tampak Bu Ratih dan Kinanti sudah menunggu.


"Pagi semua., nunggu lama, ya?" ucap Gavin setibanya di meja makan.


"Nggak juga, kita juga baru aja disini. Ini yang nyiapin Ratih lho, Vin." ucap Kinanti seraya melirik Bu Ratih.


"Kak Kinan, apaan sih. Aku cuma bantuin Bibi aja, kok." sahut Bu Ratih malu-malu.


"Sayang, habis sarapan langsung aku antar kamu pulang, ya? sekalian aku ada perlu dengan Mas Bagas." ucap Gavin.


"Lho.! kenapa keburu, Kakak sendirian dech." sahut Kinanti.


"Iya, Kak. Gavin ada perlu sama Mas Bagas urusan kantor. Jadi sekalian aja Ratih aku antar pulang." jawab Gavin.


"Iya, nggak apa-apa. Kakak kan ada Bibi." jawab Kinanti sambil senyum.


Kemudian Bu Ratih mengambil nasi goreng untuk Gavin. Mereka bertiga akhirnya menikmati sarapan dengan lahapnya. Setelah selesai, Gavin lalu minum susu hangat yang sudah disediakan.


"Sudah seleasai, sayang. Ayo kita berangkat." ucap Gavin.


Bu Ratih mengangguk, kemudian dia masuk ke kamar Kinanti dan mengambil tas. Setelah itu keluarlah mereka berdua menuju teras.


Kinanti mengantar kedua sejoli yang lagi dimabuk cinta itu sampai teras depan. Terlihat Bu Ratih berpelukan dan cipika cipiki dengan Kinanti. Kemudian Gavin melajukan mobilnya meninggalkan rumah.


Dalam perjalanan Gavin terdiam dan sering terlihat nggak fokus. Bu Ratih melihat ada yang beda dengan diri kekasihnya itu. Akhirnya dia memulai pembicaraan.


"Sayang, ada apa sih? kok kamu diem gitu?" tanya Bu Ratih.


"Emm, nggak ada apa-apa, sayang. Aku cuma kepikiran Papa, aja." jawab Gavin bohong.


"Beneran, tidak ada yang lain?" tanya Bu Ratih lagi.


"Iya, sayang." jawab Gavin pelan.


Bu Ratih masih nggak percaya dengan jawaban Gavin barusan. Pasti ada yang dia sembunyikan. Bathinnya.


"Tapi, kalau ada apa-apa, kamu cerita sama aku, ya?" ucap Bu Ratih.


"Iya, pasti itu." sahut Gavin seraya membelai rambut kekasihnya itu.


Kemudian mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Sampai ahkirnya sampai juga di rumah Bu Ratih. Gavin memarkirkan mobilnya di halaman. Kemudian keluarah mereka angsung masuk rumah.


Di ruang tengah sedang ngumpul semua. Bagas, Irene, Winda serta Bu Rahma.


Gavin dan Bu Ratih langsung aja masuk katena pintu tidak ditutup.


"Assalamualaikum.." ucap Bu Ratih.

__ADS_1


"Waalaikumsalam.." jawab Winda.


Kemudian yang lain mengikutinya. Gavin menyalami semuanya yang ada di situ. Kemudian dia ikut duduk.


"Gimana, Vin keadaan Pak Indra. Nggak ada yang parah, kan?" tanya Bagas.


"Alhamdulilah, nggak ada Mas. Kemarin aku langsung telfon Kak Mahen setibanya dia disana." jawab Gavin.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Bagas.


"Oh iya, Vin. Mas ada perlu sama kamu." ucap Bagas seraya mengajak Gavin pindah dari tempat itu. Gavin berdiri mengikuti Bagas melangkah keluar. Bagas mengajak Gavin duduk ditaman.


"Vin, aku kaget mendengar kabar kalau Seno sudah bebas. Tapi kabar itu benar atau masih simpang siur." ucap Bagas.


"Emang, dulu dia divonis berapa tahun, Mas?" tanya Gavin.


"Aku juga kurang ngerti, yang jelas lebih dari empat sampai lima tahun." jawab bagas.


"Iya, juga sih. Tapi kita mggak usah mempermasalahkan dia berapa tahun, Mas. Yang penting Ratih jangan sampai tahu ini, karena akan membuat dia jadi trauma." ucap Gavin.


"Iya, Vin. Tapi, kita kan nggak bisa awasi Ratih dua puluh empat jam penuh. Kita punya aktivitas sendiri-sendiri." jawab Bagas bingung.


"Tenang, Mas. Aku akan suruh anak buah Papa yang awasi. Misal Seno memang bener-bener bebas, orang suruhan Papa akan yang pantau dia." ucap Gavin.


"Baik, Vin. Makasih, ya?" tukas Bagas.


"Gimana perusahaan, aman kan?" tanya Bagas.


"Iya, Mas. Cuma kemarin malam aku diajak ketemuan sama Ferry. Dia minta hitam diatas putih soal proyek yang di Bali. Sebenarnya bukan itu yang jadi masalah, si Ferry mau mendekatkan anaknya sama aku, Mas. Aku jadi kawatir kalau dia nekad atau melakukan hal-hal yang tidak diinginkan." Terang Gavin.


"Kita nggak boleh gegabah, Vin. Semuanya harus dihadapi dengan hati-hati." jawab Bagas.


"Apa aku harus memajukan rencana tunanganku sama Ratih, Mas?" ucap Gavin.


"Kalau memang itu bisa menjadi solusi terbaik, kenapa enggak?" jawab Bagas.


"Dulu, kita berencana tunangan disaat aku sudah setahun bekerja. Tapi kalau situasinya seperti ini, aku bisa ajukan." ucap Gavin.


"Aku sih ngikut aja, Vin. Tapi Papa kamu masih sakit.?" tanya Bagas.


"Iya, nunggu kabar dari Kak Mahen, sekiranya Papa sudah bisa dibawa ke Jakarta, aku akan segera melangzungkan tunangan itu." ucap Gavin.


"Baiklah, seperti itu juga bagus. Kita tunggu kabar dari Papa kamu aja dulu." ucap Bagas.


Tak lama kemudian Bu Ratih mencari mereka kedepan. Akhirnya mereka bertiga masuk rumah. Bu Rahma menyiapkan cemilan buat santai di hari libur. Gavin dan Bagas bergabung lagi di ruang tengah.


"Ma, mungkin kalau Pak Indra sudah bisa dibawa ke Jakarta, Gavin akan melaksanakan tunangannya dengan Ratih." ucap Bagas.


"Bener, Nak gavin. Kata Ratih kalian sepakat tunangan jika Nak Gavin sudah setahun dalam bekerja.?" tanya Bu Rahma.

__ADS_1


"Lho,! Iya, sayang. Kenapa diajukan.?" timpal Bu Ratih.


"Iya, Tih. Aku mau acara tunangan kita di percepat." jawab Gavin.


"Apa, Mas Bagas ngajak kamu bicara diluar tadi untuk menyuruh kamu mempercepat tunangan kita?" tanya Bu Ratih.


"Enggak, sayang. Mas Bagas nggak ada hubungannya dengan semua ini, karena ini murni kemauan, aku." ucap Gavin.


"Iya, Tih. Mas nggak maksa atau nyuruh Gavin untuk segera melamar kamu, kok!" ucap Bagas.


"Tapi, kenapa tiba-tiba kamu ingin memajukan acara tunangan kita?" tanya Bu Ratih penasaran.


"Ya, aku pingin segera menghalalkan kamu, sayang!" jawab gavin sambil ngedipin matanya.


Yang lain spontan tertawa melihat tingkah Gavin. Mereka senang karena Gavin dan Bu Ratih segera melangsungkan pertunangan. Tidak terkecuali dengan Gavin dan Bu Ratih sendiri, mereka berdua memasang muka malu-malu.


Gavin memandang wajah kekasihnya itu dengan penuh kasih, yang diperhatikan jadi salah tingkah.


"Nanti soal cathering biar Kakakmu aja yang urus, sekalian promosi." ucpa Bagas seraya memeluk Irene.


"Siap, Mas." jawab Bu Ratih.


Disaat mereka lagi ngobrol-ngobrol, tiba-tiba ponsel Gavin berdering.


[" Hallo, iya Kak. ada apa"]


["..........."]


["Alhamdulilah.., kapan, Kak?"]


[".............."]


["Baiklah, nanti sore aku jemput di Bandara."]


["................"]


["Baik, Kak. Hati-hati."]


Gavin menutup ponselnya. Kemudian dia tersenyum kesemua yang ada disitu.


"Alhamdulilah, Papa hari ini sudah boleh pulang." ucap Gavin sambil tersenyum kegirangan.


"Apa! Alhamdulilah, akhirnya semua baik-baik saja." jawab Bu Ratih.


"Syukurlah, Vin. Rencana tunangan kalian akan segera dilaksanakan.


Gavin akhirnya pamit pulang, karena akan memberi tahu Kakak iparnya. Setelah pamit kesemua, Gavin meninggalkan rumah Bu Ratih dan menuju mobilnya. Dalam perjalanan pulang, dia tak henti-hentinya mengucap syukur. Akhirnya dia dan Bu Ratih segera bertunangan.


Next...............(39).

__ADS_1


__ADS_2