BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 129 (Raka rewel)


__ADS_3

Gavin akhirnya menelpon Dokter keluarga. Meskipun Kasih nggak mau, tapi, Bu Ratih tetap ingin panggilkan Dokter buat ngecek Kasih.


"Mbak, sebenarnya nggak usah dipanggilkan Dokter nggak apa-apa." tukas Kasih.


"Nggak apa-apa, itu penting buat kamu. Kalau berbahaya gimana. Udah kamu nurut aja. Semuanya demi kebaikan kamu." jawab Bu Ratih.


"Iya, kamu ini apaan sih kok nggak mau. Kalau ada apa-apa sama kamu, apa kamu nggak kasihan sama anak kamu!" seru Gavin serius.


Kasih tertunduk nggak berani menatap wajah Gavin. Dia ketakutan karena suaminya mulai marah. Bu Ratih yang melihat Kasih ketakutan langsung mendekatinya.


"Sudah kamu nurut aja, ya. Kita melakukan semua ini semata-mata karena kita semua sayang sama kamu." ucap Bu Ratih.


"Iya, Mbak. Maaf kalau aku merepotkan kalian." ucap Kasih.


"Sssttt..! kamu ini ngomong apaan sih. Kita semua ini sayang sama kamu. Lihat tuh, Raka mgeliatin Ibunya terus." jawab Bu Ratih sambil mengambil Raka dari gendongan Kasih.


"Maafin aku, ya Sih. Tadi aku nggak bermaksud bicara keras sama kamu. Tapi, itu karena aku peduli dan nggak mau terjadi apa-apa sama kamu." ucap Gavin.


"Iya, Mas. Maafin aku juga yang keras kepala." ucap Kasih sambil berdiri dan pindah ke kamar Raka.


Tak lama kemudian terdengar bel diluar. Gavin seketika langsung beranjak dan melihat siapa yang datang. Dan ternyata Dokter Hera langganan keluarga Indra wijaya. Dia langsung menuju kamarnya Raka. Karena Kasih saat ini menempati kamar itu.


Saat tiba diruang tengah, Gavin mengambil alih Raka dari Bu Ratih, karena Bu Ratih akan mengantarkan Dokter ke kamar Kasih.


Dokter memeriksa Kasih ditungguin Bu Ratih. Sedangkan Raka digendong Gavin di ruang tengah. Gavin begitu senang saat menggendong anaknya. Sesekali mencium pipinya Raka.


Tak lama kemudian Dokter Hera dan Bu Ratih keluar kamar. Mereka kemudian ikut duduk diruang tengah. Akhirnya Dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Kasih.


"Maaf, Mas Gavin. Saya memang bukan Dokter kandungan. Saya hanya Dokter umum, tapi setidaknya kalau kasus yang dialami Mak Kasih ini saya mengerti. Ini mungkin disebabkan dia saat melahirkan mengalami PEB(preeklamsia berat). Tekanan darah yang tinggi sehingga persalinannya melalui operasi. Bisa sih secara normal, cuma mungkin resikonya lebih besar. Sedangkan kaki bengkak, wajah bengkak bahkan pusing itu sederatan efek dari PEB tersebut. Selama masa nifas belum selesai, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya bisa diperiksakan lebih lanjut." jelas Dokter Hera.


"Makanan apa yang harus dihindari?" tanya Gavin.


"Kalau makanan cenderung jangan boleh terlalu asin." jawab Dokter.


"Tapi, sekarang Kasih nggak apa-apa, kan." tanya Bu Ratih.


"Nggak, Mbak. Sebaiknya hindari makanan yang cenderung asin." jawab Dokter Hera.


"Makasih Dok, nanti saya akan bawa Kasih periksa lebih lanjut." sahut Gavin.


"Iya, sama-sama Mas Gavin. Oh ya, ini anaknya Kasih. Lucu banget, ganteng lagi.!" seru Dokter Hera sambil memegan tangan mungil itu.


"Iya, Dok. Ganteng kayak Papanya." jawab Gavin sambil tersenyum.


Akhirnya tak lama kemudian Dokter Hera pamit dan meninggalkan rumah Gavin. Kini Gavin dan Bu Ratih kembali ke ruang tengah. Raka masih digendong sama Gavin. Dia nggak canggung sama sekali saat gendong anak kecil.


(***)


Keesokan harinya Gavin membawa Kasih kerumah sakit untu memeriksakan lebih lanjut. Setelah diperiksa, ternyata Kasih harus tinggal untuk dirawat karena akan dilakukan observasi. Untuk masalah menyusui, Dokter menyarankan biar air susu Ibu nya dipompa saja, karena nggak mungkin kalau bayinya yang bolak-balik rumah sakit.


Setelah itu Gavin menjemput Ibunya Kasih guna menunggui Kasih dirumah sakit. Soal bayinya biar dia yang urus sama Bu Ratih. Selama Ibunya Kasih dirumah sakit, Bu Hesty berganti membantu mengurus bayinya Gavin. Karena Gavin dan Bu Ratih juga bekerja.


.


.


.


Saat sore harinya Raka digendong Bu Hesty. Dia hari ini agak rewel, menangis terus padahal Asi yang siang tadi juga sudah cukup untuk diminumkan. Bu Hesty dibantu Bibi untuk menenangkan Raka. Sedangkang Gavin dan Bu Ratih belum pulang. Apalagi nanti sepulang kerja mampir ke rumah sakit ambil Asi nya Raka jadi mungkin sedikit telat.

__ADS_1


"Bi, kenapa ini kok nangis terus, ya. Padahal kan Asinya terus diminum." tanya Bu Hesty kebingungan.


"Mungkin Den Raka gerah, Nya. Coba dibawa keruang tengah saja. Biasanya Mbak Kasih sama Non Ratih selalu mengajaknya duduk disitu." ucap Bibi.


"Padahal kan AC nya sudah cukup, ya sudah coba kita bawa kesana aja, Bi." jawab Bu Hesty.


Akhirnya bu Hesty dan Bibi menuju ruang tengah untuk menenangkan Raka. Dilihat jam sudah hampir pukul lima sore.


"Kenapa mereka belum sampai juga" ucap Bu Hesty dalam hati.


Tak lama sekitar setengah jam kemudian, terdengar ada mobil datang. Ternyata Gavin dan Bu Ratih datang. Mereka langsung masuk kedalam dan bersih-bersih dulu setelah itu membantu menenangkan Raka.


"Hallo anak Mama, kenapa nangis cayannk, cup..cup.." seru Bu Ratih sambil mengambil alih Raka dari gendongan Mertuanya.


"Iya, Tih. Mama dari tadi bingung kenapa Raka rewel terus." jawab Bu Hesty.


Anehnya dia langsung diam saat digendong Bu Ratih. Bu Hesty dan Bibi langsung lega karena dari tadi rewel. Bu Ratih dengan telaten menggendong Raka, dia mengayunkan badannya supaya Raka diam. Tak lama kemudian dia tertidur dalam gendongan Bu Ratih.


"Ini dia sudah tidur, Ma." ucap Bu Ratih.


"Kamu sudah pinter sekali menenangkan dia, Tih. Mungkin dia juga tahu, kalau kehadirannya dia didunia ini, kamu juga menginginkannya." jawab Bu Hesty.


"Iya, Ma. Untung sama Ratih dia nggak rewel. Misal kalau ditinggal Kasih seperti sekarang kan kita nggak kesulitan." ucap Bu Ratih.


Tak lama kemudian Gavin ikut nimbrung dengan mereka. Kini dia sudah segar habis mandi dan siap mengajak jagoan kecilnya. Bu Ratih yang melihati suaminya sudah rapi dan siap menggendong Raka, langsung saja dikasihkannya si kecil sama suaminya itu.


"Ini, sekarang Raka dipangku Papa dulu, ya." ucap Bu Ratih sambil mengasihkan Raka sama Gavin.


Bu Ratih masuk ke kamar Raka untuk membersihkan dan menyiapkan tempat tidurnya. Bu Ratih dengan cekatan dan nggak canggung lagi menata tempat tidur Raka. Kamar bayi yang tergolong mewah dengan furniture nuansa biru muda dan ada banyak gambar dan mainan yang tertata rapi.


Box bayi yang bernuansakan warna senada dengan warna kamar itu sudah tertata rapi bersebelahan dengan tempat tidur Ibunya. Semuanya itu Bu Ratih dan Gavin yang menyiapkan sebelum Kasih melahirkan.


"Oh iya, Vin. Gimana keadaan Kasih. Apa mengkhawatirkan?" tanya Bu Hesty.


"Tadi tekanan darahnya sudah stabil. Tapi, kakinya masih bengkak dikit nggak sebesar sebelumnya. Pusingnya juga sudah mendingan Ma." jawab Gavin.


"Syukurlah kalau gitu. Mudah-mudahan nggak kenapa-kenapa." jawab Bu Hesty.


"Iya, Ma." jawab Gavin.


"Mama udah mandi belum? kalau belum biar kita yang jagain Raka. Mama mandi dulu." tukas Bu Ratih.


"Iya, Mama memang belum sempat. Kalau gitu Mama mandi dulu." jawab Bu Hesty.


.


.


.


Malam harinya setelah makan malam. Gavin ke kamar Raka yang sekarang sedang sama Bu Ratih. Dia melihat betapa sayangnya istrinya merawat anak dari istri kedua suaminya. Gavin semakin kagum dengan ketabahan hati Bu Ratih yang dari awal memang menginginkan ha ini.


Dia mendekati istrinya yang lagi tiduran sambil memeluk Raka. Kemudian dia menyentuh pundak istrinya. Seketika Bu Ratih menoleh dan tersenyum melihat ada suaminya disitu.


"Hai sayang, sini lihat nih si Raka. Kalau bobo persis kamu." ucap Bu Ratih.


"Hehe.., iya sayang. Oh iya, aku mau bilang kalau aku malam ini nungguin Kasih dirumah sakit, ya. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gavin.


"Iya, sayang. Nggak apa-apa. Kamu tungguin Kasih. Aku yang jagain Raka." ucap Bu Ratih sambil senyum.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat dulu, ya?" ucap Gavin sambil mengecup kening istrinya.


"Hati-hati.." ucap Bu Ratih.


Gavin meninggalkan kamar Raka dan melangkah keluar. Kini dia masuk mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan dia berpikir, katanya punya dua istri itu enak. Tapi, bagi Gavin kalau prosesnya punya dua istri seperti yang dia alami, mungkin orang akan berfikir mending satu istri saja.


Tapi, takdir berkata lain, dia akhirnya mempunyai dua istri karena suatu hal. Kalau boleh jujur, istrinya itu dua-duanya baik dan keibuan semua. Secara fisik sama-sama cantik, cuma penampilan dan karakternya beda. Bu Ratih cenderung lebih modis dan elegan. Bukan berarti Kasih itu norak dan nggak modis. Cuma dia itu orangnya sederhana.


Selama menjadi istrinya, Kasih nggak pernah menuntut hal yang lebih dari Gavin. Dia seolah tahu dan sadar diri akan posisinya, jadi lebih banyak diam. Gavinpun meraskan hal itu, apalagi diawal-awal pernikahan, Kasih tidak pernah merasakan layaknya pengantin baru yang dimanja-manja suaminya ataupun diajak bulan madu seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.


Kadang Gavin berfikir, selama ini dia jadi suami yang jahat banget, padahal sama Bu Ratih dia diijinkan untuk lebih dekat dan mengenal lebih jauh sama Kasih. Setelah melihat proses kelahiran anaknya tempo hari, Gavin jadi banyak merenung dan menyesal karena selama ini dia kurang perhatian sama istrinya itu.


Bagaimana perjuangan Kasih dalam melahirkan anaknya, meskipun dia tidak melahirkan secara normal, tapi resiko yang dirasakan oleh Kasih saat melahirkan Raka sekarang lebih menghawatirkan.


Dalam hatinya, Gavin akan berusaha menjadi suami yang baik buat Kasih yang sekarang sudah menjadi Ibu dari anaknya. Dia mempertaruhkan nyawanya buat melahirkan anaknnya ke dunia ini. Maka dari itu sekarang dia akan mulai meluangkan waktunya buat Kasih. Apalagi saat-saat seperti ini pasti dia lebih dibutuhkan Kasih.


Akhirnya sampailah dia dirumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya ditempat parkir. Gavin keluar sambil membawa bungkusan makanan buat Ibu mertuanya. Dengan santai dia menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar Kasih, dan akhirnya sampailah dia dikamar Kasih.


Ibu mertuanya sudah tertidur di sofa. Sedangkan Kasih sendiri barusan kebangun gara-gara Gavin membuka pintu kamar. Gavin tersenyum dan mendekati Kasih yang masih terbaring lemah diatas tempat tidur.


"Kamu belum tidur, Sih?" tanya Gavin sambil mendaratkan tubuhnya dikursi disamping tempat tidur Kasih.


"Barusan kebangun, Mas. Kamu bawa apa itu?" tanya Kasih sambil melirik kebungkusan yang dibawa Gavin.


"Oh ini makanan buat Ibu. Tapi, Ibunya sudah tidur." jawab Gavin.


"Oh, taruh diatas meja aja, Mas. Nanti kalau Ibu bangun, biar langsung dimakan." ucap Kasih.


Gavin mendekati Kasih lalu memegang tangan Kasih. Seketika Kasih kaget melihat sikap suaminya yang baru kali ini seperti ini. Kasih spontan jadi kikuk dan gugup.


"Jangan gugup gitu, ingat! sudah ada Raka kok masih gugup kalau tangannya dipegang suaminya." sahut Gavin sambil tersenyum.


"Bukan gitu, aku kaget aja, Mas. Kok tumben-tumbenan kamu bersikap seperti ini." jawab Kasih.


"Aku bersikap seperti ini karena aku mau minta maaf, karena selama ini aku egois sama kamu. Aku hanya mementingkan diriku sendiri dan mengabaikan perasaan istriku. Kamu wanita yang baik dan nggak neko-neko. Kamu ikhlas melahirkan anakku meskipun kamu sendiri tidak mendapat balasan yang layak dari aku. Aku sadar, Sih. Perjuangan kamu dalam melahirkan anak kita itu bertaruh nyawa. Sampai kamu terbaring disini pun juga karena melahirkan anakku. Jadi, mulai sekarang, ijinkan aku menebus semuanya itu dengan memberimu perhatian layaknya perhatian suami kepada istrinya." ucap Gavin sambil tetap memegang tangan Kasih.


"Mas, aku juga minta maaf jika selama aku menjadi istri kamu, aku kurang perhatian dan kurang dekat sama kamu. Itu semua aku lakukan karena aku harus memposisikan diriku sebagai istri kedua kamu yang memang hanya bertugas melahirkan anak kamu saja, nggak lebih." jawab Kasih.


"Nggak Sih, kamu nggak salah kok. Aku yang memang selama ini yang keras kepala. Padahal Ratih pun sudah mengijinkan aku untuk lebih dekat dengan kamu." ucap Gavin sambil matanya berkaca-kaca.


Kasih yang mendapati suaminya mau menangis, dia langsung memberanikan diri untuk memegang pipi suaminya. Gavin membalas dengan memegang tangan Kasih yang masih menempel dipipinya. Kemudian Gavin mencoba mengecup kening Kasih dengan lembut.


Kasih memejamkan matanya dan serasa mau melayang. Baru kali ini dia mendapatkan perlakuan Gavin setulus ini. Soalnya selama ini mungkin Gavin melakukan karena alasan dia mau menjalankan tugas sebagai suami saja.


Gavin kini berganti mengcup pipi Kasih lalu memeluknya.


Bu Laksmi yang ternyata terbangun dari tadi hanya bisa melihat dari jauh pemandangan dihadapannya ini sungguh luar biasa. Dia ikut senang kalau anaknya sudah mendapat perhatian dari suaminya. Tak terasa air mata Bu Laksmi pun menetes pertanda bahagia.


"Sekali lagi maafin aku, ya Sih. Aku juga berterima kasih karena kamu telah melahirkan anakku dengan selamat." ucap Gavin seraya melepaskan pelukannya.


"Iya, Mas. Aku melakukan ini memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang Ibu." jawab Kasih sambil senyum kearah Gavin.


Gavin pun tersenyum sambil memegang tangan Kasih. Mereka akhirnya berdamai dengan keadaan. Kemudian Gavin mencoba membantu Kasih untuk makan dan mengambilkan minuman.


Tak terasa malampun semakin larut, kini Gavin ikut tertidur disamping Kasih dengan posisi duduk dan kepala disandarkan diatas kasur. Tangan Kasih memegang kepala Gavin dan membelai rambut Gavin.


---------------------------------


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2