
Bara dan Wendi buru-buru menyusul kerumunan itu ke ruang Dekan. Bara hanya pingin memastikan siapa pemilik jaket itu.
"Tunggu,!" teriak Bara saat sebelum masuk ke ruang Dekan.
Seketika mereka berhenti saat Bara memanggilnya. Bara mencoba mendekati dua orang mahasiswa yang sedang diarak ke ruang Dekan.
"Kamu,!" seru Bara.
Seketika orang yang disekitar kaget, karena Bara mengenali siapa dua mahasiswa yang berantem itu.
"Sebentar, kamu kan tempo hari menyerang saya di dekat pom bensin?" tanya Bara.
"Apa, Bar? Mereka yang menyerang kamu?" kini Wendi ikut bersuara.
"Iya, Wen. Mereka lah yang menyerangku sampai kepalaku seperti ini!" jawab Bara sambil menunjuk perban yang membalut kepalanya.
"Wuaaah kalau ini tidak boleh dibiarkan, Bar. Kita kasih pelajaran saja." ucap Wendi sambil tangannya sudah mau mendaratkan bogem mentah kearah mahasiswa itu.
"Stop..stop,! Jangan Wen, biar kampus aja yang menyelesaikannya. Kita lihat saja." tukas Bara sambil memegang tangan Wendi.
"Baiklah, kita bawa ke ruangan Dekan." ucap Wendi.
Ketika di jalan saat menuju ruangan Dekan, mereka berpapasan demgan Bu Ratih. Bara kaget katena dihadapannya ada Bu Ratih. Sedangkan Bu Ratih sendiri kaget kok Bara sudah masuk.
"Bara,!"
"Iya, Bu." jawab Bara sambil mencium tangan Bu Ratih.
"Ada apa ini.?" tanya Bu Ratih.
"Ini tadi ketahuan berantem dibelakang gedung, Bu." jawab salah satu mahasiswa yang mengarak tadi.
"Ya sudah, bawa keruangan saya." seru Bu Ratih.
Akhirnya mereka mengikuti Bu ratih dari belakang. Bara dan Wendi juga ikut membawa kedua mahasiswa yang tadi berantem.
"Sudah, yang nggak berkepentingan saya mohon keluar dulu. Kamu Bara jika kamu ada kepentingan juga, kamu boleh tinggal" ucap Bu Ratih sesampainya di ruangan Dekan.
Akhirnya yang lainnya nggak ikut masuk, kini tinggal Bara, kedua mahasiswa itu serta satu mahasiswa yang tadi membawa kedua mahasiswa tersebut.
"Ini sebenarnya ada apa.?" tanya Bu Ratih.
"Ini tadi saya menemukan mereka lagi berantem dibelakang gedung. Lalu saya lerai dan saya bawa kesini tadi."
"Kamu Bara, ada hubungan apa kamu dengan kedua mahasiswa ini kok kamu ikut-ikut kesini.?" Bu Ratih bertanya sambil menatap satu-persatu yang ada di depannya itu.
"Maaf sebelumnya, Bu. Saya kesini lantaran saya mencurigai mereka, kalau melihat jaket yang dia kenakan, dialah yang menyerang saya malam itu." jawab Bara.
Sontak kedua mahasiswa tersebut kaget dan semakin ketakutan. Bara semakin yakin karenseyelah dia mengatakan itu mereka langsung menunduk tanpa berani mendongakan wajahnya.
__ADS_1
"Maaf siapa nama kalian?"
"Saya Wawan, Bu.!"
"Dan saya Budi,!"
"Oh iya, Wawan dan kamu Budi. Apa betul yang diucapkan saudara Bara kalau kalianlah yang menyerang dia pada malam itu.?" tanya Bu Ratih.
Keduanya nggak berani menjawab, mereka langsung menoleh kearah Bara. Kemudian salah satu dari mereka langsung menganggukan kepalanya.
"Iya, Bu. Saya dan teman saya ini yang melakukan penyerangah terhadap dia." jawabnya pelan.
"Kenapa kamu melakukan itu. Apa kalian saling kenal dan merasa ada masalah gitu.?"
"Enggak Bu, kami hanya dimintai tolong saja sama seseorang." jawabnya.
"Apa,!" seru Bara.
"Maaf, siapa yang menyuruh kalian.?" tanya Bu Ratih.
"Kak Dipta.!" jawab dari salah satu mahasiswa itu.
"Dipta.,!" Kini Bara terkejut untuk yang kedua kalinya setelah mendengar nama Dipta.
"Maksud kamu Wahyu Pradipta anak menejemen yang sekarang menjadi asisten Dosen itu.?" pertanyaan Bu Ratih semakin membuka siapa dan mengapa mereka melakukan ini.
"Iya, Bu.!"
"Saya nggak tahu, Bu. Yang saya tahu Kak Dipta bilang kalau dia nggak suka dengan yang namanya Bara. Lalu saya dikasih fotonya dan disuruh pukuli dia." jawabnya.
Bu Ratih masih nggak percaya Dipta melakukan ini. Pasti ini ada yang nggak beres. Kayaknya ada yang disembunyikan.
"Tunggu sebentar, perkataanmu kali ini apa bisa dipertanggung jawabkan.?" tanya Bu Ratih.
"Em, bi..saa,!" jawabnya terbata.
"Kamu kalau jawab yang tegas, jangan terbata gitu !" teriak Bu Ratih.
Kali Bu Ratih sedikit emosi, karena sikap kedua mahasiswa ini plan plan dan nggak tegas.
"Saya panggilkan Dipta, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya Bu, lebih jelasnya dipanggilkan Dipta saja." sahut Bara.
"Baiklah, saya akan panggilkan Ditpa saja." ucap Bu Ratih sembari mbika ponselnya.
Tak lama kemudian Bu Ratih meletakan ponselnya dan kembali menatap kedua mahasiswa didepannya itu.
"Barusan saya sudah menelpon Dosennya Dipta, doa saya suruh kesini.?" ucap Bu Ratih.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit kemudian akhirnya Dipta datang menemui Bu Ratih di ruangannya. Dia kaget karena kok ada banyak orang diluar ruangan Bu Ratih.
"Maaf, Bu. Ada apa kok saya dipanggil kesini.?" tanya Dipta.
"Kamu kenal sama kedua anak ini.?"
Dipta langsung memperhatikan kedua mahasiswa itu, dia bingung karena tidak kenal dengan mereka. Seketika dia langsung menggeleng.
"Tidak, Bu.!"
Bu Ratih langsung menoleh kearah Bara, demikian sebaliknya. Mereka bingung kenapa Dipta nggak kenal sama mereka.
"Tapi mereka bilang kamu yang menyuruh menyuruh melukai Bara.!"
"Apa Bu,!" tanya Dipta dengan penekanan.
"Iya, Bara kemarin lusa diserang orang, dan ternyata pelakunya adalah mereka berdua. Bara mengenalinya dari jaket yang mereka kenakan. Setelah saya tanyain dia mengaku dan yang menyuruh adalah kamu." jelas Bu Ratih.
"Tapi Bu, saya tidak pernah menyuruh siapa-siapa untuk melukai orang. Sumpah, Bu!" jawab Dipta.
"Baiklah, Dipta. Berarti ini memang ada salah faham. Maaf kalau saya secara tidak langsung menuduh kamu." sahut Bara.
"Nggak apa-apa, kamu nggak salah. Berarti kita tanyakan sekali lagi sama mereka siapa dalang yang sebenarnya." jawab Dipta.
"Baiklah kalau begitu, saya tanya sekali lagi sama kalian, siapa yang menyuruh kalian.!" tanya Bu Ratih.
Keduanya menunduk sampai nggak berani menatap wajah Bu Ratih. Bara dan Dipta saling pandang kemudian memberi kode untuk melakukan tindakan.
Dengan satu gerakan Bara dan Dipta langsung menyerang dengan mengangkat kera baju kedua mahasiswa itu, Bu Ratih langsung kaget dan berteriak.
"Tenang Bu, kami tidak akan menyakitinya, kami hanya buat mereka ngaku saja." sahut Dipta.
"Tapi, tolong kalian jangan buat keributan di ruangan saya." jawab Bu Ratih.
"Siap Bu,!"
"Sekarang jawab yang jujur, kalau kamu nggak mau masalah ini akan saya perpanjang!" seru Dipta.
"Kami janji tidak akan melibatkan kalian kalau kalian mau ngaku siapa dibalik penyerangan terhadap saya!" sahut Bara.
Keduanya semakin ketakutan karena kedua seniornya itu sudah membuatnya takut. Perlahan kedua mahasiswa itu saling pamdamg dan menganggukan kepalanya.
"Baiklah, saya ngaku.!"
"Bagus, sekarang bicaralah siapa yang menyuruh kamu?" tanya Bara sambil melepaskan cengkeraman tangannya.
"Kami berdua disuruh sama, Mbak Vera,!"
-------------------------------
__ADS_1
Bersambung...