
Akhirnya Tiara mengikuti Pak Bima keluar ruangan Gavin. Kini Gavin merasa lega karena sejenak terlepas dari masalah Tiara.
Gavin menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Bu Ratih yang melihat suaminya seperti orang yang bingung, langsung dia menghampirinya.
"Sayang, sabar ya. Pasti Mama belum sempat bicara soal ini sama kamu." ucap Bu Ratih.
"Tapi, aku nggak habis pikir, sayang. Mama kenapa begini sih. Seharusnya kan membicarakan soal Tiara sama aku.!" ucapnya.
"Aku juga nggak tahu, sayang. Tapi, kamu jangan sampai marah sama Mama, ya." ucap Bu Ratih.
"Iya, sayang. Ayo kita keliling dulu. Dari pada pusing mikirin si Tiara itu." ajak Gavin.
Akhirnya mereka keluar untuk berkeliling menyusuri tiap ruangan. Gavin dengan telaten menerangkan pada istrinya setiap ruangan per divisinya. Semua karyawan Gavin langsung tunduk hormat ketika melihat pimpinannya lewat.
Bu Ratih kelihatan senang sekali saat diajak berkeliling seluruh penjuru kantor sama suaminya. Dia bangga sama suaminya yang membawahi seluruh karyawan dikantor sebesar ini.
Setibanya diruangan Pak Bima. Tiara masih sibuk di interview sama Pak Bima. Gavin kemudian masuk, sedangkan Bu Ratih menunggu diluar.
"Gimana, Pak Bima. Apa interview nya sudah selesai?"tanya Gavin.
Tiara yang melihat Gavin masuk, langsung saja dia berdiri dan menghampiri Gavin sambil mepet-mepet kayak udah kenal aja. Batin Gavin.
"Vin, kok harus seperti ini, sih. Kan Tante Hesty bilang kalau saya langsung masuk dan diterima." ucapnya Manja.
Gavin jadi risih sendiri melihat tingkah Tiara yang kayak anak paud aja. Dia mencoba menghindari Tiara dengan alasan dia mau makan siang sama istrinya.
"Maaf, Pak Gavin. Iya ini sudah selesai." jawab Pak Bima.
"Ya sudah, kalau gitu Pak. Saya tinggal makan siang sama istri saya, ya. Untuk penempatan Nona Tiara dimana, Pak Bima yang menentukan sesuai dengan kebutuhan personilnya." ucap Gavin sambil meninggalkan ruangan Pak Bima.
"Baik, Pak.!"jawabnya.
Gavin meninggalkan kantor dan mengajak istrinya keluar. Mereka menuju parkiran mobil dan meninggalkan kantornya.
Dalam perjalan, ekspresi muka Gavin seperti orang marah.
Ternyata Gavin mengajak Bu Ratih Pulang ke rumah Gavin. Dia memasukan mobilnya ke halaman rumah. Kemudian mereka masuk kedalam.
"Mama,!" teriak Gavin sambil mendaratkan tubuhnya disofa ruang tengah.
Sedangkan Bu Ratih ketakutan jika nanti suaminya akan marah soal kejadian di kantornya. Bu Ratih mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus punggung suaminya.
Tak lama kemudian, Bu Hesty keluar dari kamar. Kemudian dia ikut duduk diruangan tengah.
"Ada apa, Vin?" tanya Bu Hesty.
"Ma, kenapa Mama nggak cerita sama Gavin soal Tiara, sih Ma!" ucap Gavin.
"Oh Tiara, apakah dia sudah datang ke kantormu?" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Iya, sudah Ma. Cuma Gavin nggak suka dengan sikapnya. Masa masuk ruangan kerja orang seenaknya sendiri. Berasa dia yang jadi pimpinan aja." sahut Gavin ketus.
"Maafkan dia, Vin. Mungkin dia merasa sudah kenal sama keluarga kita. Jadi menganggap kantor itu seperti kantornya sendiri." jawab Mamanya.
"Ya nggak gitu juga, Ma. Keluar masuk kantor orang itu ya ada tata kramanya. Gavin bingung dengan sikap Mama akhir-akhir ini. Kenapa kalau memutuskan sesuatu tanpa ada rundingan dulu." jelas Gavin.
"Mama pikir kan sama aja, Vin. Toh, nantinya dia akan diterima kerja juga." jawab Bu Hesty
"Gavin nggak suka aja sama sikap dia. Kayak nggak punya tata krama aja." jawab gavin ketus.
"Ada apa ini, Gavin kamu kok sudah dirumah?" tanya Pak Indra yang baru saja masuk.
"Iya Pa, Gavin ini tadi menanyakan soal anak temannya Mama yang mau melamar kerja dikantor. Dia bilang Mama yang nyuruh." jawab Gavin.
"Terus, apa dia sudah di test seperti biasa yang mau melamar kerja.?" tanya Pak Indra.
"Sudah, Pa. Tadi sudah diurus sama Pak Bima. Gavin malas aja berurusan sama gadis itu." jawab Gavin sebel.
"Ya, sudah. Kalau gitu biar besok Papa yang urus. Sekarang kamu balik kekantor dan bilang sama Pak Bima kalau besok Papa kesana. Tolong, suruh Gadis itu kembali besok pagi.!" titah Pak Indra.
"Baik, Pa." jawab Gavin.
Kemudian Gavin melangkah meninggalkan rumahnya. Bu Ratih mengantarnya sampai depan, setelah itu dia menuju dapur untuk minum dan kemudian masuk kemarnya.
Sedangkan diruang tengah Pak Indra dan Bu Hesty melanjytkan ngobrol-ngobrolnya. Pak Indra menyayangkan tindakan istrinya yang gegabah dalam memutuskan sesuatu. Akhirnya mereka sedikit bersitegang.
"Maaf, Pa. Mama lupa, soalnya Handoko menelpon Mama juga mendadak." jawab Bu Hesty.
"Memang anaknya Handoko itu seperti apa, sampai-sampai Gavin enggak mau berurusan sama dia.?" tanya Pak Indra.
"Seingat Mama dulu dia baik. Tapi, nggak tahu lagi kalau sekarang." jawab Bu Hesty.
"Baiklah, besok biar Papa hadapi sendiri. Kalau memang dia nggak berkompeten, maaf saja. Terpaksa Papa akan tolak." ucap Pak Indra.
"Tapi, kalau bisa terima saja lah, Mama kan jadi nggak enak jika dia sampai nggak diterima." ucap Bu Hesty.
"Ya dilihat hasilnya besok, Ma." ucap Pak Indra.
"Pa.! Mama berniat akan menjodohkan dia sama Gavin.!" seru Bu Hesty.
"Apa..,! Apa Papa nggak salah dengar. Membayangkan saja Papa nggak berani, Ma." ucap Pak Indra.
"Kenapa, Pa. Mama kan kenal sama keluarganya. Makanya, saat Mama ngerti kalau dia pingin kerja, Mama tawarin saja kerja dikantor Gavin biar mereka bisa dekat dulu." jelas Bu Hesty.
"Ya ampun, Ma. Kalau mau punya keinginan itu mbok yo dipikir matang-matang. Jangan asal mutuskan saja." ucap Pak Indra.
"Dipikir apanya lagi, sih Pa. Kan sudah jelas. Dia mau Mama jodohkan sama Gavin. Biar nantinya mereka bisa punya keturunan." jawab Bu Hesty.
Pak Indra hanya terdiam saja kalau berdebat sama istrinya. Lebih baik dia duam mengalah dulu, kalau diladeni sekarang, nggak bakal bisa ketemu jawabannya.
__ADS_1
"Kasih,!" teriak Bu Hesty.
Kasih berlalari menuju ruang tengah. Kemudian dia menghampiri majikannya itu.
"Ada apa, Nya?" tanya Kasih.
"Tolong, Panggilin Bu Ratih kesini.!" titahnya.
Tak lama kemudian, Bu Ratih datang dan ikut duduk diruang tengah. Pak Indra hanya geleng-geleng kepala ketika melihat ulah istrinya. Mau apa lagi ini orang, kok sampai memanggil Ratih segala. Batin Pak Indra.
"Tih, sebelumnya Mama minta maaf, ya. Kamu Mama panggil kemari itu untuk menanyakan suatu hal. Apa kamu benar-benar sudah siap kalau suamimu menikah lagi.?" tanya Bu Hesty.
Bu Ratih spontan kaget ketika mendengar pertanyaan mertuannya itu. Dia langsung menunduk supaya Bu Hesty tidak tahu kalau dia hampir menangis.
Tapi, setelah itu Bu Ratih langsung mendongak dan menjawab.
"InsyaAllah Ratih siap, Ma!" jawab Bu Ratih.
"Baguslah. Makasih atas pengertian kamu, ya Tih.?" ucap Bu Hesty.
"Iya, Ma. Ratih sudah siap kok." jawab Bu Ratih.
"Syukurlah, Mama ucapkan terima kasih banyak buat kamu karena telah memenuhi keinginan Mama buat punya cucu dari Gavin." tukasnya.
"Tapi, Ratih minta persyaratan, Ma." ucap Bu Ratih.
"Nggak apa-apa. Persyaratan apa, sayang?" tanya Mama mertuanya.
"Ratih minta nanti hak asuh anaknya Gavin sama istri keduanya itu harus jatuh ketangan Ratih dan Gavin.!" jawab Bu Ratih.
"Apa.! mana mungkin bisa, Tih. Ibu mana yang akan merelakan anaknya buat diasuh oleh istri pertama suaminya.?" jawab Bu hesty.
"Ya memang itu persyaratannya, Ma." jawab Bu Ratih.
"Tapi, kira-kira ada kah wanita yang mau menerima persyaratan itu?" tanya Bu Hesty.
"Ya mungkin saja ada, Ma." jawab Bu Ratih.
"Emang, kamu sudah punya calon buat istri kedua suamimu?" tanya Bu Hesty
"Sudah, Ma.!" jawab Bu Ratih singkat.
"Siapa? apakah Mama kenal sama calon yang kamu ajukan itu?" tanya Bu Hesty menyelidik.
"Kasih.!" ........
----------------------------------
Bersambung....
__ADS_1